Rupiah Indonesia Babak Belur, USDT Sentuh Rp17.900

Rupiah kembali tertekan. Pada Kamis pagi, harga USDT diperdagangkan di kisaran Rp17.900 dan bahkan sempat menembus Rp17.995 menurut data Investing. Lonjakan ini memicu kekhawatiran pasar karena pelemahan IDR terjadi sangat cepat dalam waktu singkat.

Rupiah Melemah, BI Mulai Kehabisan Amunisi?

Tekanan terhadap rupiah sudah terasa sejak beberapa bulan terakhir. Namun kali ini, skalanya terasa berbeda. Ketika harga USDT mendekati Rp18.000, pasar melihat adanya kombinasi faktor global dan domestik yang sama-sama menekan mata uang Indonesia.

Nilai Tukar USDT ke Rupiah Indonesia - CoinGecko
Nilai Tukar USDT ke Rupiah Indonesia – CoinGecko

Bank Indonesia pun tidak tinggal diam. BI sebelumnya menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Ini menjadi kenaikan pertama sejak April 2024 dan dianggap sebagai salah satu “senjata utama” untuk menjaga stabilitas rupiah.

Sayangnya, respons pasar terlihat dingin. Rupiah tetap melemah dan arus permintaan terhadap dolar AS maupun stablecoin seperti USDT meningkat. Kenaikan suku bunga yang biasanya mampu meredam tekanan tampaknya belum cukup kuat untuk membalikkan keadaan.

Di saat bersamaan, pelemahan IDR juga tercermin di pasar saham. IHSG turun ke Rp6.130,19 atau melemah 1,23 persen. Kondisi ini memperlihatkan kepercayaan investor terhadap iklim ekonomi Indonesia mulai goyah, baik dari investor domestik maupun asing.

BACA JUGA:  USDT Dolar AS Hari Ini Tembus Rp18.100, IDR Makin Rapuh?
IHSG - Google Finance
IHSG – Google Finance

Situasi tersebut memunculkan persepsi yang lebih luas di pasar: investor saat ini bukan hanya khawatir terhadap nilai tukar, tetapi juga mulai mempertanyakan daya tahan ekonomi Indonesia menghadapi tekanan global yang semakin brutal.

Perang AS-Iran Jadi Pemicu Pelemahan IDR

Salah satu faktor terbesar yang menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS datang dari luar negeri, tepatnya dari meningkatnya tensi geopolitik antara AS dan Iran di Timur Tengah sejak akhir Februari lalu.

Konflik di Timur Tengah membuat pasar cemas karena kawasan ini merupakan salah satu jalur pasokan energi dunia, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi pusat perdagangan minyak dan gas. Ketika tensi meningkat, pasar melihat risiko baru bagi ekonomi global.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Investor pun khawatir harga energi kembali melonjak, inflasi memanas, dan The Federal Reserve semakin sulit menurunkan suku bunga. Dalam situasi seperti ini, pasar biasanya beralih ke dolar AS sebagai aset aman.

BACA JUGA:  Saat Rupiah Anjlok, Dolar AS Ternyata Lebih Cuan daripada Bitcoin

Akibatnya, indeks dolar AS (DXY) menguat dan sempat menyentuh level 100 sebelum kembali turun ke rentang 99-99,5. Penguatan dolar AS menekan banyak mata uang Asia, termasuk IDR yang menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan paling dalam.

Grafik DXY Dolar AS - Investing
Grafik DXY Dolar AS – Investing

Menariknya, argumen bahwa pelemahan rupiah semata-mata dipicu kenaikan harga minyak mulai dipertanyakan. Sebelumnya, minyak Brent memang sempat menyentuh US$106 per barel. 

Namun kini harganya sudah turun ke sekitar US$96,5, sementara rupiah tetap belum mampu bangkit. Artinya, pasar tampaknya melihat masalah yang lebih dalam dibanding sekadar lonjakan harga minyak.

Harga Minyak Brent - Trading Economics
Harga Minyak Brent – Trading Economics

Akankah Rupiah Indonesia Tembus Rp18.000?

Pertanyaan itu kini mulai terdengar semakin sering di pasar. Secara psikologis, level Rp18.000 dianggap sebagai batas penting karena bisa memicu kepanikan yang lebih luas, terutama di kalangan investor ritel dan pelaku bisnis domestik.

Jika tekanan terus berlanjut sementara arus modal asing keluar dari pasar Indonesia, bukan tidak mungkin IDR benar-benar menyentuh level tersebut. Apalagi, pelemahan kali ini terjadi relatif cepat dan berlangsung saat kondisi global penuh ketidakpastian.

BACA JUGA:  CoinShares: Wall Street Jual Bitcoin, Bank Besar Justru Tambah Posisi

Di sisi lain, pasar juga mulai memperhatikan apakah Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi domestik. Sebab semakin tinggi suku bunga, biaya kredit dan aktivitas ekonomi juga bisa melambat.

Rupiah Kian Rapuh, Masyarakat Indonesia Mulai Lari ke USDT

Untuk saat ini, satu hal terlihat jelas: pasar sedang berada dalam mode defensif. Investor memilih berlindung di dolar AS dan stablecoin seperti USDT, sementara rupiah terus menghadapi tekanan dari berbagai arah.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait