Tekanan yang melanda pasar kripto tampaknya mulai memengaruhi seluruh lapisan investor. Data terbaru dari analis on-chain Darkfost di CryptoQuant menunjukkan bahwa baik whale Bitcoin maupun investor ritel sama-sama meningkatkan pengiriman BTC ke bursa saat harga kembali jatuh di bawah level psikologis US$60.000.
Fenomena tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya rasa takut di pasar setelah Bitcoin masih diperdagangkan lebih dari 50 persen di bawah rekor tertinggi yang dicapai pada Oktober 2025.
Lonjakan arus masuk aset ke bursa kerap dianggap sebagai sinyal meningkatnya potensi tekanan jual karena investor memindahkan kepemilikan mereka ke platform perdagangan.
Whale Bitcoin dan Investor Ritel Tunjukkan Pola Serupa
Berdasarkan data yang dibagikan Darkfost, rata-rata inflow atau arus masuk Bitcoin ke Binance dari kelompok whale Bitcoin dalam periode 90 hari terakhir meningkat tajam menjadi sekitar 5.280 BTC. Sebagai perbandingan, sejak Maret lalu rata-rata inflow dari kelompok tersebut hanya berada di kisaran 1.900 BTC.
Peningkatan serupa juga terjadi pada investor ritel. Meskipun volume yang dipindahkan jauh lebih kecil dibandingkan whale Bitcoin, rata-rata inflow dari kelompok ini naik menjadi sekitar 410 BTC dalam tiga bulan terakhir.

Darkfost menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan psikologis pasar tidak hanya dirasakan oleh investor kecil, tetapi juga oleh pemegang Bitcoin dalam jumlah besar.
Menurutnya, ketika harga kembali bergerak di bawah US$60.000, kedua kelompok investor tersebut merespons dengan cara yang hampir sama, yakni meningkatkan transfer aset ke bursa.
“Baik whale maupun investor ritel, periode saat ini di Bitcoin sedang memberikan tekanan kepada semua jenis pelaku pasar,” ujar Darkfost.
Ia juga mencatat bahwa ini merupakan episode kepanikan besar kedua yang terjadi sepanjang tahun ini. Sebelumnya, pada awal Februari ketika Bitcoin juga diperdagangkan di bawah US$60.000, inflow whale Bitcoin ke Binance sempat melonjak hingga sekitar 6.200 BTC, sementara inflow dari investor ritel mencapai sekitar 570 BTC.
Menurut Darkfost, pola seperti ini sering muncul ketika pasar berada dalam tekanan tinggi. Arus masuk ke bursa cenderung meningkat pada saat ketakutan mendominasi, yang pada akhirnya mencerminkan perpindahan kepemilikan aset dari investor yang lebih lemah kepada investor yang memiliki keyakinan lebih kuat terhadap prospek jangka panjang Bitcoin.
Struktur Bitcoin Dinilai Mirip Fase Pemulihan Pasca 2021
Di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar, tidak semua analis melihat kondisi saat ini sebagai sinyal bearish jangka panjang. Analis Aralez justru menilai struktur harga Bitcoin saat ini memiliki kemiripan yang cukup kuat dengan pola yang terbentuk setelah puncak siklus tahun 2021.

Dalam analisis yang dibagikannya, Bitcoin pada siklus sebelumnya sempat mengalami koreksi panjang setelah mencetak rekor harga di sekitar US$69.000. Setelah itu, harga membentuk pola dasar atau rounded bottom di area sekitar US$15.476 sebelum akhirnya memulai tren naik baru dan mencetak rekor tertinggi berikutnya.
Menurut Aralez, pola serupa kini kembali terlihat setelah Bitcoin mencapai puncak siklus 2025 di kisaran US$123.000 hingga US$125.000. Setelah mengalami koreksi tajam, harga membentuk titik terendah di sekitar US$38.122 yang kini dianggap sebagai area bottom utama.
Ia menilai level US$48.000 menjadi area yang sangat penting karena berfungsi sebagai neckline dari pola rounded bottom yang sedang berkembang. Keberhasilan Bitcoin merebut kembali zona tersebut dipandang sebagai indikasi bahwa fase akumulasi kemungkinan telah selesai.
Sejak menembus area tersebut, Bitcoin mulai membentuk struktur higher low dan higher high yang secara teknikal sering dikaitkan dengan awal tren bullish baru. Selama harga mampu bertahan di atas area breakout tersebut, peluang menuju zona psikologis US$100.000 hingga kembali menguji puncak siklus sebelumnya masih dinilai terbuka.
Risiko Koreksi Masih Membayangi Pergerakan Jangka Pendek
Meski prospek jangka panjang masih dianggap konstruktif oleh sebagian analis, tekanan dalam jangka pendek belum sepenuhnya hilang. Trader Titan menilai Bitcoin saat ini sedang berada di area teknikal yang sangat krusial setelah bergerak di dalam pola symmetrical triangle pada grafik 2 jam.

Menurutnya, harga telah beberapa kali menguji area resistance di bagian atas pola, namun belum berhasil menghasilkan breakout yang meyakinkan. Selain itu, Bitcoin juga masih diperdagangkan di bawah sejumlah indikator moving average (MA) penting yang berada di kisaran US$65.200 hingga US$68.800.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan bearish jangka pendek masih relatif dominan. Trader Titan bahkan lebih memprioritaskan skenario penurunan dibandingkan kelanjutan kenaikan dalam waktu dekat.
Area sekitar US$62.700 disebut sebagai level penting yang sedang diuji pasar. Apabila support dari garis tren bawah gagal dipertahankan, Bitcoin berpotensi melanjutkan koreksi menuju US$59.864, kemudian US$56.217, hingga US$53.086.
Dalam skenario yang lebih agresif, ia melihat peluang penurunan menuju area US$49.680 yang berada tepat di atas zona demand utama pada grafik. Level tersebut menjadi area psikologis penting karena dapat membawa harga kembali bergerak di bawah US$50.000.
Meski demikian, risiko koreksi lebih dalam dapat berkurang apabila Bitcoin mampu mempertahankan support pola saat ini dan kembali merebut area resistance di kisaran US$64.000 hingga US$65.000.
Untuk sementara, pergerakan whale Bitcoin, meningkatnya inflow ke bursa, serta kondisi teknikal yang masih rapuh membuat pelaku pasar terus mencermati arah pergerakan aset kripto terbesar di dunia tersebut.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


