Setelah lama bergerak secara anonim, Skyholic akhirnya muncul ke ruang publik melalui podcast Daging Talk milik Atta Halilintar yang diunggah pada Jumat (07/02/2026). Namun, alih-alih membuka identitas personal, kemunculan tersebut justru mengungkap fakta menarik.
Bukan Sosok Tunggal, Skyholic Tegaskan sebagai Tim
Sejak awal perbincangan di podcast Daging Talk, Skyholic langsung mematahkan asumsi publik soal identitasnya. Saat ditanya mengenai latar belakang, perwakilan Skyholic menegaskan bahwa sosok di balik akun anonim tersebut bukan satu orang.
“Kalau dari kami sendiri kan ini kami latar belakangnya itu kan beberapa orang ya. Kami ini tim ya,” ujarnya kepada Atta.
Penjelasan itu kemudian diperjelas dengan pemaparan struktur internal Skyholic. Ia menyebut tim inti berjumlah delapan orang yang tersebar di delapan negara, menegaskan bahwa gerakan ini sejak awal tidak dijalankan oleh satu individu.
Spekulasi Skyholic Dilaporkan Bos Indodax ke Polisi, Ada Apa?
Di luar tim inti, Skyholic juga mengungkap adanya jaringan pendukung di lebih dari sepuluh negara lain. Susunan ini memperjelas posisi mereka sebagai kolektif lintas negara, bukan sosok tunggal dengan kendali terpusat.
Latar Belakang Dibentuknya Skyholic
Isu lain yang menyita perhatian publik adalah klaim kekayaan Skyholic. Saat Atta menyinggung kepemilikan aset hingga belasan triliun rupiah, sosok anonim tersebut membenarkannya dan menegaskan bahwa klaim tersebut bisa diverifikasi secara terbuka.
“11 triliun sih. Kami punya wallet address yang bisa kalian langsung lacak sendiri… karena data on-chain itu never lies,” ujarnya dengan nada optimistis.
Penekanan pada transparansi on-chain ini disebut sebagai pembeda utama dari influencer kripto lain yang, menurut Skyholic, kerap melakukan flexing tanpa bukti. Praktik tersebut mereka nilai sebagai bentuk manipulasi psikologis.
“Dengan flexing-flexing yang mereka lakukan itu membuat banyak orang ingin seolah-olah mengubah nasibnya secara instan,” lanjutnya.
Berangkat dari keresahan itu, Skyholic adalah sebuah movement untuk melawan influencer crypto yang menjual mimpi instan dan, menurut mereka, merusak industri kripto yang telah dibangun bertahun-tahun.
Dikenal karena Mewadahi Korban Timothy Ronald
Nama Skyholic dikenal publik sebagai wadah bagi korban dugaan penipuan di ranah kripto, termasuk kasus yang menyeret Timothy Ronald. Meski kini tampil di hadapan publik, Skyholic menegaskan tidak akan membuka identitas personal.
“Kami sepakat untuk tetap anonim sampai kapan pun waktunya,” ujar perwakilan Skyholic yang muncul di podcast milik Atta Halilintar.
Alasan tersebut, menurut Skyholic, berangkat dari prinsip sederhana: fokus pada isu, bukan pada sosok. Mereka menilai industri finansial tidak membutuhkan figur yang dikultuskan, melainkan peningkatan literasi dan daya kritis masyarakat.
Co-Founder Reku: Influencer Bukan Sumber Kerugian, Literasi dan Regulasi Jadi Kunci
Kemunculan Skyholic di Daging Talk pada akhirnya menjawab rasa penasaran publik. Bukan soal wajah atau nama yang dibuka, melainkan struktur dan cara berpikir di balik akun anonim tersebut.
Dari sosok misterius, Skyholic kini tampil sebagai kolektif anonim yang menantang budaya flexing dan janji kaya instan, sambil membawa satu pesan konsisten: di dunia kripto, transparansi dan proses jauh lebih penting daripada sensasi.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



