Skyholic: Investor Kripto Bukan Kurang Modal, Tapi Kurang Literasi

Skyholic akhirnya muncul ke publik melalui podcast Daging Talk milik Atta Halilintar yang diunggah pada Jumat (07/02/2026). Kelompok OG Crypto yang bergerak anonim ini langsung mencuri perhatian lewat kritik tajam terhadap narasi kripto di media sosial. Menurut Skyholic, kerugian investor bukan soal kurang modal, melainkan rendahnya literasi dan daya kritis.

Skyholic Nilai Rendahnya Literasi Jadi Masalah Utama

Skyholic sejak awal menegaskan bahwa mereka adalah sebuah kelompok, bukan satu individu. Namun, yang menarik justru isu yang diangkat mereka. Dalam perbincangan tersebut, Skyholic menyoroti maraknya praktik manipulasi psikologis oleh pihak tertentu.

“Mereka melakukan manipulasi psikologis, di mana lewat flexing atau pamer kekayaan, mereka menampilkan citra tertentu yang membuat orang seolah-olah ingin mengubah nasibnya secara instan. Hal ini jelas merusak daya pikir masyarakat,” tegas perwakilan Skyholic.

Skyholic Akhirnya Muncul ke Publik, Identitasnya Bikin Kaget!

IKLAN
Chat via WhatsApp

Menurut mereka, praktik pamer kekayaan oleh influencer menciptakan ilusi cepat kaya yang berbahaya. Banyak orang kemudian percaya bahwa kekayaan tersebut murni berasal dari kripto atau trading, tanpa pernah mempertanyakan sumber penghasilannya.

BACA JUGA:  Kripto Dipakai untuk Perdagangan Manusia, ASEAN Jadi Pusat Utama

“Mereka seolah-olah kaya dari kripto ataupun trading, padahal sumbernya bisa aja dari member atau hal lain yang tidak pernah dibuka ke publik,” lanjut Skyholic.

Di titik inilah literasi menjadi pembeda. Kripto, menurut Skyholic, bersifat netral dan transparan. Masalah muncul ketika manusia memanfaatkannya untuk membangun otoritas palsu dan mengeksploitasi emosi, terutama mereka yang baru mengenal investasi kripto.

FOMO, Sinyal, dan Korban Investor Pemula

Dampak terbesar dari pola ini dirasakan investor pemula, khususnya generasi muda. Skyholic menilai FOMO akibat influencer membuat banyak orang masuk pasar hanya bermodal sinyal, tanpa riset, dan tanpa pemahaman dasar. 

Pola ini terlihat jelas dalam kasus dugaan penipuan Timothy Ronald. Mayoritas korban disebut masuk pasar hanya bermodal rekomendasi, tanpa riset mendalam. Investasi dilakukan dalam kondisi FOMO, bukan berdasarkan pemahaman fundamental maupun risiko aset yang dibeli.

BACA JUGA:  Whale Pindahkan US$8,3 Miliar Bitcoin ke Binance, Siap Jual?

Skyholic mengingatkan bahwa kebiasaan mengikuti call coin instan sering kali berujung pada skema pump and dump. Pihak yang memberi sinyal umumnya sudah masuk lebih dulu, sementara kerugian justru ditanggung oleh investor yang datang belakangan.

Literasi dan Regulasi Jadi Kunci

Pandangan Skyholic sejalan dengan pernyataan Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) sekaligus Co-Founder Reku, Robby Bun, yang menilai polemik influencer kripto tidak bisa dilihat secara hitam-putih.

“Tidak ada satu pun instrumen investasi yang selalu untung. Pasti ada untung dan rugi. Ketika seseorang membeli di harga murah, dia untung, tapi yang menjual di harga murah itu yang rugi. Sebaliknya juga begitu,” kata Robby.

Menurutnya, pemahaman risiko dan mekanisme pasar seharusnya menjadi fondasi sebelum investor mulai berinvestasi, bukan sekadar mengikuti narasi keuntungan cepat.

Co-Founder Reku: Influencer Bukan Sumber Kerugian, Literasi dan Regulasi Jadi Kunci

Robby mengakui pengaruh besar influencer, terutama bagi Gen Z. Namun, masalah utama terletak pada substansi dan etika pesan, bukan gaya komunikasi, sehingga edukasi harus menekankan manajemen risiko dan proses jangka panjang.

BACA JUGA:  Bos LPS Sentil Kripto, Sebut Belum Masuk Kategori Halal

Di titik ini, pandangan Skyholic sejalan dengan ABI. Masalah utama investor bukan kurang modal, melainkan rendahnya literasi. Selama daya kritis kalah oleh narasi cepat kaya, risiko kerugian akan terus berulang, berapa pun modal yang dimiliki.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia