Rupiah Kian Rapuh, Masyarakat Indonesia Mulai Lari ke USDT

Tekanan terhadap rupiah kini makin terasa. Di tengah penguatan USD, sebagian investor kripto Indonesia mulai mengambil langkah defensif dengan memindahkan tabungan mereka ke USDT, stablecoin yang nilainya dipatok terhadap dolar AS.

Masyarakat Indonesia Mulai Tinggalkan Rupiah?

Salah satu cerita datang dari investor kripto asal Indonesia bernama Christian. Lewat unggahan di X pada Rabu (27/05/2026), ia mengaku memindahkan sebagian tabungannya dalam bentuk USDT ke akun milik istrinya untuk didepositokan atau di-staking.

“Sedikit tabungan saya di USD dalam bentuk USDT ini pindahin ke akun punya istri saya buat di depositoin (staking). Baru cek hari ini, ternyata udah nambah Rp44 juta dari 2 minggu yang lalu karena kenaikan dolar AS aja,” tulisnya.

Tak hanya mengandalkan kenaikan kurs dolar AS, Christian juga memperoleh passive income sekitar US$7,5 dari aset tersebut. Di akhir unggahan, ia bahkan menulis kalimat yang mendorong orang untuk menyimpan USDT di tengah pelemahan rupiah.

BACA JUGA:  Modal Diam, Trader Kripto Ini Cuan Rp3 Juta dari USDT saat IDR Melemah
Keuntungan yang Didapat Investor Kripto RI saat Menyimpan USDT - Christian
Keuntungan yang Didapat Investor Kripto RI saat Menyimpan USDT – Christian

Postingan itu langsung memicu diskusi. Banyak pengguna lain mengaku mulai melakukan hal serupa sejak beberapa bulan terakhir. Salah satunya akun Lemonilo yang membalas unggahan tersebut dengan pengakuan cukup blak-blakan.

“Gw udah simpen duit gw di USDT dari akhir tahun lalu daripada simpen di bank. Simpen di bank cuma beberapa buat kebutuhan sehari-hari,” tulisnya.

Fenomena ini perlahan menunjukkan perubahan perilaku investor Indonesia. Jika dulu dolar AS lebih identik dengan tabungan valas di perbankan, kini stablecoin seperti USDT mulai dianggap lebih praktis, fleksibel, dan mudah dipindahkan.

Bukan Lagi Soal Minyak, Fokus Kini ke Dolar AS

Menariknya, tekanan terhadap rupiah kali ini mulai dinilai bukan semata karena konflik atau lonjakan harga energi. Selama beberapa minggu terakhir, banyak pihak awalnya menuding memanasnya konflik Iran-AS di Selat Hormuz sebagai pemicu utama pelemahan rupiah.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan
BACA JUGA:  Kacau! Meteora Kena Tipu, Rp25 Miliar Berhasil Digondol Scammer

Namun narasi itu perlahan berubah. Harga minyak Brent justru turun ke sekitar US$96 per barel dari angka US$106 pada pertengahan Mei lalu. Artinya, ada faktor lain yang jauh lebih dominan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Pasar mulai mengarah pada satu titik utama, yakni penguatan dolar AS yang agresif. Efeknya langsung terasa di pasar. Harga USDT terhadap rupiah bahkan sempat menyentuh Rp17.839, level yang membuat banyak investor mulai waspada terhadap daya beli IDR.

Modal Diam, Trader Kripto Ini Cuan Rp3 Juta dari USDT saat IDR Melemah

Di tengah tekanan tersebut, pemerintah dikabarkan mulai bergerak menjaga stabilitas pasar. Salah satunya adalah intervensi di pasar obligasi melalui treasury operation agar yield Surat Berharga Negara tetap terkendali dan volatilitas pasar tidak semakin liar.

BACA JUGA:  Bank Mulai Terancam? AS Buka Jalan Stablecoin untuk Beri Imbal Hasil

Meski begitu, di level ritel, kepanikan kecil tampaknya sudah mulai muncul. Bagi sebagian investor kripto, menyimpan USDT kini bukan lagi sekadar strategi trading, melainkan cara bertahan di tengah IDR yang terus kehilangan tenaga.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait