Sharpe Ratio Kasih Alarm, Bitcoin Masuk Fase Kritis Jelang Titik Balik?

Analis on-chain Darkfost di CryptoQuant menyatakan bahwa indikator Sharpe Ratio Bitcoin telah memasuki zona historis yang kerap muncul pada fase akhir pasar bearish.

Data tersebut menunjukkan bahwa rasio risiko terhadap imbal hasil Bitcoin berada pada level ekstrem, menandakan tingginya risiko investasi dibandingkan dengan performa harga dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut Darkfost, meskipun kondisi ini belum bisa dijadikan sinyal bahwa pasar bearish telah berakhir, indikator tersebut mengisyaratkan bahwa pasar tengah mendekati fase penting menjelang potensi pembalikan tren.

“Rasio ini menunjukkan bahwa imbal hasil Bitcoin masih lemah dibandingkan risiko yang ditanggung investor, namun pola seperti ini sering muncul mendekati zona pembalikan,” ungkap Darkfost.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Temuan ini muncul di tengah tekanan pasar global, volatilitas tinggi, serta meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Dalam beberapa bulan terakhir, harga Bitcoin bergerak fluktuatif dan cenderung melemah, seiring meningkatnya sentimen risk-off di pasar keuangan global.

Sharpe Ratio Tunjukkan Risiko Tinggi dan Tekanan Investor

Sharpe Ratio merupakan indikator yang mengukur imbal hasil investasi dibandingkan dengan tingkat risikonya. Dalam konteks Bitcoin, indikator ini digunakan untuk menilai apakah keuntungan yang diperoleh investor sebanding dengan volatilitas yang harus dihadapi.

BACA JUGA:  Listing di Upbit, Altcoin TAO Kembali Dilirik dan Siap Meroket

sharpe ratio bitcoin

Darkfost menjelaskan bahwa saat ini Sharpe Ratio Bitcoin masih menunjukkan tren penurunan. Hal tersebut mencerminkan bahwa kinerja harga belum cukup menarik jika dibandingkan dengan risiko yang diambil investor.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa banyak pelaku pasar berada dalam posisi tertekan, baik karena kerugian yang belum terealisasi maupun tekanan psikologis akibat volatilitas.

Dalam analisanya, Darkfost juga menilai bahwa Sharpe Ratio sebaiknya digunakan secara kontrarian, karena indikator ini lebih merefleksikan dampak pergerakan harga sebelumnya, bukan sebagai pemicu pergerakan pasar.

Dengan kata lain, rendahnya rasio saat ini menunjukkan bahwa pasar sedang berada dalam fase pesimistis yang cukup dalam.

Situasi tersebut, menurut Darkfost, sering kali bertepatan dengan munculnya peluang jangka panjang. Dalam beberapa siklus sebelumnya, fase ketika mayoritas investor berada dalam kondisi “underwater” kerap menjadi awal terbentuknya area akumulasi sebelum harga kembali pulih.

Bitcoin ke Nol? Menguji Ulang Prediksi Ekstrem ala Michael Burry

Tekanan terhadap Bitcoin juga diperkuat oleh munculnya kembali narasi pesimistis di pasar. Sebuah artikel di Seeking Alpha menyoroti pandangan ekstrem yang menyebut Bitcoin berpotensi jatuh hingga nol.

BACA JUGA:  Data Ini Ungkap Investor Besar Mulai Tinggalkan Bitcoin

Pandangan tersebut dikaitkan dengan peringatan dari investor ternama Michael Burry, yang sebelumnya menyinggung kemungkinan terjadinya “death spiral” di pasar kripto.

Namun, penulis artikel tersebut menilai bahwa pelemahan harga Bitcoin lebih dipengaruhi oleh faktor makroekonomi global dan perubahan sentimen risiko, bukan karena kerusakan fundamental jaringan. Dalam kondisi risk-off, aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto cenderung tertekan secara bersamaan.

Artikel tersebut juga menyoroti bahwa BTC masih memiliki fondasi jangka panjang, seperti mekanisme kelangkaan, minat institusional yang belum sepenuhnya hilang, serta rekam jejak pemulihan setelah fase bearish. Selama jaringan tetap berfungsi dan komunitas global masih aktif, skenario kejatuhan hingga nol dinilai sulit terwujud.

Dari sisi strategi, penulis merekomendasikan pendekatan bertahap seperti dollar-cost averaging (DCA) bagi investor jangka panjang, dibandingkan masuk secara agresif di tengah volatilitas tinggi. Meski demikian, risiko dan ketidakpastian tetap dinilai signifikan.

Sinyal MA365: BTC Masuk Fase Tekanan Jangka Panjang

Selain indikator Sharpe Ratio, Kepala Penelitian CryptoQuant Julio Moreno juga menyoroti sinyal teknikal dari pergerakan harga Bitcoin terhadap moving average 365 hari (MA365). Data menunjukkan bahwa ketika harga Bitcoin menembus ke bawah MA365, pasar hampir selalu memasuki fase bear market yang cukup dalam.

BACA JUGA:  Dolphin Terus Serok Bitcoin, Tapi Minat Beli Makin Lesu

performa btC

Secara historis, penurunan setelah sinyal tersebut berkisar antara 30 persen hingga 60 persen dari titik awal. Moreno mencatat bahwa setelah downside cross, harga biasanya bergerak dalam rentang tekanan selama sekitar 150 hingga 300 hari sebelum membentuk dasar dan mulai pulih secara bertahap.

Pola tersebut menunjukkan bahwa penembusan di bawah MA365 bukanlah sinyal beli cepat, melainkan penanda masuknya pasar ke fase distribusi, kapitulasi dan akumulasi sebelum memasuki siklus kenaikan berikutnya.

Dalam konteks ini, peringatan dari Sharpe Ratio dan sinyal MA365 saling menguatkan bahwa Bitcoin masih berada dalam fase kritis.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia