Rupiah Sentuh Rp17.937 per USDT, Level Rp18.000 Kian Dekat

Tekanan terhadap rupiah kembali meningkat. Setelah bertahan di kisaran Rp17.800-Rp17.850 per USDT selama sepekan terakhir, nilai tukar rupiah kini menyentuh Rp17.937 per USDT. Pergerakan ini membuat level psikologis Rp18.000 semakin dekat.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Memanasnya kembali konflik di Timur Tengah mendorong investor beralih ke dolar AS, sehingga memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang.

Di saat yang sama, kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan IHSG turut memperburuk sentimen pasar. Kombinasi faktor tersebut membuat pelaku pasar mulai mencermati apakah IDR akan menembus level Rp18.000 dalam waktu dekat.

Rupiah Tertekan, BI Perkuat Langkah Stabilisasi

Pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap USDT, tetapi juga dolar AS. Dikutip dari Kompas, nilai tukar rupiah pada Rabu (03/06/2026) telah menembus Rp17.900 per dolar AS, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terlemah di Asia hari itu.

Merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus hadir di pasar dan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

BACA JUGA:  Rupiah Melemah, USDT ke IDR Sentuh Rp17.839

“BI mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan,” ujar Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso.

Nilai Tukar Rupiah ke USDT - CoinGecko
Nilai Tukar Rupiah ke USDT – CoinGecko

Sebagai bagian dari stabilisasi, BI menurunkan batas pembelian valuta asing tanpa dokumen underlying dari US$50.000 menjadi US$25.000 per pelaku per bulan. Kebijakan tersebut mulai berlaku sejak 2 Juni 2026.

Langkah ini melanjutkan kebijakan serupa yang telah diterapkan pada April lalu, ketika batas pembelian valas dipangkas dari US$100.000 menjadi US$50.000 per bulan.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Selain itu, BI juga mendorong penggunaan mata uang lokal melalui LCT dengan negara mitra. Kebijakan ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar IDR.

Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak Jadi Sorotan

Di sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah datang dari meningkatnya ketidakpastian global. Menurut laporan CNN yang terbit pada Rabu (03/06/2026), ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan.

BACA JUGA:  Rupiah Indonesia ke USDT Sentuh Rp17.700, IDR Makin Rapuh?

Eskalasi meningkat setelah Amerika Serikat menyerang target yang berkaitan dengan Iran di sekitar Selat Hormuz. Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah wilayah Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Meski jalur diplomasi masih terbuka, pasar menilai konflik tersebut berpotensi mengganggu stabilitas kawasan dan pasokan energi global. Akibatnya, investor kembali mencari aset yang dianggap lebih aman.

Dampaknya langsung terasa di pasar komoditas. Berdasarkan data Trading Economics, harga Brent Crude Oil naik ke sekitar US$98,2 per barel, dari kisaran US$90 per barel pada akhir Mei lalu.

Harga Brent Crude Oil - Trading Economics
Harga Brent Crude Oil – Trading Economics

Sentimen negatif juga tampaknya membebani pasar saham domestik. IHSG melemah 4,18 persen ke level 5.936,24 seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi global.

Apakah Rupiah Akan Menembus Rp18.000?

Dengan posisi rupiah yang telah menyentuh Rp17.937 per USDT, perhatian pasar kini tertuju pada level psikologis Rp18.000. Jarak yang semakin tipis membuat level tersebut menjadi salah satu fokus utama pelaku pasar.

BACA JUGA:  Sedapnya! Whale Borong Solana dan JUP Senilai Rp131 Miliar Hari Ini

Arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih sangat dipengaruhi oleh kondisi global. Memanasnya konflik di Timur Tengah dan kenaikan minyak berpotensi menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk IDR.

Di sisi lain, langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia dapat membantu meredam volatilitas pasar. Kepercayaan investor juga akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah rupiah ke depan.

Rupiah Kian Rapuh, Masyarakat Indonesia Mulai Lari ke USDT

Meski rupiah belum menembus Rp18.000, level tersebut kini terasa semakin dekat. Pasar pun menunggu apakah tekanan yang ada akan berlanjut atau justru mulai mereda dalam beberapa pekan mendatang.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait