Kripto semakin ramai diperbincangkan, terutama di kalangan generasi muda yang penasaran dengan potensinya. Namun, Sandiaga Uno menekankan perlunya pemahaman yang matang sebelum masuk ke pasar digital ini.
Dalam podcast Daging Talk pada Rabu (25/03/2026), Sandiaga berbagi pengalamannya bersama Atta Halilintar, menekankan bahwa kripto sebaiknya dipandang bukan sebagai instrumen investasi, melainkan sebagai sarana edukasi.
Kripto Hanya untuk Belajar, Bukan Investasi
Sandiaga Uno mengungkapkan bahwa dirinya sempat memiliki eksposur di kripto, meski dalam jumlah yang sangat kecil. Ia bahkan sempat menikmati keuntungan sebelum akhirnya keluar dari pasar.
Namun, menurutnya, tujuan utama sejak awal memilih crypto bukanlah untuk digunakan sebagai investasi jangka panjang, melainkan sebagai sarana edukasi.
“Karena kita masukin kripto itu bukan portofolio investasi, tapi portofolio edukasi. Kita itu ingin belajar,” jelasnya.
Selain itu, ia juga mengakui bahwa hingga saat ini dirinya masih belum benar-benar memahami konsep pasar kripto secara utuh, terutama terkait mekanisme pergerakannya.
“Aku tetap enggak ngerti sampai sekarang… apa yang memicu kripto itu akan naik, apa yang memicu itu akan turun,” tambahnya.
Pernyataan ini menjadi sorotan, mengingat crypto sering dipromosikan sebagai aset dengan potensi keuntungan tinggi. Namun bagi Sandiaga, ketidakpastian tersebut justru menjadi alasan untuk lebih berhati-hati.
Belum Jadi Safe Haven, Risiko Kripto Tetap Tinggi
Lebih lanjut, Sandiaga juga menyoroti narasi safe haven yang sering dikaitkan dengan mata uang kripto. Namun, menurutnya, hingga kini crypto masih belum memiliki posisi yang jelas dalam sistem keuangan global.
Ia sempat berekspektasi bahwa kondisi seperti konflik geopolitik atau ketidakpastian ekonomi akan mendorong harga kripto naik, layaknya aset lindung nilai. Namun, realitanya tidak selalu demikian.
“Kadang-kadang kan mestinya perang kayak gini ini akan naik luar biasa kan aset kripto itu… tapi ternyata belum terlihat,” ungkapnya.
Menurutnya, dalam kondisi pasar global yang tengah dihantui ketegangan geopolitik di Timur Tengah saat ini, investor justru lebih banyak beralih ke aset yang sudah terbukti seperti emas atau komoditas energi.
Bukan Kripto Lagi, Minyak Kuasai Volume Transaksi di Hyperliquid
Pandangan ini mempertegas bahwa mata uang kripto masih berada dalam fase pencarian identitas. Apakah digunakan sebagai safe haven, alat pembayaran, atau sekadar aset spekulatif.
Fokus Belajar, Bukan Sekadar Ikut Tren
Di tengah tren “cepat kaya” yang semakin marak dan lekat dengan kripto, Sandiaga Uno mengingatkan pentingnya memiliki pendekatan yang lebih rasional terhadap strategi investasi.
Ia menilai bahwa tidak semua orang cocok dengan pola trading cepat atau spekulatif, terutama jika tidak memiliki waktu dan pemahaman yang cukup.
“Kalau yang mau cuan berkelanjutan, lakukanlah investasi dengan pola jangka panjang,” tegasnya.
Pandangan ini menjadi pengingat bahwa kripto, meski menarik, tetap memiliki risiko tinggi. Bagi sebagian orang, pendekatan terbaik mungkin bukan mengejar profit, melainkan menjadikannya sebagai sarana belajar.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



