Harga Bitcoin (BTC) kembali menghadapi tekanan setelah sejumlah analis pasar memperingatkan potensi koreksi besar menuju area di bawah US$50.000.
Dalam beberapa pekan terakhir, kombinasi sinyal teknikal bearish, pola siklus lama, hingga proyeksi trader veteran mulai memicu kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar kripto.
Peringatan terbaru datang dari analis Trader Titan yang menilai struktur harga Bitcoin pada time frame empat jam masih menunjukkan kecenderungan bearish jangka pendek.
Dalam grafik yang dibagikannya, Bitcoin terlihat bergerak di dalam pola rising channel dan kini berada di area resistance atas yang sebelumnya beberapa kali memicu penolakan harga.

Menurut Trader Titan, skenario utama saat ini adalah potensi koreksi lebih dalam sebelum harga Bitcoin mencoba melanjutkan kenaikan berikutnya. Ia memproyeksikan area US$49.128 sebagai zona beli utama jika tekanan jual benar-benar membawa harga turun lebih jauh. Untuk membatasi risiko, ia menempatkan stop loss di area US$42.349.
Meski demikian, Trader Titan masih melihat peluang rebound selama struktur support utama belum ditembus secara valid. Ia memperkirakan harga Bitcoin dapat bergerak sangat volatil sebelum mencoba kembali naik menuju area US$70.000 hingga US$79.000 dalam beberapa bulan mendatang.
Pandangan serupa sebelumnya juga sempat disampaikan trader veteran Peter Brandt yang sejak bulan lalu memperingatkan risiko pelemahan dalam pola ascending channel BTC. Peringatan itu kini kembali diperkuat oleh analis Chiefy yang menyebut kondisi pasar saat ini sebagai “bull trap terbesar” dalam siklus Bitcoin kali ini.
Ada Sinyal Bull Trap Besar di Bitcoin
Chiefy menilai pergerakan harga Bitcoin mulai mengikuti pola “Bear Cycle Stepping Stones” yang pernah muncul pada 2022. Dalam proyeksi yang dibagikannya, Bitcoin diperkirakan dapat bergerak dari area US$82.000 menuju US$50.000, kemudian memantul ke US$63.000 sebelum kembali turun ke kisaran US$42.000.

Menurut Chiefy, pola tersebut menunjukkan karakteristik klasik fase distribusi pasar bearish, yakni munculnya pantulan harga sementara yang membuat banyak trader mengira tren bullish telah kembali berlanjut.
Proyeksi koreksi besar ini juga melengkapi pandangan CEO Indodax, Oscar Darmawan, yang pada April lalu sempat memperingatkan potensi penurunan harga Bitcoin menuju kisaran US$45.000 hingga US$50.000.
Oscar menilai koreksi tajam bukan hal baru dalam sejarah Bitcoin. Menurutnya, pola siklus seperti ini terus berulang sejak awal kemunculan aset kripto terbesar tersebut. Dalam konteks pasar saat ini, tahun 2026 mulai dinilai sebagai fase pasca-puncak siklus, di mana tekanan koreksi biasanya mulai mendominasi pasar.
Meski memperingatkan potensi penurunan besar, Oscar juga menilai area US$45.000 hingga US$50.000 bukan level yang mudah ditembus. Zona tersebut diperkirakan menjadi area pertahanan buyer jangka panjang karena sebelumnya pernah menjadi titik akumulasi besar pasar.
Whale Masih Berani Tambah Posisi Long
Di tengah meningkatnya kekhawatiran koreksi, sebagian pelaku pasar besar justru masih menunjukkan optimisme terhadap arah harga Bitcoin. Data terbaru dari Lookonchain menunjukkan whale dengan alamat 0x8ea8 kembali menambah eksposur bullish terhadap Bitcoin melalui platform Hyperliquid.

Whale tersebut diketahui menyetor tambahan 2,99 juta USDC untuk memperbesar posisi long BTC yang sudah dimilikinya. Saat ini, posisi long tersebut mencapai 800 BTC atau sekitar US$65,2 juta dengan unrealized profit sekitar US$5,3 juta.
Langkah itu muncul ketika harga Bitcoin berhasil menutup weekly candle di atas US$82.000 untuk kali pertama sejak 26 Januari. Kondisi tersebut membuat sebagian trader mulai melihat peluang pemulihan jangka menengah masih terbuka.

Selain itu, analis CW8900 di CryptoQuant juga melihat sinyal bullish mulai muncul dari indikator MVRV. Ia menyoroti potensi golden cross antara rasio MVRV Bitcoin dengan garis EMA 200 hari.
Menurut CW8900, golden cross tersebut secara historis sering dianggap sebagai sinyal pembalikan tren bullish setelah fase tekanan besar pasar. Sinyal itu diperkirakan dapat muncul kembali setelah sebelumnya terjadi dead cross pada Agustus tahun lalu.
Juni Dinilai Jadi Periode Paling Rawan
Meski sinyal bullish mulai muncul dari data on-chain dan aktivitas whale, sejumlah analis tetap menilai pasar masih berada dalam fase rawan koreksi. Mei dipandang berpotensi menjadi puncak lokal sebelum pasar memasuki tekanan lebih besar pada Juni mendatang.
Kondisi itu membuat pelaku pasar kini mulai bersiap menghadapi dua kemungkinan besar, yakni lanjutan penguatan menuju area US$70.000 hingga US$79.000 atau justru koreksi tajam menuju area di bawah US$50.000.
Secara keseluruhan, pasar saat ini berada di persimpangan penting antara potensi pemulihan dan ancaman koreksi besar.
Sejumlah analis melihat harga Bitcoin masih rawan turun ke area US$45.000 hingga US$50.000 akibat pola bearish dan tekanan siklus pasar, meski di sisi lain data on-chain, aktivitas whale dan sinyal teknikal tertentu masih menunjukkan peluang rebound belum sepenuhnya tertutup.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


