Investasi SBI Holdings ke Ajaib Group tampak seperti satu lagi transaksi besar di industri fintech dan kripto Asia. Namun, jika melihat apa yang sedang dibangun raksasa keuangan Jepang tersebut, nilai strategis kesepakatan ini tampaknya jauh melampaui perdagangan Bitcoin.
Berdasarkan laporan Detik pada Jumat (28/8/2026), SBI Holdings telah berinvestasi ke Ajaib Group melalui anak usahanya.
Transaksi tersebut memberikan SBI kepemilikan 20 persen dan membuat Ajaib menjadi perusahaan afiliasi yang dicatat menggunakan metode ekuitas. Ajaib kemudian mengungkap nilai pendanaan mencapai US$270 juta, setara Rp4,8 triliun.
Angka itu besar. Tetapi, pertanyaan yang lebih menarik bukan mengapa SBI bersedia mengeluarkan dana fantastis, tapi apa sebenarnya yang ingin mereka beli di Indonesia?
Rp4,8 Trilun untuk Lebih dari Sekadar Kripto
Melihat Ajaib hanya sebagai exchange kripto membuat transaksi ini kehilangan konteks terpentingnya.
Perusahaan yang awalnya tumbuh sebagai platform perdagangan saham itu kini menyediakan akses ke saham domestik dan internasional, obligasi, reksa dana, ETF, aset kripto, stablecoin, komoditas hingga valuta asing.
Ajaib juga memiliki layanan pembayaran dan simpanan, serta settlement stablecoin OTC bagi perusahaan dan investor institusional di Indonesia. SBI sendiri menyebut Ajaib telah digunakan oleh jutaan investor ritel.
Dengan kata lain, SBI tidak membeli eksposur pada satu jenis aset. Mereka membeli posisi di sebuah jalur distribusi yang menghubungkan investor Indonesia dengan semakin banyak produk finansial.
Ini penting karena teknologi finansial relatif mudah direplikasi. Produk baru bisa diluncurkan, aplikasi bisa dibangun dan modal bisa disediakan.
Namun, mendapatkan pengguna, membangun kepercayaan, memahami regulasi lokal dan menciptakan distribusi dalam skala nasional membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang. Ajaib sudah memiliki sebagian dari pekerjaan tersebut.
Yang Dicari SBI Bisa Jadi Adalah Distribusi
Petunjuk paling jelas justru datang dari strategi SBI sendiri. Perusahaan Jepang itu sedang membangun apa yang mereka sebut SBI APAC Digital Economic Zone, sebuah jaringan infrastruktur keuangan digital dengan fokus besar pada Asia Pasifik dan Asia Tenggara.
SBI sudah mengoperasikan SBI VC Trade di Jepang dan memiliki Coinhako di Singapura. Di sisi institusional, grup tersebut mengendalikan market maker kripto B2C2. Mereka juga sedang mengembangkan stablecoin yen JPYSC serta Strium, blockchain layer-1 yang dirancang untuk kebutuhan finansial.
Ketua dan Presiden SBI Holdings, Yoshitaka Kitao, bahkan menyebut kombinasi produk finansial tradisional dan aset digital milik Ajaib cocok dengan visi tersebut.
Di sinilah transaksi Rp4,8 triliun mulai terlihat berbeda. Ajaib berpotensi memberikan SBI sesuatu yang tidak bisa langsung diperoleh hanya dengan meluncurkan exchange baru, yakni distribusi lokal.
Investasi ini juga berkaitan dengan ambisi SBI dalam memperluas JPYSC dan infrastruktur settlement berbasis blockchain di Asia Tenggara. Namun, belum ada konfirmasi bahwa JPYSC akan tersedia langsung bagi pengguna Ajaib.
Perbedaannya penting. SBI belum tentu sedang membeli Ajaib karena produk yang paling popular di platform tersebut hari ini. Mereka bisa jadi membeli tempat di mana berbagai produk finansial baru akan didistribusikan besok.
Taruhan pada Infrastruktur Finansial Indonesia
Co-Founder dan CEO Ajaib, Anderson Sumarli, mengatakan masa depan layanan finansial di Asia Tenggara akan semakin dibentuk oleh aset digital, tokenisasi aset dunia nyata (RWA) dan kecerdasan buatan (AI).
Pandangan itu memberi konteks lain pada transaksi ini. Jika tokenisasi, stablecoin dan settlement on-chain benar-benar bergerak dari eksperimen menuju produk finansial sehari-hari, pemenangnya belum tentu perusahaan yang menciptakan teknologi terbaik.
Bisa jadi yang paling diuntungkan adalah perusahaan yang sudah menguasai jalur menuju pengguna.
Jadi, SBI memang membeli 20 persen Ajaib. Tetapi aset paling menarik dari kesepakatan tersebut mungkin bukan Bitcoin yang diperdagangkan di platform-nya. Yang mereka beli adalah posisi di jalur tempat investor Indonesia akan mengakses produk finansial berikutnya, apa pun bentuk produk itu nanti.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


