Gemini Trust, perusahaan bursa kripto besutan saudara kembar Tyler dan Cameron Winklevoss, mengumumkan dolar Gemini (GUSD) pada hari Senin, 10 September, seperti dilansir dari CNBC.com. GUSD adalah stablecoin teregulasi yang dibuat agar orang dapat mengirim dan menerima dolar AS memakai jaringan blockchain Ethereum.

Sifat uang kripto yang volatil membuatnya sulit digunakan sebagai alat pembayaran. Stablecoin yang memiliki harga tetap diharapkan dapat menjadi solusi. GUSD yang sudah menerima persetujuan dari Departemen Layanan Keuangan (Department of Financial Services) New York direncanakan agar memiliki nilai sebanding dengan dolar AS: satu dolar Gemini sama dengan satu dolar AS.

Harapan dari diluncurkannya stablecoin ini adalah untuk menjembatani jurang antara sistem perbankan tradisional dengan pasar uang kripto. Walau banyak individu yang membeli kripto sebagai investasi, masih jarang yang menggunakanya untuk jual beli barang atau jasa. Inovasi terbaru ini memungkinkan orang untuk mengubah dolar AS mereka menjadi dolar Gemini (atau sebaliknya), sehingga mereka bisa melakukan transaksi di seluruh dunia. Dolar Gemini akan disimpan di bank State Street yang bermarkas di Boston, AS.

BERITA TERKAIT  Lawan Sertifikat Palsu, Sony dan Fujitsu Pakai Blockchain

Dolar Gemini diluncurkan beberapa minggu setelah permohonan izin ETF yang diajukan firma Winklevoss mendapat penolakan kedua kalinya oleh Otoritas Jasa Keuangan (Securities and Exchange Commission) AS. Walau begitu, Tyler dan Cameron Winklevoss tetap semangat meluncurkan produk kripto terbaru mereka.

“Ini adalah soal membawa dolar AS Anda ke blockchain dan menjadikannya tanpa batas 24 jam sehari 7 hari seminggu,” ujar Tyler Winklevoss kepada CNBC.

Winklevoss mengatakan Bitcoin mirip dengan emas sebagai simpanan nilai (store of value), dan kurang cocok sebagai alat pembayaran. Ia mengatakan bila sesuatu berlaku sebagai simpanan nilai yang baik, sangat sedikit orang yang ingin membelanjakannya.

Selain itu, sifat kripto yang volatil, seperti yang terlihat selama tahun 2018 ini, membatasi daya tarik kripto dan meningkatkan resiko penggunaannya sebagai alat pembayaran. Selama tahun 2018 saja, Bitcoin telah anjlok sebesar 53 persen, menurut CoinDesk.

BERITA TERKAIT  Mati Greenspan: Valuasi Litecoin (LTC) Tak Hanya Gara-gara Reward Halving

“Jikalau Anda membeli sesuatu memakai Bitcoin atau Ether, Anda bisa membayar kurang atau lebih secara signifikan,” tegas Winklevoss.

Volatilitas adalah salah satu tantangan yang menghambat uang digital digunakan secara massal sebagai alat pembayaran. Akibatnya, minat perlahan-lahan tumbuh untuk stablecoin, kripto berharga tetap yang dipatok kepada aset stabil seperti emas atau mata uang lain.

Tether (USDT), yang diterbitkan Tether Limited, adalah salah satu contoh stablecoin yang digunakan saat ini. Tetapi banyak kritik dan kontroversi yang mengelilingi Tether.

Michael Moro, CEO Genesis Global Trading, mengatakan bahwa firmanya belum menyimpan stablecoin. Ia mengatakan kepada CNBC bahwa saat ini stablecoin hanya murni diperdagangkan di bursa-bursa, tetapi potensi stablecoin sebetulnya lebih luas daripada itu.

BERITA TERKAIT  Harga Bitcoin Berpotensi Turun di Bawah Rp100 Juta

Winklevoss mengatakan stablecoin yang sudah ada saat ini masih bermasalah soal transparansi dan pengawasan. Ia menjelaskan belum ada stablecoin yang bisa memecahkan masalah kepercayaan secara baik. Dolar Gemini, stablecoin teregulasi pertama di dunia, diharapkan dapat memecahkan masalah itu. [ed]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO