Gelombang investasi digital yang sempat digadang-gadang sebagai masa depan keuangan kini memperlihatkan sisi kelamnya. Di tengah antusiasme terhadap Bitcoin dan aset kripto lainnya, investor ritel tampaknya harus menelan pil pahit akibat strategi DAT yang terlalu spekulatif dan kurang hati-hati.
Strategi “Ajaib” DAT yang Berbalik Menjadi Bumerang
Penelitian terbaru dari 10x Research yang dipublikasikan pada Jumat (17/10/2025) mengungkap bahwa investor ritel kehilangan sekitar US$17 miliar dalam upaya mendapatkan eksposur terhadap Bitcoin melalui perusahaan Digital Asset Treasury (DAT) seperti Metaplanet dan Strategy.
Kerugian ini muncul karena saham perusahaan dijual di atas nilai aset kripto yang sebenarnya, menciptakan “gelembung” yang akhirnya pecah. Ketika saham anjlok, banyak ritel terjebak dengan kerugian besar — memperlihatkan bahwa era kejayaan DAT mungkin mulai berakhir.
“Era keajaiban finansial bagi perusahaan pengelola investasi Bitcoin (BTC) sedang berakhir,” tulis analis 10x Research yang berbasis di Singapura dalam laporan terbarunya.
Strategi perusahaan DAT sebenarnya sederhana: mereka menjual saham dengan premi tinggi terhadap net asset value (NAV), lalu menggunakan dana hasil selisih harga itu untuk membeli lebih banyak Bitcoin — dan mengulang siklus tersebut.
Sebagai contoh, dengan investasi sebesar US$1 miliar di Bitcoin, nilai pasar Metaplanet sempat melonjak hingga US$8 miliar sebelum merosot ke US$3,1 miliar, meski perusahaan masih memegang Bitcoin senilai US$3,3 miliar.
“Dalam prosesnya, pemegang saham kehilangan US$4,9 miliar, sementara perusahaan berhasil mengakumulasi US$2,3 miliar dalam bentuk Bitcoin — sebuah ‘prestasi’ yang ironis,” tulis laporan tersebut.

Era Baru DAT: Dari Inflasi Nilai ke Realisme Pasar
Laporan 10x Research menyoroti bahwa penyusutan nilai terhadap harga saham menjadi sinyal bahaya. Perusahaan DAT kini dituntut untuk mengubah model bisnis mereka jika ingin tetap bertahan.
Menurut laporan tersebut, masa depan perusahaan investasi kripto terletak pada pendekatan baru yang lebih menyerupai manajer aset berbasis arbitrase, bukan lagi spekulan harga. Meskipun langkah ini memangkas potensi keuntungan besar dari Bitcoin, stabilitas dan efisiensi justru menjadi kunci untuk bertahan di pasar yang semakin rasional.
“Perusahaan DAT yang lebih cerdas masih dapat menghasilkan imbal hasil tahunan sebesar 15–20 persen,” tulis para peneliti, menekankan bahwa hanya perusahaan yang mampu beradaptasi yang akan bertahan.
Saat ini, Metaplanet memegang lebih dari 30.000 BTC dengan nilai sekitar US$3,4 miliar. Perusahaan tersebut juga telah memperoleh persetujuan dari para pemegang saham untuk menerbitkan preferred shares guna mendanai pembelian Bitcoin tambahan.
Pasar Kripto Diterpa Badai, Investor Beralih ke Emas
Riset ini muncul di tengah salah satu pekan terburuk dalam sejarah pasar kripto. Laporan sebelumnya menunjukkan lebih dari US$19 miliar aset digital terlikuidasi hanya dalam hitungan hari, menandakan tekanan ekstrem di pasar.
Peter Brandt Ramal Puncak Emas di US$4.474, Token Emas Ikut Meroket
Dalam waktu bersamaan, sektor perbankan AS juga terguncang — Zions Bancorp dan Western Alliance mencatat kerugian besar akibat penurunan nilai dan kasus penipuan, menghapus lebih dari US$100 miliar kapitalisasi pasar dalam sehari.
Situasi makin genting dengan meningkatnya friksi antara AS dan Tiongkok, yang memperburuk tekanan di pasar keuangan. Ketegangan geopolitik ini memicu ketidakpastian tinggi, membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset berisiko.
Menariknya, di tengah kekacauan tersebut, emas dan perak justru terus mencetak rekor baru. Fenomena ini menunjukkan bahwa investor kembali mencari perlindungan di aset tradisional — meninggalkan Bitcoin yang sempat digadang sebagai “emas digital”. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



