Saat IHSG Babak Belur, Bitcoin Justru Terlihat Lebih Rasional

Bitcoin biasanya jadi tersangka utama ketika pembicaraan masuk ke volatilitas. Harganya bisa naik cepat, jatuh brutal, lalu membuat investor bertanya apakah keputusan membeli kemarin benar-benar masuk akal.

Namun, 2026 membawa ironi yang sulit diabaikan. Ketika Bitcoin perlahan kembali mendekati titik awal tahun, IHSG justru kehilangan hampir separuh nilainya dalam waktu kurang dari sepuluh bulan.

Di titik itu, pertanyaannya mulai berubah. Bukan lagi sekadar apakah investasi Bitcoin terlalu berisiko, tetapi aset mana yang sebenarnya lebih mampu mempertahankan nilai ketika tekanan pasar datang.

Saat IHSG Mulai Kehilangan Pijakan

Awal 2026 sebenarnya tidak terlihat buruk bagi pasar saham Indonesia. Pada 2 Januari, IHSG ditutup di level 8.748,13 dan masih sempat melanjutkan reli beberapa pekan berikutnya.

Puncaknya datang pada 20 Januari. IHSG sempat menyentuh penutupan tertinggi 9.134,70, membuat awal tahun terlihat cukup menjanjikan bagi investor yang berharap reli berlanjut lebih panjang.

Masalahnya, cerita setelah itu bergerak ke arah berbeda. Tekanan datang berulang, sementara kepercayaan investor perlahan terkikis hingga indeks akhirnya jatuh jauh dari posisi awal tahun.

Pada 16 Oktober, harga IHSG ditutup di 5.185,10 setelah ambruk sekitar 11,57 persen hanya dalam satu hari. Penurunan itu menjadi yang terdalam sejak krisis Asia pada 1998.

Jika dibandingkan dengan posisi 2 Januari, IHSG sudah kehilangan sekitar 40,73 persen. Dengan kata lain, reli awal tahun bukan hanya habis, tetapi berubah menjadi koreksi yang jauh lebih dalam.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan
Pergerakan Harga IHSG Semenjak Awal Tahun 2026 - TradingView
Pergerakan Harga IHSG Semenjak Awal Tahun 2026 – TradingView

Tekanan itu datang setelah MSCI membuka kemungkinan Indonesia direklasifikasi dari emerging market menjadi standalone market. Risiko itu langsung memukul sentimen karena menyangkut posisi saham Indonesia di berbagai indeks global.

BACA JUGA:  Tak Semua Korporasi Terus Borong Bitcoin, Tiga Emiten Pilih Jalan Berbeda

Bitcoin Juga Dihajar, tetapi Tidak Tinggal Diam

Bitcoin tentu tidak melewati 2026 dengan santai. Pada 2 Januari, harga BTC berada di sekitar US$89.945 atau setara Rp1,50 miliar berdasarkan kurs dan harga Bitcoin saat itu.

Beberapa pekan kemudian, Bitcoin masih sempat menguat. Pada pertengahan Januari, nilainya menembus kisaran US$97.000, yang jika dikonversikan setara sekitar Rp1,63 miliar per BTC.

Setelah itu, pasar kripto ikut kehilangan tenaga. Harga Bitcoin bahkan sempat jatuh ke sekitar US$58.558 pada akhir Juni, menjadi salah satu titik terendahnya sepanjang 2026.

Kalau hanya melihat titik tersebut, BTC jelas terlihat brutal. Investor yang membeli dekat puncak Januari harus menelan koreksi besar sebelum pasar perlahan menemukan pijakan kembali.

Bedanya, Bitcoin tidak tinggal di dasar terlalu lama. Pada pertengahan Oktober 2026, harganya sudah kembali ke sekitar US$81.500 atau setara Rp1,47 miliar per BTC.

Artinya, perjalanan BTC memang jauh lebih berliku. Harganya sempat jatuh cukup dalam, memantul, lalu kembali mendekati titik awal tahun ketika IHSG justru masih tertinggal jauh.

Pergerakan Harga BTC Semenjak Awal Tahun 2026 - TradingView
Pergerakan Harga BTC Semenjak Awal Tahun 2026 – TradingView

Di sinilah ironi terasa. Aset yang sering dicap paling liar justru mampu memperbaiki sebagian besar kerusakan, sementara indeks saham nasional RI belum menemukan jalan pulang yang sama.

Kalau Rp10 Juta Ditaruh di Keduanya

Supaya ceritanya lebih mudah dibaca, bayangkan ada dua investor pada 2 Januari. Keduanya membawa modal Rp10 juta, tetapi satu mengikuti IHSG dan satu lagi membeli Bitcoin.

