Rupiah Melemah, USDT ke IDR Sentuh Rp17.839

Tekanan terhadap rupiah kembali menjadi perhatian. Meski pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, nilai tukar rupiah justru terus melemah hingga melewati level Rp17.800 per dolar AS.

Dampaknya terasa di pasar kripto. Harga USDT terhadap rupiah sempat menyentuh Rp17.839, memicu kekhawatiran baru di kalangan investor dan masyarakat yang mulai mempertanyakan arah pergerakan mata uang domestik.

“Ekonomi Bagus, Tapi Rupiah Melemah”

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku heran dengan kondisi rupiah saat ini. Menurutnya, pelemahan yang terjadi terasa tidak masuk akal jika melihat fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih kuat.

“Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini enggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental,” ujar Purbaya, dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (27/05/2026).

Pernyataan itu muncul ketika rupiah bergerak mendekati Rp17.800 per dolar AS. Di saat yang sama, pasar kripto bergerak lebih agresif. Stablecoin seperti USDT langsung mencerminkan tekanan tersebut dan diperdagangkan di kisaran Rp17.839 di berbagai crypto exchange.

BACA JUGA:  Influencer Kripto Ini Ejek Rupiah Usai USD Tembus Rp17.500
Nilai Tukar Rupiah IDR ke USDT Dolar AS - CoinGecko
Nilai Tukar Rupiah IDR ke USDT Dolar AS – CoinGecko

Meski IDR melemah, pemerintah tampaknya belum melihat situasi ini sebagai ancaman terhadap APBN. Saat ditanya soal kemungkinan dilakukan stress test ulang terhadap anggaran negara, Purbaya memastikan belum ada kebutuhan ke arah tersebut.

Menurutnya, simulasi APBN sudah memperhitungkan skenario harga minyak dunia menyentuh US$100 per barel, termasuk dampaknya terhadap nilai tukar rupiah. Karena itu, pemerintah merasa asumsi yang ada masih cukup aman dan belum perlu dihitung ulang.

Pelemahan IDR Bukan Lagi Soal Minyak

Selama beberapa minggu terakhir, banyak pihak awalnya menuding kenaikan harga minyak dan memanasnya konflik Iran-AS di Selat Hormuz sebagai penyebab utama tekanan terhadap rupiah. Namun narasi itu mulai berubah.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Harga minyak Brent kini justru turun ke US$96 per barel. Artinya, tekanan IDR tampaknya bukan semata karena energi atau geopolitik Timur Tengah. Fokus pasar perlahan mengarah pada satu hal yang lebih besar, yakni penguatan dolar AS.

BACA JUGA:  Bukan Soal Suku Bunga Lagi, Ini Ancaman Baru untuk Bitcoin
Harga Minyak Brent - TradingEconomics
Harga Minyak Brent – TradingEconomics

Perbedaan ini terlihat saat dibandingkan dengan mata uang ASEAN lainnya. Ringgit Malaysia ikut melemah terhadap dolar AS, tetapi pergerakannya relatif stabil di kisaran 3,96 MYR per US$. Sementara itu, dolar Singapura juga tetap kuat dengan kurs sekitar 1,27 SGD per US$.

Di sinilah kekhawatiran muncul. Ketika mata uang negara tetangga mampu bertahan, rupiah tampak lebih sensitif terhadap tekanan eksternal. Situasi ini membuat pasar bertanya-tanya apakah ada faktor lain yang membuat rupiah lebih rentan dibandingkan negara ASEAN lain.

Pemerintah Intervensi, Investor Asing Mulai Masuk

Di tengah tekanan, pemerintah mengaku sudah bergerak untuk menjaga stabilitas pasar. Salah satu langkah yang dilakukan adalah intervensi di pasar obligasi melalui treasury operation agar yield Surat Berharga Negara tetap terkendali.

Menurut Purbaya, langkah ini cukup penting karena stabilitas pasar obligasi menjadi kunci menjaga kepercayaan investor asing. Menariknya, ia mengklaim aliran modal asing mulai masuk ke pasar obligasi Indonesia meski IDR masih tertekan.

BACA JUGA:  Rupiah Indonesia ke USDT Sentuh Rp17.700, IDR Makin Rapuh?

“Jadi selama bond market terkendali, kemauan investor untuk asing ya, terutamanya untuk melakukan investasi dan pasti juga bond kita akan terjaga juga,” pungkasnya.

Modal Diam, Trader Kripto Ini Cuan Rp3 Juta dari USDT saat IDR Melemah

Pernyataan ini memberi sinyal bahwa pemerintah percaya diri terhadap kondisi pasar domestik. Meski rupiah tertekan, stabilitas pasar obligasi dan masuknya aliran modal asing dinilai masih mampu menjaga situasi tetap terkendali.

Di sisi lain, masyarakat melihat kondisi ini dari sudut yang berbeda. Angka Rp17.839 untuk stablecoin USDT terasa memberi tekanan psikologis yang kuat, terutama karena kenaikannya terjadi cukup cepat dalam waktu singkat.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait