Skyholic akhirnya muncul ke ruang publik melalui podcast Daging Talk milik Atta Halilintar yang diunggah pada Jumat (07/02/2026). Untuk pertama kalinya, kelompok anonim itu berbicara secara terbuka.
Bukan hanya soal trading ataupun investasi kripto, mereka juga menyoroti praktik flexing, kelas “edukasi” berbayar, serta isu transparansi aset yang dinilai kerap disalahgunakan di industri aset digital.
Klaim Rp11 Triliun dan Tantangan Transparansi
Nama Skyholic dikenal publik sebagai wadah bagi korban dugaan penipuan yang menyeret Timothy Ronald. Dalam perbincangan tersebut, Skyholic juga mengungkap fakta bahwa akun anonim itu bukan dijalankan oleh satu orang, melainkan sebuah gerakan kolektif.
Namun, perhatian publik paling tersedot pada satu klaim: total aset kripto Skyholic yang disebut mencapai Rp11 triliun. Klaim ini, menurut mereka, tidak berhenti sebagai pernyataan sepihak karena seluruh aset tersebut diklaim dapat diverifikasi secara terbuka.
“Betul. Dan teman-teman itu bisa cek ya di on-chain ya. Jadi kami punya wallet address yang bisa kalian lacak sendiri, kalian bisa pastikan sendiri karena data on-chain itu never lies,” ujar perwakilan Skyholic.
https://blockchainmedia.id/skyholic-akhirnya-muncul-ke-publik-identitasnya-bikin-kaget/
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi tantangan terbuka bagi influencer kripto yang kerap memamerkan gaya hidup mewah tanpa pernah membuka alamat dompet. Bagi Skyholic, wallet address seharusnya menjadi standar transparansi, bukan sekadar klaim verbal.
Skyholic menilai praktik flexing kerap digunakan sebagai bagian dari manipulasi. Pamer kekayaan dipakai untuk memengaruhi psikologi audiens agar percaya bahwa kekayaan tersebut berasal dari kripto atau aktivitas trading.
“Influencer penipu ini menggunakan apa yang disebut deceptive marketing. Metode tersebut mereka jalankan dengan flexing sebagai alat utama untuk memengaruhi calon konsumen, seolah-olah kekayaan mereka berasal dari kripto atau trading,” tegas mereka.
Sebagai pembanding, Skyholic menekankan bahwa akumulasi aset kripto membutuhkan proses panjang. Mereka mengungkap sebagian tim telah masuk ke Bitcoin sejak 2013, ketika harga masih berada di kisaran US$400.
Perlawanan Skyholic terhadap Influencer “Tipu-Tipu”
Motif kemunculan Skyholic ke publik, menurut mereka, bukan untuk mencari popularitas semata. Kelompok ini mengaku telah resah melihat maraknya influencer yang menjual mimpi kaya instan melalui kelas berbayar dan sinyal investasi.
“Mereka itu (influencer) menghancurkan industri kami gitu. Industri kripto yang udah kami lama bangun tapi mereka menghancurkan dengan yang menjual kelas yang tipu-tipu gitu,” tegas Skyholic.
Kelompok tersebut menilai dampak terberatnya dirasakan investor pemula, terutama generasi muda yang terdorong FOMO. Skyholic menekankan pentingnya berpikir kritis, melakukan due diligence, serta memahami analisis fundamental dan teknikal.
Dalam narasinya, Skyholic juga menyebut banyak skema call coin berujung pada pola pump and dump. Influencer kripto, menurut mereka, umumnya sudah masuk lebih dulu sebelum mempromosikannya ke publik, sementara risiko terbesar justru ditanggung oleh pengikut.
Kemunculannya di Daging Talk menandai pergeseran Skyholic dari ruang bawah tanah ke ranah publik. Meski demikian, mereka menegaskan komitmen untuk tetap anonim dan tidak menjual produk, kelas, maupun afiliasi apa pun.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



