Rusia Tuding CEO Telegram Bantu Teroris, Kripto GRAM Ambruk 3 Persen

Telegram kembali diterpa kabar buruk. Pemerintah Rusia menuding pendirinya, Pavel Durov, membantu aktivitas terorisme. Kabar tersebut memicu sentimen negatif di pasar, membuat harga GRAM ambruk lebih dari 3 persen dalam 24 jam terakhir.

Rusia Tuding Pavel Durov Fasilitasi Aktivitas Terorisme

Rusia melalui Federal Security Service (FSB) mengumumkan pada Rabu (29/07/2026) bahwa pendiri Telegram, Pavel Durov, diduga memfasilitasi aktivitas terorisme. Otoritas menyatakan telah mendakwa Durov dan menerbitkan surat perintah penangkapan internasional.

“Kepala administrasi Telegram, Pavel Durov, telah didakwa atas dugaan memfasilitasi aktivitas terorisme sebagai bagian dari penyelidikan kasus pidana, dan surat perintah penangkapan internasional terhadap dirinya telah diterbitkan,” demikian pernyataan FSB.

FSB menilai Telegram melanggar hukum Rusia karena tidak menghapus berbagai kanal, grup percakapan, dan bot yang dimanfaatkan oleh badan intelijen Ukraina serta organisasi teroris dan kelompok ekstremis untuk merencanakan berbagai aktivitas ilegal di wilayah Rusia.

Profil Pavel Durov, CEO Telegram dengan Kekayaan Rp278 Triliun!

Penyelidikan terhadap Durov bukan hal baru. Dikutip dari laporan TASS pada Rabu (29/07/2026), Rossiyskaya Gazeta melaporkan pada Februari bahwa kasus dugaan memfasilitasi aktivitas terorisme telah memasuki tahap investigasi.

BACA JUGA:  8 Kripto dengan Buyback Terbesar Sepanjang 2026, Siapa Teratas?

Menurut FSB, lebih dari 153.000 tindak kejahatan yang berkaitan dengan Telegram tercatat di Rusia sejak 2022. Kasus-kasus tersebut mencakup serangan di Crocus City Hall, pembunuhan sejumlah tokoh Rusia, hingga aksi peledakan dan pembakaran fasilitas militer.

Pihak FSB mengklaim menggagalkan 475 aksi teror melalui Telegram, termasuk 61 rencana penembakan massal di sekolah. Roskomnadzor juga disebut telah mengirim lebih dari 150.000 permintaan penghapusan konten yang sebagian besar diabaikan. 

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Harga GRAM Melemah, Investor Pilih Bersikap Hati-Hati

Tidak lama setelah kabar tersebut mencuat, pasar kripto langsung bereaksi. GRAM, aset digital yang sebelumnya dikenal sebagai Toncoin dan memiliki keterkaitan erat dengan ekosistem Telegram, turun lebih dari 3 persen pada Kamis (30/07/2026).

Harga GRAM melemah ke US$1,40 setelah sebelumnya bertahan di sekitar US$1,44. Koreksi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan hukum yang melibatkan CEO Telegram masih menjadi faktor yang diperhatikan pelaku pasar.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Cetak Sinyal Bullish Langka, Terakhir Muncul Sebelum Reli Besar 2022
Pergerakan Harga Kripto GRAM - CoinMarketCap
Pergerakan Harga Kripto GRAM – CoinMarketCap

Meski penurunannya ringan, sentimen negatif tampaknya mendominasi. Investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset yang berkaitan langsung dengan Telegram sambil menunggu kejelasan mengenai kasus yang menjerat pendiri Telegram.

Kondisi ini sebenarnya cukup lazim di industri kripto. Ketika sebuah proyek memiliki hubungan kuat dengan pendiri atau tokoh utamanya, isu hukum maupun regulasi sering kali memengaruhi kepercayaan investor dalam jangka pendek.

Fundamental GRAM Masih Ditopang Ambisi Telegram

Menariknya, tekanan ini muncul beberapa hari setelah Durov mengumumkan Telegram akan menghadirkan dompet kripto non-kustodian bawaan untuk memperluas adopsi kripto melalui platform tersebut.

“Transaksi kripto instan tanpa biaya untuk lebih dari satu miliar pengguna akan segera menjadi kenyataan. Kami menghadirkan dompet kripto GRAM non-kustodian bawaan ke setiap aplikasi Telegram!” ujar Durov.

Melalui dompet non-kustodian, pengguna tetap memegang kendali penuh atas aset digital mereka tanpa bergantung pada pihak ketiga. Konsep ini diyakini dapat membuat transaksi kripto menjadi semudah mengirim pesan melalui Telegram.

GRAM Naik 7 Persen Usai Durov Janjikan Transfer Kripto Gratis di Telegram

Dari sisi fundamental, rencana integrasi wallet crypto tersebut masih menjadi katalis positif GRAM. Utilitas yang semakin luas berpotensi menciptakan permintaan organik terhadap aset digital tersebut apabila implementasinya berjalan sesuai rencana.

BACA JUGA:  Bank Terbesar Rusia Siap Hadirkan Layanan Trading Kripto

Meski beitu, kasus yang membayangi Pavel Durov berpotensi menekan GRAM. Selama ketidakpastian regulasi dan proses hukum berlanjut, sentimen pasar diperkirakan lebih dominan dibanding faktor fundamental.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait