Sedih! Investor Ini Beli Properti Seharga 2.900 BTC, Berakhir Dijual 7 BTC

Kisah dari awal perkembangan Bitcoin kembali menjadi sorotan. Kali ini datang dari pelaku industri crypto mining, Wang Chun, salah satu pendiri F2Pool, yang membagikan pengalaman pribadinya terkait keputusan investasi di masa lalu.

Nilai Properti yang Anjlok Dari 2.900 BTC ke 7 BTC

Wang Chun mengungkapkan lewat sebuah unggahan di X pada Selasa (31/03/2026) bahwa pada 2015 ia membeli sebuah kondominium di Thailand, menggunakan 2.900 Bitcoin. Saat itu, harga Bitcoin masih berada di sekitar US$270 per koin.

Jika dikonversi, nilai pembelian tersebut sekitar US$785.000. Angka ini tergolong besar, apalagi properti tersebut merupakan rumah pertama yang pernah ia miliki. Namun, situasinya berubah ketika ia menjual properti itu dengan harga jauh lebih rendah.

“Pada 2015, saya membeli kondominium Naklua di Pattaya Utara seharga 2.900 BTC. Itu adalah rumah pertama yang pernah saya miliki. Kemarin, saya menjual kondominium ini seharga 7 BTC,” jelasnya.

IKLAN
Chat via WhatsApp
BACA JUGA:  Harga Bitcoin Hari Ini Naik Tipis, Singgah di Level Rp1,15 Miliar

Secara nilai saat ini, harga jual tersebut setara sekitar US$470.000. Artinya, nilai properti itu turun sekitar 40 persen. Meski begitu, sorotan utama bukan hanya pada penurunan harga properti, tetapi pada potensi kenaikan harga Bitcoin yang tidak lagi dimiliki.

Harga Bitcoin Melonjak Tajam, Selisihnya Jadi Sorotan

Sejak 2015, harga Bitcoin mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Dari ratusan dolar, Bitcoin sempat menyentuh lebih dari US$126.000 pada Oktober 2025.

Jika 2.900 BTC tersebut disimpan, nilainya bisa mencapai sekitar US$365 juta di titik tertinggi. Bahkan dengan harga BTC saat ini di kisaran US$67.000, nilainya masih sekitar US$194 juta.

Perbedaan ini menunjukkan dampak besar dari keputusan di masa awal. Menggunakan Bitcoin untuk membeli aset lain berarti melepas potensi kenaikan yang sangat besar di masa depan.

BACA JUGA:  10 Proyek Kripto dengan Pengembangan Teraktif Bulan Ini

Sebagai perbandingan, aset tradisional seperti emas dan saham tetap mencatat kenaikan. Namun, kenaikannya berada di kisaran 200 hingga 300 persen, jauh di bawah pertumbuhan Bitcoin dalam periode yang sama.

Bukan Sekadar Angka, Ada Cerita di Baliknya

Meski terlihat seperti keputusan yang merugikan jika dilihat dari sekarang, Wang Chun menilai pengalaman tersebut tetap berharga.

Selama tinggal di Pattaya, ia mendapatkan pengalaman hidup di luar negeri untuk pertama kalinya. Ia juga mengembangkan bisnisnya, termasuk membangun F2Pool dan meluncurkan mining pool untuk Zcash.

“Saat pertama kali pindah ke sini, saya belum pernah menginjakkan kaki di negara maju. Di sinilah saya mulai mengubah arah hidup dan mengalihkan fokus dari negara tempat saya dilahirkan,” ujarnya.

Kisah ini juga menunjukkan bahwa tidak semua keputusan di awal perjalanan kripto berujung sama. Ada yang memilih menggunakan Bitcoin; ada juga yang justru mengumpulkannya.

BACA JUGA:  Bitcoin Lagi Evaluasi Besar, Arus ETF Jadi Sinyal Penting

Salah satu contoh datang dari Changpeng Zhao yang menjual apartemennya untuk membeli Bitcoin di harga sekitar US$600 per koin. Keputusan berbeda ini menghasilkan hasil yang juga sangat berbeda.

Mengenal Changpeng Zhao, Mantan CEO Binance dengan Kekayaan Rp120T!

Pada akhirnya, cerita Wang Chun menjadi pengingat sederhana. Di dunia kripto, waktu dan keputusan memegang peranan besar. Apa yang terlihat biasa hari ini, bisa jadi memiliki nilai yang sangat berbeda di masa depan.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait