Rubel Digital Ditentang Lagi oleh Perbankan Rusia

Rencana penerbitan rubel digital ditentang lagi oleh perbankan Rusia. Padahal sebelumnya Bank Sentral Rusia sudah menegaskan, mata uang digital itu tidak akan merugikan bisnis perbankan.

Hal itu disampaikan oleh asosiasi bank Rusia, berdasarkan jajak pendapat yang mereka gelar sebelumnya.

Menurut hasil jajak pendapat itu, rubel digital bisa merugikan bank-bank kecil berskala kecil, termasuk bank kelas menengah yang mencakup antar wilayah.

“Menurut survei yang dilakukan oleh Association of Banks of Russia, mayoritas responden secara positif menilai Bank Sentral Rusia soal rubel digital. Sementara itu, kemungkinan risiko konsekuensi negatif dari penerapan rubel digital pada aktivitas lembaga perkreditan dinilai tinggi, terutama untuk bank kecil dan regional. Dalam kaitan ini, sejumlah responden menganggap perlu dilakukan penilaian komprehensif terhadap kemungkinan dampak negatif itu,” sebut asosiasi dalam keterangan resminya, 13 Januari 2021 lalu.

Pada akhir tahun lalu, Bank Sentral Rusia sebenarnya sudah menegaskan bahwa rencana penerbitan rubel digital tidak akan mengganggu bisnis perbankan di negeri itu.

Bank Sentral Rusia: Rubel Digital Bukanlah Ancaman Bagi Bisnis Bank

Pernyataan itu menanggapi pendapat sejumlah bank-bank di Rusia yang mengatakan bahwa rubel digital bisa melemahkan kinerja perbankan, karena nasabah kemungkinan besar menarik dana mereka dengan sistem baru itu.

Bank terbesar di Rusia, Sber misalnya berpendapat bahwa rubel digital kelak merugikan bisnis perbankan hingga 25 miliar ruble atau sekitar US$34 juta.

Kepala Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina, membantah kekhawatiran tersebut. Ia mengatakan, pihaknya tidak melihat peluncuran rubel digital akan menyebabkan pengeluaran atau perubahan dana besar.

Pekan lalu, Sber menghitung bank bisa merugi hingga US$54 milyar dalam tiga tahun pertama sejak peluncuran rubel digital.

Akibatnya, bank-bank akan terpaksa menaikkan suku bunga sebesar 0,5 persen dan membatasi pinjaman bagi ritel dan UKM.

Menanggapi hal tersebut, Nabiullina tidak yakin asal-usul angka-angka itu dan menjelaskan perubahan suku bunga tidak disebabkan rubel digital, melainkan tingkat inflasi dan kebijakan moneter.

Dewan Nasional Pasar Keuangan (NCFM) sepakat dengan Sber. Dalam suratnya kepada bank sentral, NCFM menulis bahwa arus keluar uang dari bank ke sistem rubel digital akan membuat bank tidak stabil dan lebih bergantung kepada pinjaman dari bank sentral.

Demi mencegah hal itu, NCFM menyarankan menggunakan sistem mirip yuan digital Tiongkok, di mana bank sentral membuka akun rubel digital bagi bank komersial, dan bank komersial mengelola rubel digital bagi pengguna ritel.

Regulator keuangan Rusia memberikan sejumlah skenario peluncuran mata uang digital bank sentral (CBDC) beberapa bulan lalu. Sebagian besar skenario yang diusulkan membuat bank komersial khawatir.

Pandemi COVID-19 Dorong Cepat Central Bank Digital Currency (CBDC)

Bank Rusia tampak menginginkan model terpusat, di mana regulator menjadi administrator sistem dan bank-bank membantu meraih pengguna.

Sejumlah lembaga keuangan khawatir bank-bank wajib menggunakan dana sendiri untuk memadukan sistem dubel digital tanpa mendapat keuntungan bisnis.

Laporan Bank Rusia tidak menjelaskan mengapa negara tersebut membutuhkan CBDC, jelas Vladislav Martynov, penasihat Asosiasi Blockchain dan Kripto Rusia (RAKIB). Ia meyakini, dalam situasi sekarang, regulator melihat peluncuran CBDC sebagai peluang menyatukan kekuatan bagi bank sentral.

Rusia Ujicoba Rubel Digital pada Akhir Tahun 2021

“Laporan tersebut adalah tentang menciptakan monopoli yang baru, bank negara baru yang akan mendominasi pasar sementara peran bank komersial melemah,” jelas Martynov.

Kekhawatiran lain adalah adopsi rubel digital akan dipaksakan dari atas ke bawah, dan badan usaha negara akan diwajibkan memakainya.

Pemaksaan adopsi dapat menjadi bencana bagi Rusia, seperti beragam kebijakan yang sebelumnya dipaksakan di negara tersebut.

Bank Rusia belum memutuskan apakah rubel digital akan resmi atau tidak. Sejak merilis laporan, bank tersebut mengumpulkan masukan dari publik hingga 31 Desember 2020.

Nabiullina mengatakan, jika pihaknya akan lanjut dengan CBDC, proyek rintisan pertama akan terjadi akhir tahun depan. [red]

Terkini

Warta Korporat

Terkait