Robert Kiyosaki Andalkan Bitcoin Hadapi Crash Saham 2026

Penulis buku keuangan terkenal Robert Kiyosaki kembali memantik perdebatan. Kali ini ia menyinggung potensi krisis ekonomi pada 2026 sekaligus menegaskan strategi investasinya yang tak biasa: menjauhi aset “cetakan” dan berfokus pada Bitcoin serta aset nyata.

Prediksi Crash 2026 dan Cara Pandang Kiyosaki

Lewat sebuah unggahan di X pada Jumat (27/03/2026), Robert Kiyosaki mengutip ramalan dua tokoh futuris, Nostradamus dan Edgar Cayce, yang sama-sama menyebut potensi krisis besar di tahun 2026.

Meski begitu, ia menegaskan tidak sepenuhnya bergantung pada ramalan tersebut. Namun, jika skenario itu benar-benar terjadi, ia memperkirakan akan ada perubahan strata sosial yang jauh lebih besar.

“Aku tidak tahu apakah crash 2026 akan benar-benar terjadi… tapi jika itu terjadi, aku yakin kita bisa menjadi lebih kaya, sementara jutaan orang justru semakin miskin,” tulisnya.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Pernyataan itu sempat memicu reaksi dari salah satu rekannya yang mempertanyakan optimisme tersebut. Namun, Kiyosaki menegaskan bahwa strategi ini bukan hal baru bagi para pengikutnya.

Robert Kiyosaki Prediksi Harga Bitcoin Bisa Tembus US$750 Ribu

Dalam pandangannya, krisis finansial selalu memiliki dua sisi. Di satu sisi, banyak orang kehilangan nilai aset. Di sisi lain, mereka yang siap justru memiliki peluang untuk membeli aset berkualitas dengan harga diskon.

BACA JUGA:  Terkuak! Bitcoin Rp574,6 Miliar Milik Bandar Narkoba Disita Polisi

Hindari Aset “Cetakan”, Pilih yang Nyata

Berbeda dengan investor pada umumnya, Kiyosaki secara tegas menyatakan dirinya tidak berinvestasi di saham, obligasi, ETF, maupun instrumen yang menurutnya bisa “dicetak” oleh pemerintah atau institusi keuangan.

Ia bahkan menyebut tidak tertarik pada instrumen seperti indeks pasar saham, termasuk S&P 500, karena dianggap terlalu bergantung pada sistem finansial yang rentan terhadap manipulasi.

Sebagai gantinya, Kiyosaki memilih aset yang memiliki nilai nyata dan terbatas. Portofolio investasi miliknya mencakup bisnis riil bahkan hingga aset digital seperti Bitcoin.

“Saya suka minyak… properti, golf, perak, Bitcoin, Ethereum, dan produksi pangan. Saya menyukai sesuatu yang nyata. Saya benci yang palsu,” ujarnya.

Prinsip ini sejalan dengan strategi investasinya yang sederhana, atau yang ia sebut sebagai KISS (Keep It Super Simple). Ia membeli aset secara bertahap, menyimpannya dalam jangka panjang, dan jarang melakukan penjualan.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Hari Ini 28 Maret 2026, Rp 1,125 Miliar per BTC

Bitcoin dan Peluang di Tengah Krisis

Di tengah kekhawatiran akan krisis, Kiyosaki justru melihat peluang besar. Ia menilai bahwa investor yang mampu membaca arah pergerakan uang akan menjadi pihak yang paling diuntungkan.

“Investor yang bisa melihat masa depan adalah mereka yang akan menjadi lebih kaya,” tegasnya.

Ia juga menyinggung langkah Warren Buffett yang menyiapkan likuiditas untuk membeli aset saat harga turun. Menurut Kiyosaki, ini menegaskan bahwa uang tidak hilang saat krisis, melainkan berpindah tangan.

Perang Meletus, Robert Kiyosaki Bahas 5 Dampak Serius ke Keuangan dan Ekonomi

Dalam konteks ini, Bitcoin kembali diposisikan sebagai salah satu aset kunci. Selain karena sifatnya yang terbatas, BTC dinilai tidak bisa dikendalikan oleh pemerintah, menjadikannya menarik di tengah ketidakpastian ekonomi.

Pada akhirnya, krisis bukan sekadar ancaman, melainkan momen penentu. Saat banyak orang ragu, ia melihat peluang dan menegaskan satu hal: di tengah ketidakpastian, Bitcoin dan aset nyata bisa menjadi jalan untuk bertahan sekaligus bertumbuh.

BACA JUGA:  10 Poin Penting Terkait Fatwa Muhammadiyah Tentang Crypto!

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait