Mata uang kripto kini bukan hanya diminati investor ritel, tetapi juga semakin banyak dilirik oleh kalangan korporasi. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat atau Eropa saja, Indonesia pun ternyata ikut terseret dalam demam crypto.
Dari Klub Bola hingga Hotel Ternyata Punya Crypto
Deretan perusahaan Indonesia yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan bergerak di berbagai sektor kini tampaknya tidak ingin ketinggalan tren yang diprakarsai oleh Strategy milik Michael Saylor, yaitu menyimpan mata uang kripto sebagai bagian dari aset mereka.
Perusahaan pertama adalah PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA), pengelola klub papan atas Indonesia, Bali United. Dalam laporan keuangan yang dirilis pada Maret lalu, BOLA tercatat memiliki Bitcoin dan Ethereum.
“Koin kripto Grup dinyatakan sebesar nilai revaluasi, yang merupakan nilai wajar pada tanggal revaluasi yang terdiri dari Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) masing-masing sebesar 0,175447 units dan 2,3756 units dengan nilai Rp1.533.095.936 dan Rp54.669.000,” demikian tertulis dalam laporan keuangan tersebut.
Selanjutnya ada PT Eastparc Hotel Tbk (EAST), perusahaan pengelola hotel bintang lima di Yogyakarta. EAST melaporkan simpanan aset kripto yang lebih variatif, mulai dari BTC, SOL, XRP, hingga ETH, dengan total nilai mencapai Rp6,7 miliar.

Lalu yang terakhir adalah PT Wira Global Solusi Tbk (WGSH), perusahaan publik berbasis teknologi yang terdaftar di BEI dan resmi melantai sejak 2021.
WGSH melaporkan bahwa total kepemilikan mata uang kripto dalam kas perusahaan mereka mencapai angka Rp1,3 miliar, dengan Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) sebagai aset utama.
“Pada tanggal 30 Juni 2025 dan 31 Desember 2024 nilai tercatat aset kripto masing-masing sebesar Rp686.224.178 dan Rp685.699.346,” seperti tertulis dalam laporan keuangan WGSH.
Saat Korporasi Melirik Kripto sebagai Aset Strategis
Beberapa perusahaan publik di Indonesia ini mungkin baru mewakili sebagian kecil korporasi yang mengadopsi strategi serupa. Namun tren ini menunjukkan bahwa kripto mulai dipandang lebih serius sebagai instrumen strategis, bukan lagi sekadar aset spekulatif.
Data dari platform BitcoinTreasuries mencatat lebih dari 209 perusahaan publik di seluruh dunia kini memegang Bitcoin sebagai bagian dari neraca mereka. Jumlah tersebut terus bertambah seiring meningkatnya penerimaan institusional terhadap aset digital.

Selain Bitcoin, sejumlah perusahaan global juga mulai menambah eksposur ke altcoin populer seperti Ethereum, Solana, dan aset kripto lainnya. Hal ini mencerminkan semakin luasnya pemanfaatan aset digital dalam strategi diversifikasi.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa lanskap bisnis modern bergerak menuju adopsi aset digital yang lebih masif, dan perusahaan Indonesia tampaknya tidak ingin tertinggal dalam arus transformasi tersebut.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



