Saat Rupiah Anjlok, Dolar AS Ternyata Lebih Cuan daripada Bitcoin

Di tengah gejolak pasar, banyak orang menganggap Bitcoin sebagai aset yang menawarkan potensi cuan paling besar. Namun, dalam satu tahun terakhir, kenyataannya justru berbeda. Saat harga BTC tertekan, dolar AS diam-diam mencatatkan performa impresif.

Lantas, benarkah sekadar menyimpan dolar AS kini lebih menguntungkan dibanding investasi Bitcoin? Jika melihat pergerakan keduanya dalam 12 bulan terakhir, jawabannya mungkin akan mengejutkan banyak orang.

Saat Bitcoin Berdarah, Dolar AS Diam-Diam Menang

Nilai tukar rupiah yang melemah ke kisaran Rp18.100–Rp18.190 per dolar AS pada Selasa (09/06/2026) ikut mendongkrak nilai aset berbasis USD. Bahkan, dalam satu tahun terakhir, performa dolar AS tercatat lebih unggul dibanding Bitcoin jika diukur terhadap rupiah. 

Data menunjukkan pasangan BTC/IDR masih terkoreksi sekitar 33 persen dalam periode tersebut. Sebaliknya, USDT/IDR justru mencatat kenaikan sekitar 11,2 persen, yang mencerminkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

BACA JUGA:  Rupiah Kian Rapuh, Masyarakat Indonesia Mulai Lari ke USDT
Perbandingan Return Bitcoin dan Dolar AS saat Rupiah Melemah - CoinGecko
Perbandingan Return Bitcoin dan Dolar AS saat Rupiah Melemah – CoinGecko

Jika disimulasikan dengan modal awal Rp10 juta setahun lalu, investor yang membeli Bitcoin kini hanya memiliki aset senilai sekitar Rp6,7 juta. Artinya, nilai investasinya menyusut sekitar Rp3,3 juta dibanding modal awal.

Di sisi lain, Rp10 juta yang dikonversi menjadi dolar AS atau stablecoin USDT berpotensi tumbuh menjadi sekitar Rp11,12 juta. Dengan kata lain, investor bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp1,12 juta hanya dari penguatan dolar terhadap rupiah.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa keuntungan tidak selalu datang dari aset dengan volatilitas tinggi. Dalam kondisi tertentu, pergerakan nilai mata uang justru mampu memberikan imbal hasil yang lebih menarik dibanding aset kripto terbesar di dunia.

Pelemahan Rupiah Jadi Angin Segar bagi Dolar AS

Fenomena ini juga tidak hanya terjadi pada rupiah. Sejumlah mata uang Asia ikut mengalami tekanan terhadap dolar AS pada perdagangan sehari sebelumnya, menandakan kuatnya dominasi greenback di pasar global.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan
BACA JUGA:  Polisi Ungkap Jaringan Pig Butchering Kripto di Sukoharjo

Ringgit Malaysia memimpin pelemahan mata uang dengan penurunan 1,2 persen terhadap dolar AS. Diikuti baht Thailand (0,30 persen), dong Vietnam (0,28 persen), yuan China (0,26 persen), dolar Taiwan (0,15 persen), dolar Singapura (0,05 persen), dan yen Jepang (0,02 persen).

Permintaan dolar AS sebagai aset safe haven masih tinggi di tengah ketidakpastian. Negosiasi Amerika Serikat dan Iran yang belum membuahkan hasil, serta konflik Israel-Hizbullah di Lebanon, membuat investor kembali memburu dolar AS.

Di saat yang sama, data tenaga kerja Amerika Serikat yang kuat dan juga ekspektasi suku bunga tinggi dari Federal Reserve semakin memperkokoh posisi mata uang USD di pasar global.

Rupiah Kian Rapuh, Masyarakat Indonesia Mulai Lari ke USDT

Ironisnya, ketika banyak investor sibuk mengejar cuan dari BTC, pelemahan IDR membuat dolar AS keluar sebagai pemenang. Setidaknya dalam satu tahun terakhir, strategi sederhana menyimpan aset berbasis USD mampu menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

BACA JUGA:  Siap Siaga! Harga Bitcoin Bisa Demam Parah ke Bawah 50 Ribu Dolar

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait