Rp5,9 Triliun Kripto Iran Dibekukan AS, Ada Peran Tether?

Langkah tegas kembali diambil Amerika Serikat dengan langsung menyasar aset digital, bukan lagi jalur perbankan konvensional atau sanksi biasa. Dana kripto senilai  Rp5,9 triliun yang diduga terkait Iran resmi dibekukan, menandai strategi baru untuk menekan Teheran.

Operasi “Economic Fury” Jadi Strategi AS Tekan Iran

Departemen Keuangan AS mengonfirmasi pembekuan dana kripto senilai US$344 juta yang dikaitkan dengan rezim Iran. Langkah ini disebut sebagai salah satu aksi penegakan hukum aset digital paling agresif di tengah konflik yang masih berlangsung.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari operasi bertajuk Economic Fury. Tujuannya jelas, yakni memutus jalur pendanaan Iran yang dinilai terus mencoba mengalirkan dana ke luar negeri.

“Kami akan mengikuti aliran uang yang berusaha dipindahkan Teheran dan menargetkan semua jalur finansial yang terhubung dengan rezim,” ujar Bessent melalui X, Sabtu (25/04/2026).

IKLAN
Chat via WhatsApp
BACA JUGA:  Analisis Kripto: SOL Jadi Sorotan, 4 Altcoin Ikut Bersiap

Proses pembekuan dilakukan setelah otoritas AS menemukan aktivitas mencurigakan. Sejumlah transaksi terdeteksi berinteraksi dengan crypto exchange Iran serta wallet yang terhubung dengan Bank Sentral Iran, termasuk melalui alamat perantara.

Di titik inilah Tether berperan. Dua hari sebelumnya, perusahaan tersebut telah mengonfirmasi pembekuan USDT pada dua alamat di blockchain Tron dengan nilai serupa, setelah menerima informasi dari berbagai lembaga penegak hukum AS.

Iran Gunakan Stablecoin untuk Akali Sanksi Global

Peran Tether dan Sorotan ke Sentralisasi Kripto

Lewat pengumuman resmi yang dirilis pada Kamis (23/04/2026), Tether menyatakan bahwa pembekuan ini merupakan bagian dari kerja sama rutin dengan otoritas global, termasuk yang berkaitan dengan Iran.

Hingga kini, mereka telah bekerja sama dengan lebih dari 340 lembaga penegak hukum di 65 negara dan juga terlibat secara langsung dalam mengawal lebih dari 2.300 kasus.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Hari Ini Masuk Zona Penentu, Bakal Naik atau Turun?

Tether juga menyoroti keunggulan blockchain dalam kasus seperti ini. Tidak seperti uang tunai, transaksi kripto meninggalkan jejak yang dapat dilacak. Wallet crypto dapat ditandai, aliran dana bisa diikuti, dan aset dapat dibekukan sebelum berpindah lebih jauh.

Namun, kemampuan membekukan aset ini kembali memicu kritik. Banyak pihak menilai fitur tersebut bertentangan dengan prinsip desentralisasi, karena menunjukkan adanya kontrol terpusat dalam stablecoin seperti USDT.

Di sisi lain, skala aktivitas kripto Iran tergolong besar. Chainalysis mencatat wallet Iran menerima US$7,8 miliar sepanjang 2025, sementara TRM Labs memperkirakan totalnya mendekati US$11 miliar, dengan separuh aktivitas on-chain terkait IRGC pada akhir 2025.

Kasus ini pun menjadi gambaran jelas. Kripto bukan lagi sekadar instrumen finansial, tetapi telah berubah menjadi alat dalam permainan geopolitik, di mana teknologi, regulasi, dan kekuasaan saling bertabrakan dalam satu ekosistem.

BACA JUGA:  Bank Digital Ini Buka Akses XRP ke 13 Juta Pengguna, Adopsi Melebar ke Level Ritel

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait