Riset Terbaru Soroti WLFI sebagai Pemicu Crypto Crash pada 2025

Sebuah riset terbaru dari Amberdata menyoroti pergerakan tak biasa pada WLFI yang terafiliasi dengan keluarga Trump. Studi tersebut mengindikasikan bahwa altcoin ini berpotensi menjadi sinyal awal tekanan pasar, bahkan sebelum Bitcoin hancur.

Temuan ini mencuat setelah terjadi likuidasi besar-besaran senilai hampir US$6,93 miliar yang mengguncang pasar kripto dalam waktu kurang dari satu jam pada Oktober lalu, memicu penurunan tajam di berbagai aset crypto.

US$6,93 Miliar Terlikuidasi, WLFI Jadi Sorotan

Pada 10 Oktober 2025, pasar kripto mengalami salah satu aksi likuidasi tercepat dan terbesar dalam sejarahnya. Sekitar US$6,93 miliar posisi leverage terhapus dalam waktu kurang dari satu jam, dengan dampak yang meluas ke berbagai aset digital.

Namun, di tengah gejolak tersebut, perhatian analis justru tertuju pada satu token: World Liberty Financial Token (WLFI). Token tata kelola DeFi ini tercatat mulai melemah tajam lebih dari lima jam sebelum pasar utama runtuh.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Saat WLFI mulai terkoreksi, harga Bitcoin masih diperdagangkan di kisaran US$121.000 dan belum menunjukkan tanda tekanan berarti. Menurut Mike Marshall dari Amberdata, penulis riset tersebut, pola ini terlihat tidak lazim.

BACA JUGA:  Ini Penjelasan Terbaru SEC AS Perihal Tokenisasi Sekuritas

“WLFI yang terafiliasi dengan Trump mulai anjlok saat BTC berada di dekat ATH. Pada pukul 20.50, pasar sudah berada dalam kondisi terjun bebas: Bitcoin turun 15 persen, Ethereum merosot 20 persen, dan altcoin berkapitalisasi kecil jatuh 60–70 persen,” jelasnya.

Kejatuhan WLFI sebelum Crypto Crash - Amberdata
Kejatuhan WLFI sebelum Crypto Crash – Amberdata

Pola Anomali WLFI yang Muncul Sebelum Crypto Crash

Amberdata mengidentifikasi tiga pola anomali utama yang terdapat pada WLFI sebelum gelombang jual meluas. Salah satunya adalah lonjakan volume perdagangan yang sangat ekstrem.

Dalam hitungan menit setelah kabar tarif diumumkan, volume per jam WLFI melonjak hingga sekitar US$474 juta, atau sekitar 21,7 kali lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata normalnya.

Kedua, funding rate pada perpetual WLFI menyentuh 2,87 persen setiap delapan jam. Jika dihitung secara tahunan, biaya pinjaman ini setara dengan sekitar 131 persen, angka yang mencerminkan leverage agresif dan tekanan yang tidak wajar.

BACA JUGA:  Tether Gaspol ke Ekonomi Kreator dengan Investasi Terbarunya
WLFI Funding Rate - Amberdata
WLFI Funding Rate – Amberdata

Ketiga, muncul divergensi tajam dari pergerakan harga BTC. Aktivitas perdagangan terlihat sangat terfokus pada WLFI dan tidak menyebar ke seluruh kompleks kripto, sehingga anomali tersebut tampak jelas.

“Dari perspektif mikrostruktur pasar, perbedaan tersebut tidak relevan. Hasil tetap sama, baik karena analisis yang lebih unggul maupun akses informasi, menunjukkan perilaku jual yang mendahului tekanan pasar yang lebih luas lebih dari lima jam,” tulisnya.

Kecepatan respons pasar juga menjadi sorotan. Volume perdagangan meningkat hanya sekitar tiga menit setelah berita publik dirilis, yang mengindikasikan adanya eksekusi yang telah dipersiapkan, bukan sekadar reaksi spontan saat crypto crash.

Struktur Pasar dan Efek Domino Leverage

Lalu, bagaimana WLFI bisa memicu efek sistemik? Jawabannya terletak pada struktur leverage pasar kripto, di mana banyak platform memperbolehkan berbagai aset dijadikan jaminan untuk membuka posisi pinjaman.

Ketika WLFI jatuh, nilai jaminan menyusut. Trader yang menggunakan WLFI sebagai collateral terpaksa menjual aset likuid seperti BTC dan ETH untuk menutup posisi, sehingga tekanan jual meluas dan memicu likuidasi lanjutan secara cepat.

BACA JUGA:  Tragis! Anak Purbaya Rungkad Rp4,9 Miliar Akibat Crypto Crash Hari Ini

Data Amberdata menunjukkan volatilitas terealisasi WLFI delapan kali lebih tinggi dibandingkan Bitcoin dalam periode tersebut. Ini mengindikasikan bahwa aset yang secara struktural lebih rapuh dan sarat leverage cenderung bergerak lebih dulu saat tekanan muncul.

CEO OKX: Crypto Crash Oktober 2025 Itu Salah Binance!

Meski demikian, Marshall menegaskan temuan ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa WLFI memprediksi setiap kejatuhan pasar karena baru berdasarkan satu peristiwa. Namun, di pasar kripto, sinyal kerap muncul dari titik paling rentan, bukan dari aset terbesar.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia