Pasar kripto kembali memberi sinyal waspada. Sejumlah data on-chain dan indikator teknikal terbaru menunjukkan Bitcoin berpeluang memasuki fase koreksi yang lebih dalam. Jika tekanan berlanjut, titik terendah BTC diproyeksikan bisa mencapai US$56.000 pada 2026.
Fase Siklus Bitcoin Berubah, Bear Market Mengintai
Sejumlah metrik on-chain mengindikasikan bahwa Bitcoin kemungkinan telah memasuki bear market sejak akhir 2025. Julio Moreno, Head of Research CryptoQuant, menilai pergeseran ini terlihat jelas dari kombinasi indikator teknikal dan fundamental dalam Bull Score Index.
Dalam sebuah episode acara Milk Road yang diunggah pada Kamis (01/01/2025), Moreno menjelaskan bahwa mayoritas metrik dalam indeks tersebut telah berubah menjadi bearish sejak awal November dan hingga kini belum menunjukkan tanda pemulihan.
Indeks ini mengukur kondisi pasar kripto melalui berbagai indikator penting, mulai dari aktivitas jaringan, tingkat profitabilitas investor, permintaan Bitcoin, hingga likuiditas pasar.
“Bagi saya konfirmasi terakhirnya adalah indikator teknikal, yaitu ketika harga turun di bawah rata-rata pergerakan satu tahun (one-year moving average). Itu adalah indikator teknikal yang, menurut saya, benar-benar mengonfirmasi kondisi ini,” jelasnya.
Menurutnya, pergerakan BTC di bawah rata-rata satu tahun merupakan sinyal klasik perubahan tren bullish ke bearish, sekaligus acuan untuk membaca arah tren makro. Ketika harga bergerak konsisten di bawah level ini, tekanan jual biasanya mendominasi pasar.
Performa Harga Bitcoin Sepanjang 2025
Data historis menunjukkan pergerakan Bitcoin sepanjang 2025 sarat volatilitas. Berdasarkan data dari platform CoinMarketCap, BTC mengawali 2025 di kisaran US$93.000, lalu mengalami reli tajam hingga mencapai puncak sekitar US$126.080 pada Oktober.

Namun, momentum tersebut tidak bertahan lama. Menjelang akhir tahun, Bitcoin melemah dan ditutup lebih rendah dibandingkan level awal 2025. Saat ini, BTC diperdagangkan di kisaran US$88.000–US$88.900, mencerminkan tekanan pasar yang belum sepenuhnya mereda.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan ekspektasi banyak analis yang memproyeksikan 2026 sebagai tahun pertumbuhan lanjutan bagi Bitcoin. Jika interpretasi CryptoQuant akurat, pasar kripto justru berada di fase awal penurunan siklus, bukan memasuki fase ekspansi baru.
Sejarah menunjukkan bahwa fase bear market kripto biasanya kerap diiringi koreksi tajam lintas aset lain dan membutuhkan waktu yang tidak singkat sebelum pemulihan yang benar-benar solid terbentuk.
Realized Price dan Proyeksi Titik Terendah BTC
Moreno memperkirakan bahwa jika bear market berlanjut, titik terendah Bitcoin berpotensi berada di kisaran US$56.000 hingga US$60.000 dalam satu tahun ke depan. Proyeksi ini didasarkan pada konsep realized price serta pola historis dari siklus pasar sebelumnya.
“Dari sudut pandang historis, masih ada support lain, seperti US$70.000, yang cukup penting. Namun di antara level-level tersebut, saya mengatakan bahwa kisaran US$50.000–US$60.000, yakni realized price, sejauh ini merupakan level paling andal,” jelas Moreno.
Dalam fase bull market, harga Bitcoin biasanya bergerak jauh di atas realized price. Namun, ketika sentimen berubah negatif, harga kerap kembali mendekati level tersebut sebagai titik keseimbangan baru.

Jika pola terulang, pasar crypto kemungkinan masih menghadapi periode konsolidasi sebelum menemukan pijakan baru. Bagi investor, sinyal ini menjadi pengingat bahwa manajemen risiko dan perspektif jangka panjang tetap krusial di tengah dinamika yang terus berubah.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