Investor IHSG sempat berada dalam posisi cukup nyaman. Ketika indeks mencapai puncaknya pada 20 Januari, nilai investasinya secara teoritis naik menjadi sekitar Rp10,44 juta.

BACA JUGA:  Pasar Kripto Anjlok, Bitcoin Jebol US$81.000, Ini 5 Biang Keroknya

Investor Bitcoin mendapat ruang sedikit lebih besar. Saat BTC mencapai kisaran US$97.000 atau sekitar Rp1,63 miliar, modal Rp10 juta tadi secara kasar sempat berubah menjadi Rp10,89 juta.

Namun, ceritanya berubah total jika kedua investor tersebut memilih diam sampai pertengahan Oktober ini. Eksposur Rp10 juta terhadap IHSG secara kasar menyusut menjadi hanya sekitar Rp5,93 juta.

Pada Bitcoin, nilainya masih berada di sekitar Rp9,80 juta ketika BTC diperdagangkan sekitar US$81.500. Bukan keuntungan, tetapi jaraknya dengan kerugian IHSG terlihat mencolok.

Perbandingan ini memperlihatkan efek kurs bagi investor Indonesia. Meski BTC masih lebih rendah dalam dolar AS dibandingkan awal tahun, pelemahan rupiah membantu menahan penurunannya dalam denominasi IDR.

Perbandingan Investasi Bitcoin vs IHSG
Perbandingan Investasi Bitcoin vs IHSG

Pemerintah Mulai Bergerak, tetapi Pasar Minta Lebih

Tekanan besar di IHSG akhirnya membuat reformasi pasar modal kembali masuk meja utama. OJK menegaskan sejumlah langkah sudah disiapkan untuk memperbaiki transparansi dan kualitas pasar Indonesia.

Agenda tersebut mencakup keterbukaan kepemilikan saham di atas satu persen, peningkatan batas minimum free float, serta publikasi lebih rinci mengenai konsentrasi kepemilikan saham.

Pemerintah juga sadar bahwa masalahnya tidak cukup diselesaikan dengan pengumuman. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan bahwa reformasi harus benar-benar terlihat hasilnya oleh pasar.

“Ini menjadi catatan bagi kita ke depan bahwa reformasi itu harus dijalankan dan progresnya itu harus kelihatan, terutama progresnya harus kelihatan bagi para investor dalam negeri maupun luar negeri,” kata Airlangga, dikutip dari laporan Antara pada Jumat (16/10/2026).

Kalimat itu mungkin sederhana, tetapi konteksnya cukup berat. Pasar kini menghadapi risiko keluarnya modal dalam jumlah besar jika Indonesia benar-benar kehilangan status emerging market MSCI.

BACA JUGA:  ZachXBT Bongkar Sindikat China yang Cuci US$1 Miliar untuk Hacker Korut

Berdasarkan laporan Reuters pada Jumat (16/10/2026), sejumlah bank memperkirakan reklasifikasi tersebut dapat memicu arus keluar sekitar US$3 miliar hingga US$6 miliar dari dana pasif.

JPMorgan menaksir nilainya sekitar US$4,8 miliar. Sementara itu, UBS memperingatkan investor aktif berpotensi menarik tambahan dana hingga US$15 miliar jika skenarionya terjadi.

Jadi, Bitcoin Lebih Rasional?

Kalau ukurannya hanya kinerja dari Januari sampai Oktober, jawabannya terlihat cukup jelas. Bitcoin memang lebih liar, tetapi kerusakan akhirnya jauh lebih kecil dibandingkan IHSG.

Namun, menyebut Bitcoin lebih aman tetap terlalu jauh. BTC sempat jatuh puluhan persen dalam beberapa bulan dan investor yang salah masuk tetap bisa mengalami tekanan yang sangat besar.

Yang lebih menarik justru bagaimana pasar memaksa definisi risiko menjadi lebih luas. Volatilitas tinggi belum tentu selalu berakhir dengan kerugian paling besar.

Rupiah Kian Rapuh, Masyarakat Indonesia Mulai Lari ke USDT

Sebaliknya, aset yang dianggap lebih mapan juga tidak otomatis kebal ketika masalah kepercayaan, likuiditas, tata kelola dan arus modal datang secara bersamaan.

Jadi, Bitcoin mungkin belum berubah menjadi aset konservatif. Tetapi sepanjang 2026, ia setidaknya berhasil melakukan sesuatu yang belum dilakukan IHSG: kembali mendekati titik awal

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait