Robert Kiyosaki Ramalkan Kebangkitan Cryptocurrency Jika Dolar AS Ambruk

Investor legendaris Robert Kiyosaki, melalui lamannya, menyampaikan ramalan perihal kebangkitan cryptocurrency jika dolar Amerika Serikat (AS) benar-benar ambruk.

Dalam artikel di RichDad.com, Kiyosaki menyorot stabilitas dan masa hidup dolar AS, yang telah menjadi mata uang cadangan dominan selama enam puluh tahun terakhir.

Penulis buku “Rich Dad, Poor Dad” secara sambil lalu menjelaskan konsep dedolarisasi dan konsekuensi potensialnya, serta menyoroti munculnya cryptocurrency sebagai alternatif dalam peran membentuk ulang sistem keuangan global.

Kiyosaki memaparkan bahwa dedolarisasi merujuk pada proses di mana negara-negara mengurangi atau menghilangkan ketergantungan mereka pada dolar AS dan beralih ke mata uang atau aset lain.

Menurutnya, beberapa faktor, termasuk ketegangan geopolitik, ketidakstabilan ekonomi, dan munculnya cryptocurrency, dapat mendorong pergeseran ini.

Dia menjelaskan, salah satu konsekuensi langsung dari ekonomi global yang mengalami dedolarisasi akan menjadi harga impor yang lebih tinggi bagi Amerika Serikat.

Ketika daya tarik dolar menurun dan negara-negara beralih ke mata uang lain, pemasok asing akan menaikkan tarif mereka untuk mengimbangi dolar Amerika yang melemah, yang berpotensi menyebabkan lonjakan biaya impor.

Hal ini pada akhirnya akan mempengaruhi konsumen Amerika, yang akan menghadapi harga yang lebih tinggi dan pilihan yang terbatas karena akses terbatas ke pasar internasional.

Selain itu, de-dolarisasi dapat menciptakan volatilitas dalam pasar valuta asing, membuat barang-barang sehari-hari menjadi lebih mahal bagi konsumen.

Nilai yang fluktuatif dari mata uang asing dapat mengganggu perdagangan dan berdampak pada keterjangkauan barang seperti pakaian dan makanan.

Selain itu, bisnis Amerika kemungkinan akan mengalami permintaan yang menurun terhadap produk dan layanan mereka, yang berpotensi menyebabkan hilangnya lapangan pekerjaan dan tantangan ekonomi.

Cryptocurrency sebagai Alternatif

Sentimen umum di kalangan pendukung kripto biasanya adalah bahwa sistem perbankan sentral memiliki kekurangan.

“Dalam kasus sistem perbankan AS, dolar atau lebih tepatnya, nilai dolar, terkait langsung dengan pasar yang fluktuatif, tingkat suku bunga, dan kebijakan pemerintah. Sebaliknya, nilai kripto ditentukan oleh permintaan pasar,” kata Kiyosaki menjelaskan.

Lebih jauh Kiyosaki mengatakan, salah satu perbedaan utama antara cryptocurrency dan mata uang tradisional adalah bahwa kripto beroperasi pada sebuah buku besar terdesentralisasi yang disebut blockchain.

“Ini berarti bahwa semua transaksi dicatat dalam buku besar publik yang dikelola oleh jaringan komputer di seluruh dunia. Ini memastikan transaksi transparan, aman, dan tidak dapat diubah atau dibatalkan.”

Meskipun berbeda dari mata uang tradisional, kripto semakin populer sebagai sarana pembayaran dan investasi. Banyak bisnis mulai menerima kripto sebagai bentuk pembayaran, dan investor semakin beralih ke kripto sebagai cara untuk mendiversifikasi portofolio mereka.

Karena kripto tidak didukung oleh bank sentral, lembaga keuangan, atau pemerintah mana pun, kripto dapat menjadi mata uang alternatif yang layak untuk perdagangan luar negeri dan transaksi lintas batas jika dolar AS kehilangan statusnya sebagai mata uang dominan untuk perdagangan internasional.

Kekuata Cryptocurrency Bisa Goyahkan Stabilitas Dolar AS

Munculnya cryptocurrency menawarkan dinamika menarik dalam konteks dedolarisasi.

Menurut Kiyosaki, jika dolar AS mengalami kejatuhan atau kehilangan posisi dominannya, permintaan dan kekuatan cryptocurrency dapat lebih menggoyahkan stabilitas dolar.

Cryptocurrency, dengan sifat terdesentralisasi dan potensi stabilitasnya, bisa menjadi alternatif yang menarik yang mengurangi dominasi dolar AS secara global.

Sementara itu, mata uang kripto beroperasi di luar kendali bank sentral dan pemerintah, membuatnya tahan terhadap fluktuasi yang disebabkan oleh pasar yang volatile, suku bunga, dan kebijakan pemerintah.

Nilai cryptocurrency ditentukan sepenuhnya oleh permintaan pasar, memberikan kontras dengan sistem mata uang tradisional.

Ketika ekonomi global mencari alternatif untuk dolar AS, cryptocurrency memiliki potensi untuk menjadi bentuk mata uang yang dapat diandalkan dan stabil.

Paradoks Pencipta-Penghancur

“Pertanyaan yang lebih besar mungkin adalah, apakah kripto seperti Bitcoin sebenarnya dapat berperan dalam mengurangi dominasi dan kekuatan dolar AS dalam sistem keuangan global?” tanya Kiyosaki.

Menurut sang investor, bila dedolarisasi sedang terjadi, kekuatan dan permintaan kripto itu sendiri dapat lebih menurunkan stabilitas mata uang AS karena kesiapannya sebagai alternatif.

“(Bahkan) cryptocurrency dapat memberikan alternatif yang lebih stabil dan dapat diandalkan untuk dolar AS,” ujarnya.

Dalam pandangannya, situasi ini merupakan paradoks Pencipta-Penghancur, dalam arti tertentu.

“Jika dolar runtuh, itu mungkin menciptakan atau merangsang kebangkitan kripto sebagai mata uang global, dan pada gilirannya, kebangkitan itu akan berarti berakhirnya kekuatan dolar AS secara global.”

Meski demikian, Kiyosaki tak menutup mata pada tantangan regulasi yang masih mendera potensi cryptocurrency.

“Meningkatkan literasi keuangan dan meningkatkan kesadaran tentang manfaat, risiko, dan mekanisme cryptocurrency adalah hal yang penting bagi individu, bisnis, dan pemerintah.”

Dia mendorong pemerintah untuk menciptakan lingkungan yang mendorong inovasi dan investasi dalam teknologi blockchain, sambil melindungi konsumen dari aktivitas penipuan dan scam.

Dengan demikian, cryptocurrency memiliki potensi menjadi solusi berharga jika dedolarisasi terjadi di pasar global.

Mata uang kripto menawarkan alternatif yang aman, terdesentralisasi, dan potensial stabil dibandingkan mata uang tradisional, yang dapat membantu mengurangi dominasi dolar AS dan mendorong stabilitas ekonomi global yang lebih besar.

“Dan, seiring dengan terus meningkatnya popularitas dan penerimaan kripto, mereka bisa menjadi bagian yang semakin penting dari sistem keuangan global.” [ab]

Terkini

Warta Korporat

Terkait