Rasio daya beli di Binance kembali menyentuh level terendah dalam lebih dari satu tahun terakhir, memunculkan sinyal siklus yang sebelumnya mendahului reli besar Bitcoin.
Data on-chain dari analis Crazzyblockk di CryptoQuant menunjukkan bahwa Buying Power Ratio 90 hari di bursa tersebut turun ke -0,086, level yang terakhir terlihat pada Juli–Agustus 2024 sebelum Bitcoin melesat hingga US$102.000 pada Desember tahun yang sama.

Crazzyblockk menjelaskan bahwa metrik tersebut mengukur kekuatan stablecoin terhadap arus keluar Bitcoin dari bursa. Penurunan rasio ke zona negatif mengindikasikan berkurangnya “dry powder” atau likuiditas siap beli di Binance, bursa kripto terbesar berdasarkan volume perdagangan.
Kondisi serupa pada pertengahan 2024 terjadi ketika Bitcoin bergerak di kisaran US$54.000 hingga US$68.000, di tengah sentimen pasar yang rapuh.
Menurut Crazzyblockk, pola yang muncul saat ini menunjukkan karakteristik kelelahan tekanan jual, bukan awal tren turun baru.
“Data on-chain saat ini menunjukkan pola yang familier, [yakni] jendela daya beli yang terkompresi, pasar yang sedang menarik napas, dan setup yang, jika sejarah berulang, cenderung berakhir ke atas,” ungkapnya.
Rasio Pulih Cepat, Struktur Bitcoin Belum Terganggu
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa rasio 7 hari sempat jatuh hingga -0,90 pada pertengahan Februari, mencerminkan tekanan jual jangka pendek yang intens. Namun, rasio 30 hari pulih cepat dari -0,164 ke hampir netral dalam waktu kurang dari satu pekan.
Sementara itu, rasio 365 hari tetap berada di zona positif di +0,038, menandakan permintaan struktural terhadap Bitcoin di Binance belum terganggu.
Secara historis, arus keluar Bitcoin selama periode ketidakpastian sering kali menjadi fase reposisi oleh investor besar sebelum reli berikutnya.
Data ini memperlihatkan bahwa tekanan yang terjadi bersifat episodik dan terkait fase pasar tertentu, bukan sinyal keluarnya modal secara permanen dari ekosistem.
Struktur Mingguan Kokoh, Potensi Short Squeeze Terbuka
Analisis teknikal turut memperkuat pembacaan on-chain tersebut. Analis Captain Faibik menilai bahwa pada time frame mingguan, meskipun terjadi breakdown dari pola rising wedge, para pelaku pasar masih mempertahankan area krusial EMA200 mingguan di sekitar US$68.000.

Ia memperkirakan potensi pantulan menuju US$80.000 apabila level tersebut tetap terjaga.
Dari sisi derivatif, analis Ted mencatat potensi likuidasi besar apabila terjadi pergerakan signifikan.
Data menunjukkan sekitar US$9,37 miliar posisi short berisiko terlikuidasi jika BTC naik 20 persen. Sebaliknya, sekitar US$2,24 miliar posisi long dapat terhapus apabila harga turun 20 persen. Ketimpangan ini mengindikasikan tekanan likuiditas yang lebih besar berada di sisi seller.

Dengan rasio daya beli berada di titik rendah siklus dan struktur jangka panjang tetap bertahan, pasar kini memantau apakah BTC kembali mengikuti pola historisnya.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



