Saat Desentralisasi Kripto Masih di Bawah Bayang Sentralisasi

Gangguan Amazon Web Services (AWS) baru-baru ini membuat layanan kripto seperti Coinbase, Robinhood, dan MetaMask lumpuh total. Jutaan pengguna tidak bisa mengakses akun, bertransaksi, atau membuka wallet mereka.

Meski blockchain berjalan normal, akses ke berbagai platform terhenti karena antarmuka dan API-nya masih bergantung pada server terpusat. Hal ini menyoroti kelemahan mendasar ekosistem Web3 yang masih berpijak pada infrastruktur tradisional.

Insiden ini pun memicu perdebatan lama tentang seberapa “terdesentralisasi” sebenarnya kripto dan Web3. Jika layanan crypto masih bergantung pada penyedia seperti AWS, maka janji desentralisasi tampak masih jauh dari kenyataan.

Desentralisasi Kripto yang Masih Setengah Jalan

Dikutip dari laporan Cointelegraph pada Minggu (26/10/2025), Jamie Elkaleh, Chief Marketing Officer Bitget Wallet, menilai bahwa desentralisasi baru berhasil di lapisan ledger, namun belum di lapisan infrastruktur.

IKLAN
Chat via WhatsApp
BACA JUGA:  Tikus Rakus dan Kripto, Menebak Arah Cerita Iklan Marjan 2026

“Resiliensi sejati bergantung pada diversifikasi melampaui hyperscaler menuju jaringan yang digerakkan komunitas dan bersifat terdistribusi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa desentralisasi penuh belum sepenuhnya layak diterapkan dalam skala besar karena sebagian besar tim masih bergantung pada AWS, Google Cloud, dan Azure demi kepatuhan, kecepatan, serta uptime.

Menurut Elkaleh, fokus industri seharusnya bukan pada desentralisasi total, melainkan pada infrastruktur “credible multi-home” — sistem yang membagi beban kerja antara jaringan terpusat dan terdesentralisasi agar tidak ada satu titik kegagalan.

Ia juga mengakui bahwa penyedia cloud besar seperti AWS memang menawarkan skalabilitas dan juga keamanan tinggi, namun membawa risiko konsentrasi yang besar.

“Jika satu wilayah atau penyedia mengalami gangguan, ratusan aplikasi ikut terdampak,” tambahnya.

Gangguan AWS membuktikan bahwa sebagian besar layanan Web3 masih bergantung pada infrastruktur terpusat. Karena itu, pendekatan hibrida yang memadukan cloud, penyimpanan terdesentralisasi dan node dinilai sebagai langkah logis berikutnya.

BACA JUGA:  Whale Bitcoin Mulai Borong, Titik Bottom Sudah Dekat?

Ketergantungan yang Tak Terelakkan

Selama 15 jam pemadaman tersebut, pengguna tidak bisa mengakses Coinbase dan jaringan Base, sementara API di crypto exchange Robinhood mengalami keterlambatan bahkan kegagalan. 

MetaMask pun sempat menampilkan saldo nol karena layanan data mati, meski aset pengguna tetap aman. Peristiwa ini menunjukkan bahwa sebagian besar layanan masih bergantung pada sistem terpusat.

“Bahkan di Web3, banyak layanan masih sangat tergantung pada infrastruktur yang terpusat,” tegas Anthurine Xiang, Co-founder EthStorage dan QuarkChain. 

Ia menggambarkan situasi itu dengan analogi: “Rumahnya baik-baik saja, tapi pintunya macet.” Blockchain tetap berjalan, namun pengguna tidak bisa mengaksesnya karena kuncinya tidak bisa digunakan.

Sementara itu, Jawad Ashraf, CEO Vanar Blockchain, menyoroti masalah mendasar: “Kita semua masih berjalan di server yang sama.” Ia mengklaim sekitar 70 persen node Ethereum menggunakan layanan AWS, Google, atau Microsoft. 

BACA JUGA:  Industri Kripto RI Terancam? ABI Minta Revisi UU P2SK Dikaji Ulang

Menuju Infrastruktur Web3 yang Lebih Tangguh

Insiden pemadaman AWS seharusnya menjadi peringatan bagi pelaku industri kripto untuk lebih serius menata infrastruktur. Gangguan ini menegaskan bahwa mengandalkan penyedia cloud besar tetap menghadirkan risiko konsentrasi yang tinggi.

Investasi pada decentralized cloud, penyimpanan, dan komputasi sepert Filecoin, dan Arweave menjadi kunci. Model hibrida yang memadukan infrastruktur tradisional dan terdesentralisasi menawarkan keandalan sekaligus mendistribusikan risiko.

Dengan pendekatan ini, Web3 bisa lebih dekat ke desentralisasi sejati—blockchain tetap berjalan, data aman, dan pengguna tetap dapat mengakses layanan tanpa tergantung pada entitas terpusat. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia