Perdebatan mengenai apakah siklus empat tahunan Bitcoin masih relevan kembali mencuat setelah analis on-chain XWIN Japan di CryptoQuant mengungkap sejumlah data yang menunjukkan perubahan besar dalam struktur pasar.
Alih-alih mengaitkan pelemahan harga semata-mata dengan pola pasca-halving yang selama ini menjadi acuan investor, XWIN menilai faktor permintaan kini menjadi variabel yang jauh lebih menentukan arah pergerakan Bitcoin pada 2026.
Dalam analisisnya, XWIN Japan menjelaskan bahwa pasar Bitcoin saat ini menunjukkan karakteristik yang berbeda dibandingkan siklus-siklus sebelumnya.
Menurut mereka, perlambatan permintaan dan berkurangnya aktivitas spekulatif menjadi alasan utama mengapa pasar menghadapi tekanan, bukan sekadar karena memasuki fase bearish biasa setelah halving.
MVRV Terus Menurun, Pasar Bitcoin Disebut Kian Dewasa
XWIN Japan menyoroti indikator Market Value to Realized Value (MVRV) yang terus menunjukkan penurunan puncak dari satu siklus ke siklus berikutnya. Data on-chain mencatat puncak MVRV berada di level 5,88 pada 2013, kemudian turun menjadi 4,72 pada 2017, 3,96 pada 2021, dan hanya mencapai 2,74 pada 2025.

Meski Bitcoin berhasil mencetak rekor harga tertinggi baru pada setiap siklus, tingkat euforia pasar justru semakin berkurang. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan pasar yang semakin matang dengan keterlibatan investor institusi dan produk ETF spot yang lebih dominan dibandingkan periode sebelumnya.
Selain itu, indikator Apparent Demand yang mengukur kemampuan pasar menyerap pasokan Bitcoin baru juga telah berubah menjadi negatif.

Secara historis, pasar bullish besar biasanya berlangsung ketika permintaan tetap positif dan mampu menyerap pasokan baru dari penambang. Sebaliknya, pasar bearish pada 2014, 2018, dan 2022 terjadi ketika permintaan mengalami pelemahan berkepanjangan.
Data derivatif juga menunjukkan pola serupa. Open Interest kontrak berjangka telah turun cukup signifikan dari puncaknya pada 2025, menandakan bahwa sebagian besar leverage spekulatif telah keluar dari pasar. Namun, posisinya masih belum serendah fase kapitulasi besar yang biasanya muncul menjelang terbentuknya dasar pasar.
“Pertanyaan utama pada 2026 bukan lagi posisi Bitcoin dalam siklus empat tahunan, melainkan apakah permintaan akan kembali,” ungkap XWIN Japan.
Menurut mereka, faktor seperti arus masuk ETF spot, likuiditas stablecoin dan akumulasi Bitcoin oleh perusahaan publik berpotensi memiliki dampak yang lebih besar terhadap pasar dibandingkan kalender siklus halving itu sendiri.
Sinyal Bottom Belum Lengkap, Bitcoin Masih Hadapi Ujian Berat
Dari sisi teknikal, pandangan yang lebih berhati-hati juga datang dari analis pasar Kaleo. Ia menilai struktur teknikal Bitcoin saat ini masih membuka kemungkinan terjadinya satu gelombang penurunan tambahan sebelum pasar benar-benar membentuk cycle bottom.

Dalam pemetaannya, puncak harga di area US$125.000 hingga US$130.000 telah diikuti tren turun yang membentuk rangkaian lower high. Area sekitar US$80.000 yang sempat menjadi titik pantul pada pertengahan 2026 juga gagal dipertahankan setelah mengalami rejection di garis tren turun utama.
Menurut Kaleo, kegagalan mempertahankan area tersebut menjadi salah satu alasan mengapa ia belum menganggap dasar pasar telah terbentuk secara meyakinkan. Ia juga menyoroti faktor waktu berdasarkan siklus bear market sebelumnya yang menunjukkan titik terendah utama sering muncul sekitar 900 hari setelah peristiwa halving.
Berdasarkan pola tersebut, proyeksi waktu mengarah ke paruh kedua 2026. Pada periode itu, Bitcoin dinilai masih berpotensi menguji area support yang lebih rendah selama garis resistance diagonal jangka panjang belum berhasil ditembus.
Meski demikian, Kaleo menilai kondisi saat ini sudah berada jauh di bawah puncak siklus. Ia melihat periode beberapa bulan di sekitar fase dasar bear market secara historis sering menjadi kesempatan akumulasi yang menghasilkan kinerja positif dalam jangka menengah hingga panjang.
Ancaman Bull Trap Muncul, Tren Turun Dinilai Belum Berakhir
Sementara itu, analis Aralez menilai struktur jangka panjang Bitcoin masih bergerak di dalam pola descending channel besar yang telah terbentuk sejak harga mencapai puncak siklus di sekitar US$126.000.

Menurutnya, setiap reli pemulihan yang terjadi sejauh ini masih gagal keluar dari batas atas kanal turun tersebut. Struktur lower high dan lower low yang terus terbentuk dinilai menunjukkan bahwa tren utama Bitcoin masih berada dalam fase bearish.
Aralez mencatat penurunan bertahap dari area US$126.000 menuju US$107.000, kemudian berlanjut ke US$80.000 dan US$60.000 sebagai rangkaian struktur yang memperkuat dominasi tren turun.
Beberapa upaya pemulihan menuju area US$82.000 dan US$69.000 juga disebut gagal mengubah arah pasar secara signifikan karena kembali ditolak di area resistance channel.
Berdasarkan skenario yang dipetakan, ia melihat area sekitar US$40.000 sebagai target penurunan berikutnya sekaligus kandidat utama pembentukan cycle bottom. Dalam pandangannya, pantulan yang terjadi dari area US$60.000 masih lebih tepat dianggap sebagai pemulihan sementara di dalam tren turun yang lebih besar.
Meski demikian, Aralez memperkirakan pembentukan dasar di area tersebut dapat menjadi fondasi bagi fase pemulihan berikutnya. Setelah potensi bottom terbentuk, Bitcoin diperkirakan berpeluang kembali menguji area US$54.000 sebelum melanjutkan kenaikan menuju kisaran US$90.000.
Perbedaan pandangan antara data on-chain XWIN Japan dan analisis teknikal sejumlah pengamat pasar menunjukkan bahwa arah Bitcoin pada 2026 masih menjadi perdebatan.
Namun, baik indikator on-chain maupun struktur grafik sama-sama menempatkan faktor permintaan sebagai elemen penting yang akan menentukan apakah pasar mampu keluar dari tekanan atau justru melanjutkan fase koreksi yang lebih dalam.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


