Sinyal Pasar Bitcoin Berubah Saat Kerugian Investor Mulai Menyusut

Perubahan dinamika mulai terlihat di pasar Bitcoin setelah investor jangka pendek menunjukkan tanda-tanda mengalami kerugian yang kian mengecil.

Analis on-chain Darkfost di CryptoQuant menilai kondisi ini sebagai sinyal awal pergeseran perilaku pelaku pasar setelah periode konsolidasi harga yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Darkfost menjelaskan bahwa indikator Spent Output Profit Ratio (SOPR) milik investor jangka pendek (STH) menunjukkan tren meningkat sejak Februari.

Indikator ini mengukur rasio keuntungan atau kerugian yang direalisasikan ketika koin BTC dipindahkan di jaringan dengan membandingkan harga pembelian dan harga saat koin tersebut dibelanjakan.

IKLAN
Chat via WhatsApp

STH SOPR Bitcoin

Untuk menangkap tren yang lebih stabil, analisis tersebut menggunakan rata-rata pergerakan selama satu bulan. Hasilnya menunjukkan bahwa nilai SOPR meningkat dari 0,977 menjadi 0,987, menandakan bahwa investor jangka pendek kini merealisasikan kerugian yang semakin kecil.

“STH semakin jarang merealisasikan kerugian karena SOPR mereka terus meningkat sejak Februari,” ungkap Darkfost.

Perubahan tersebut menjadi salah satu indikator penting yang sedang dipantau oleh pelaku pasar Bitcoin, terutama karena kelompok investor jangka pendek dikenal sebagai pihak yang paling reaktif terhadap pergerakan harga.

SOPR Naik, Tanda Awal Kepercayaan di Pasar Bitcoin

Darkfost menjelaskan bahwa kondisi konsolidasi yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir tampaknya dimanfaatkan sebagian investor jangka pendek untuk menambah eksposur mereka di pasar Bitcoin. Perubahan ini tercermin dari pergerakan SOPR yang perlahan mendekati level netral.

BACA JUGA:  Konflik Iran Memanas, Apa AS Bisa Menyita BTC Negara Ini?

Pada time frame harian, indikator tersebut saat ini sedang berupaya kembali menembus level 1,0, yang dianggap sebagai titik keseimbangan antara transaksi yang menghasilkan keuntungan dan kerugian. Jika nilai SOPR berada di bawah angka tersebut, berarti sebagian besar transaksi masih dilakukan dengan kerugian.

Sejak Oktober tahun lalu, indikator ini sebagian besar tetap berada di zona negatif. Setiap upaya untuk kembali ke wilayah profit sering kali gagal karena kenaikan harga dimanfaatkan oleh investor sebagai kesempatan untuk keluar dari pasar.

Dalam dinamika pasar Bitcoin, periode panjang SOPR negatif biasanya menjadi ciri khas fase bear market. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar investor masih menjual aset mereka dalam kondisi rugi atau belum cukup percaya diri untuk menahan posisi lebih lama.

Menurut Darkfost, perubahan menuju kondisi yang lebih sehat di pasar Bitcoin memerlukan kembalinya kepercayaan investor, terutama dari kelompok investor jangka pendek.

Ketika investor mulai kembali mencatat keuntungan, kepercayaan pasar biasanya meningkat dan pelaku pasar cenderung menahan aset lebih lama dengan harapan memperoleh keuntungan lebih besar.

BACA JUGA:  Hari Valentine 2026: Kripto Bikin Gen Z Tampil Lebih Menarik?

Zona Harga Krusial Tentukan Arah Pasar

Di sisi lain, sejumlah analis juga menyoroti bahwa pasar Bitcoin saat ini berada pada fase penentuan arah yang sensitif. Analis dan investor kripto Ted Pillows mencatat adanya kemiripan pola pergerakan harga Bitcoin saat ini dengan struktur pasar yang terjadi pada siklus tahun 2022.

analisis Bitcoin TED

Dalam pengamatannya, grafik terbaru memperlihatkan pola fractal yang menyerupai fase konsolidasi sebelum penurunan tajam pada siklus sebelumnya.

Pada tahun 2022, Bitcoin sempat bergerak dalam pola symmetrical triangle setelah turun dari sekitar US$37.000. Saat itu harga sempat mengalami false breakout sebelum akhirnya mengalami penolakan kuat dan jatuh hingga mendekati US$17.000.

Struktur serupa mulai muncul pada grafik terbaru tahun 2026. Setelah turun dari sekitar US$90.000, Bitcoin membentuk pola konsolidasi dengan struktur naik sebelum sempat menembus garis resistance.

Harga kemudian mencapai sekitar US$74.000, namun kembali mengalami penolakan dan saat ini diperdagangkan di sekitar US$69.500.

Analis menilai bahwa area US$68.000 hingga US$70.000 kini menjadi zona krusial bagi pasar Bitcoin. Pergerakan harga BTC di area tersebut akan menentukan apakah pasar mampu melanjutkan momentum kenaikan atau justru mengulang pola penurunan seperti pada siklus sebelumnya.

BACA JUGA:  Bitcoin Masuk Fase Redistribusi, Investor Lama Mulai Jual

Sinyal Siklus Makro Mulai Terbentuk

Di sisi lain, analis CryptoZ mencatat bahwa dalam dua siklus sebelumnya, Bitcoin membutuhkan waktu sekitar 12 hingga 13 bulan untuk mencapai titik dasar terhadap emas.

analisis Bitcoin BTC

Pada siklus 2018, Bitcoin membutuhkan sekitar 12 bulan untuk mencapai titik terendah relatif terhadap emas, sementara pada siklus 2022 proses tersebut berlangsung sekitar 13 bulan. Jika pola tersebut kembali berulang, maka siklus terbaru diperkirakan membutuhkan sekitar 14 bulan hingga menemukan titik dasar.

CryptoZ juga mencatat bahwa indikator Relative Strength Index (RSI) bulanan pada pair BTC/Gold baru saja memantul dari area support yang sama dengan siklus sebelumnya.

Kondisi ini mengindikasikan kemungkinan bahwa rasio BTC terhadap emas telah mencapai titik dasar dan berpotensi memasuki fase di mana Bitcoin kembali mengungguli emas.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait