Setelah Bitcoin, BitTorrent Token (BTT) Melejit 72 Persen

Vinsensius Sitepu
Pemimpin Redaksi Blockchainmedia.id, Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI)

Kenaikan harga Bitcoin (BTC) memang tak terbendung. Pasalnya setelah memuncak di Rp119 juta, hari ini Bitcoin terpantau berada di level Rp116,9 juta di bursa aset kripto Indodax. BTC tampaknya rehat sejenak dengan penurunan tipis, 1,2 persen dalam 24 jam. Namun, satu aset kripto, yakni BitTorrent Token (BTT), naik hingga 72 persen terhitung sejak 13 Mei 2019 di kisaran Rp9. Hari ini, Selasa (21/05), BTT menyentuh kisaran Rp19 di Indodax. Dalam 24 jam BTT naik lebih dari 25 persen.

Harga BTT tersebut membuat BTT berada di harga baru tertinggi sejak 5 Februari 2019 yang berada di kisaran US$0,001244 (Rp17,4).

Sumber: https://coinmarketcap.com

Sejak awal Februari itu BTT memang melempem di wilayah tren turun. Maklumlah, beberapa hari sebelumnya BTT baru muncul ke pasar melalui Binance Launchpad, tapi diserap oleh investor hanya dalam hitungan menit. Di antara Maret hingga awal Mei 2019 BTT diperdagangkan stabil, cenderung bervolalitas rendah.

BACA JUGA  Proyek DeFi 2024 Semakin Menggeliat, Analisis TRX, APT, dan Pullix (PLX)

Kenaikan baru ini bisa jadi didorong oleh penawaran fitur VPN pada client software BitTorrent, yang diumumkan pada dua hari yang lalu. Kemudian pada 13 Mei tim BitTorrent meluncurkan “BTT Use Case Campaign”, sebagai penanda peluncuran fitur VPN tersebut.

BTT diterbitkan di blockchain Tron besutan TRON Foundation yang didirikan oleh Justin Sun. Pada Juni 2018, TRON mengakuisisi BitTorrent, yang merupakan pemain lama sejak tahun 2004 di bidang teknologi peer-to-peer. BTT ditujukan khusus sebagai native currency di software BitTorrent, tak hanya memudahkan pembelian fitur, tetapi pula sebagai aspek insentif bagi “seeder” agar tidak menghapus file yang bermanfaat mempermudah dan mempercepat proses pengunduhan file.

Pengguna BitTorrent, bisa juga menggunakan BTT untuk “membeli bandwidth” ataupun versi premium agar tiada iklan di dalamnya.

BACA JUGA  BitTorrent Token (BTT) Terus Bullish 155 Persen, Mengapa?

Selain pemanfaatan BTT di BitTorent, satu terobosan yang ditunggu adalah penerapan BTT di aplikasi mobile BitTorrent Live. Aplikasi ini digadang-gadang mirip seperti Tik Tok yang terkenal itu. BitTorent Live menggunakan BTT sebagai imbalan bagi video maker termasuk para audiensnya.

Sebagai catatan tambahan, BitTorrent bukanlah “anak kemarin sore”. Ia lahir pada tahun 2004, jauh sebelum datangnya “kerancakbanaan” blockchain dan aset kripto, tetapi telah menerapkan konsep desentralisasi. Pengguna aktifnya saat ini mencapai 200 juta di ratusan negara di dunia. Sebelum adanya monetisasi aset kripto di dalamnya, praktis penggunaan BitTorrent adalah gratis dan sistem pembayaran masih menggunakan kartu kredit ataupun PayPal untuk layanan premium.

Namun demikian, mengingat BTT adalah pendatang baru dan menemukan cuan barunya hari ini, jalan ke cuan yang lebih besar masihlah panjang. Ya, setidaknya kesabaran para “hodler” terbayarkan hari ini. Selamat! [vins]


Disclaimer: Seluruh konten yang diterbitkan di Blockchainmedia.id, baik berupa artikel berita, analisis, opini, wawancara, liputan khusus, artikel berbayar (paid content), maupun artikel bersponsor (sponsored content), disediakan semata-mata untuk tujuan informasi dan edukasi publik mengenai teknologi blockchain, aset kripto, dan sektor terkait. Meskipun kami berupaya memastikan akurasi dan relevansi setiap konten, kami tidak memberikan jaminan atas kelengkapan, ketepatan waktu, atau keandalan data dan pendapat yang dimuat. Konten bersifat informatif dan tidak dapat dianggap sebagai nasihat investasi, rekomendasi perdagangan, atau saran hukum dalam bentuk apa pun. Setiap keputusan finansial yang diambil berdasarkan informasi dari situs ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Blockchainmedia.id tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung, kehilangan data, atau kerusakan lain yang timbul akibat penggunaan informasi di situs ini. Pembaca sangat disarankan untuk melakukan verifikasi mandiri, riset tambahan, dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan profesional sebelum mengambil keputusan yang melibatkan risiko keuangan.

Terkini

Warta Korporat

Terkait