Riset terbaru menyoroti ancaman baru bagi BTC di masa depan, yaitu quantum computing. Meski masih menjadi risiko jangka panjang, laporan Ark Invest dan Unchained menyebutkan bahwa sebagian suplai Bitcoin saat ini rentan terhadap perkembangan teknologi tersebut.
34 Persen BTC Rentan Terhadap Quantum Computing
Dalam whitepaper yang dirilis oleh Ark Invest dan juga Unchained pada Rabu (11/03/2026), disebutkan bahwa sekitar 65,4 persen suplai Bitcoin saat ini dinilai aman dari ancaman komputasi kuantum.
Namun, sekitar 34,6 persen suplai Bitcoin masih berpotensi terekspos, yang setara dengan sekitar 6 juta hingga hampir 7 juta BTC dari total Bitcoin yang saat ini telah ditambang.
Sebagian besar potensi risiko tersebut berasal dari address reuse. Sekitar 5 juta BTC atau 25 persen dari suplai masuk dalam kategori ini dan secara teknis masih dapat dipindahkan ke alamat yang lebih aman.
Selain itu, sekitar 1,7 juta BTC (8,6 persen) berada di alamat Pay To Public Key (P2PK), format transaksi paling awal di jaringan Bitcoin yang mengunci dana secara langsung pada public key.
Sementara itu, sekitar 200 ribu BTC (sekitar 1 persen) berada pada alamat P2TR dan juga Taproot, yang juga dinilai berpotensi dimigrasikan jika komunitas meningkatkan standar keamanan.

Ancaman tersebut baru dapat terjadi jika komputer kuantum mampu memecahkan Elliptic Curve Cryptography (ECC) yang digunakan, yang diperkirakan membutuhkan sekitar 2.330 logical qubits serta puluhan juta hingga miliaran operasi quantum gate.
“Meski demikian, penerapan secara praktis baru dapat terjadi jika sistem quantum computing mencapai tingkat performa tertentu, yang menurut riset kami masih akan membutuhkan waktu lama untuk tercapai,” tulis laporan tersebut.
Komputasi Quantum Jadi Risiko Jangka Panjang Bitcoin
Meski terdengar mengkhawatirkan, Ark Invest menegaskan bahwa ancaman komputasi kuantum bukan masalah dalam waktu dekat. Perkembangannya diperkirakan bertahap dan memberikan banyak sinyal peringatan sebelum benar-benar menjadi ancaman serius.
“Risiko quantum akan berkembang secara bertahap dalam jangka waktu panjang, dengan banyak sinyal peringatan dan titik keputusan di sepanjang prosesnya. Kegagalan mendadak dalam satu titik sangat kecil kemungkinannya terjadi,” tulis laporan tersebut.
Dalam risetnya, Ark memperkirakan evolusi quantum akan melewati lima tahap perkembangan teknologi. Ancaman serius baru muncul pada tahap akhir, ketika komputer kuantum mampu memecahkan kriptografi blockchain BTC lebih cepat dari waktu blok jaringan.

Bitcoin yang berada di alamat rentan diperkirakan mulai menghadapi risiko pada tahap ketiga, ketika komputer kuantum sudah mampu memecahkan kunci ECC 256-bit.
Riset tersebut juga menyebut public key pertama kemungkinan baru dapat dipecahkan pada pertengahan 2030-an, merujuk pada target pengembangan teknologi perusahaan besar seperti Google, IBM, dan Microsoft.
Bitcoin Perlu Mengadopsi Kriptografi Tahan Kuantum
Meski ancaman masih jauh, Ark Invest menilai komunitas Bitcoin perlu mulai mempersiapkan langkah mitigasi sejak sekarang. Salah satu solusi yang dibahas adalah penerapan Post-Quantum Cryptography (PQC) pada jaringan Bitcoin.
Teknologi ini mencakup skema tanda tangan digital yang dirancang agar tetap aman dari serangan komputer kuantum, seperti ML-DSA berbasis lattice dan juga SLH-DSA berbasis hash.
Namun, penerapan teknologinya bukan perkara yang mudah. Mengingat sifat Bitcoin yang terdesentralisasi, perubahan besar pada sistem kriptografi harus melalui kesepakatan mayoritas komunitas melalui mekanisme soft fork.
Salah satu proposal yang tengah dibahas adalah BIP-360 yang mengusulkan tipe output baru bernama Pay-to-Merkle-Root. Pendekatan ini dirancang untuk mengurangi paparan risiko quantum dengan menghilangkan kerentanan pada Taproot.
BIP 360: Fondasi Baru Bitcoin Menghadapi Ancaman Quantum Computing
Kini Bitcoin berpacu dengan waktu. Meski ancaman komputasi kuantum diperkirakan baru muncul dalam beberapa dekade mendatang, para peneliti menilai komunitas perlu mulai menyiapkan fondasi keamanan generasi berikutnya.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



