Selat Hormuz Memanas, Bitcoin Terancam Ikut Terguncang

Ketegangan geopolitik yang meningkat di kawasan Selat Hormuz memunculkan kekhawatiran baru di pasar keuangan global, termasuk potensi dampaknya terhadap Bitcoin dan pasar kripto.

Dalam analisis terbaru yang dipublikasikan di CryptoQuant, tim riset XWIN Research Japan menilai bahwa gangguan berkepanjangan di jalur energi strategis tersebut dapat memicu rangkaian tekanan makroekonomi yang pada akhirnya turut memengaruhi pergerakan Bitcoin.

Selat Hormuz merupakan salah satu titik distribusi energi paling vital di dunia. Sekitar 20 juta barel minyak dan produk petroleum diperkirakan melewati jalur ini setiap hari.

Jika aliran energi melalui kawasan tersebut terganggu, pasar global berpotensi menghadapi guncangan pasokan energi yang dapat memicu lonjakan harga minyak dan gas.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Menurut analisis yang dirilis oleh XWIN Research Japan, kenaikan harga energi tersebut dapat menimbulkan efek berantai terhadap kondisi ekonomi global. Inflasi berpotensi meningkat, sementara bank sentral di berbagai negara menghadapi tekanan untuk memperketat kebijakan moneter guna mengendalikan kenaikan harga.

“Gangguan di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada pasar energi, tetapi juga dapat memicu perubahan likuiditas global yang memengaruhi aset berisiko seperti Bitcoin,” ungkap XWIN Research Japan.

BACA JUGA:  Mitra KYC OpenAI Diduga Kirim Data Crypto Wallet ke Pemerintah AS

Dalam skenario seperti itu, kondisi keuangan global cenderung menjadi lebih ketat. Ketika likuiditas menyusut dan ketidakpastian meningkat, investor sering kali mengurangi eksposur terhadap aset yang dianggap memiliki volatilitas tinggi.

Dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin sering diperdagangkan dengan karakteristik yang lebih mirip aset berisiko dibandingkan safe haven tradisional.

Jalur Energi Vital Dunia dan Risiko Inflasi Global

Selat Hormuz memiliki peran krusial dalam sistem energi global karena keterbatasan jalur alternatif yang dapat menggantikannya. Kapasitas jaringan pipa yang dapat menghindari selat tersebut relatif kecil, sementara sebagian besar perdagangan gas alam cair (LNG) dunia juga melewati jalur yang sama.

Apabila aliran energi menurun secara drastis, harga minyak dan gas berpotensi melonjak tajam. Kenaikan harga energi ini dapat mendorong inflasi global lebih tinggi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Dalam kondisi seperti ini, pasar keuangan biasanya merespons melalui peningkatan volatilitas serta rotasi aset oleh investor global.

BACA JUGA:  Ferry Irwandi Soroti Tujuan Bitcoin, Benarkah Selama Ini Disalahpahami?

XWIN Research Japan menjelaskan bahwa guncangan geopolitik sering kali memicu tekanan likuiditas di berbagai pasar. Dalam fase awal ketidakpastian, pelaku pasar cenderung menjual berbagai aset untuk menjaga likuiditas, termasuk Bitcoin, sebelum kondisi pasar kembali stabil.

Sejak tahun 2020, berbagai peristiwa global menunjukkan bahwa Bitcoin sering bergerak searah dengan pasar saham ketika tekanan makroekonomi meningkat. Hal ini menandakan bahwa pergerakan Bitcoin dalam situasi krisis global dapat dipengaruhi oleh dinamika likuiditas yang lebih luas.

Indikator Derivatif Jadi Kunci Membaca Risiko Bitcoin

Dalam analisisnya, tim XWIN Research Japan juga menyoroti pentingnya memantau indikator derivatif untuk memahami potensi dampak guncangan geopolitik terhadap Bitcoin. Salah satu indikator utama yang diperhatikan adalah Open Interest (OI), yang mencerminkan jumlah total kontrak futures yang masih terbuka di pasar.

open interest Bitcoin

Open Interest memberikan gambaran mengenai tingkat leverage yang digunakan oleh trader. Semakin tinggi nilai OI, semakin besar pula potensi volatilitas jika pasar mengalami pergerakan mendadak.

Funding Rate BTC

Selain itu, funding rate pada kontrak futures perpetual juga menjadi indikator penting untuk melihat dominasi posisi long atau short di pasar. Kombinasi Open Interest yang tinggi dengan funding rate ekstrem sering kali menandakan bahwa pasar berada dalam kondisi posisi yang terlalu padat.

BACA JUGA:  Aktivitas Bitcoin Melambat, Tapi Akumulasi Besar Terjadi

Dalam situasi tersebut, pergerakan harga yang tajam dapat memicu likuidasi berantai yang memperbesar volatilitas Bitcoin dalam waktu singkat.

Di sisi lain, sejumlah analis teknikal juga mulai memperingatkan potensi tekanan harga dalam jangka pendek. Analis kripto Captain Faibik dalam pengamatannya terhadap grafik harian menyebut bahwa struktur pola bearish flag pada Bitcoin masih aktif.

analisis BTC 15 maret

Menurut analisis tersebut, jika terjadi penembusan ke bawah dari pola tersebut, harga BTC berpotensi menguji area sekitar US$55.000.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait