Skyholic: Kripto Rusak Bukan Karena Teknologi, Tapi Manusianya

Skyholic muncul ke publik melalui podcast Daging Talk milik Atta Halilintar yang diunggah pada Jumat (07/02/2026). Dalam perbincangan tersebut, kelompok yang selama ini bergerak anonim menyampaikan satu hal yang berulang kali mereka tekankan. Masalah terbesar kripto, menurut mereka, bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada manusia yang memanfaatkannya.

Teknologi Netral, Perilaku yang Merusak

Menurut Skyholic, fondasi kripto dibangun di atas kode, matematika, dan transparansi. Sistem on-chain memungkinkan siapa pun memverifikasi data secara terbuka karena merujuk pada sifat blockchain yang tidak bisa dimanipulasi sesuka hati.

Namun, teknologi yang netral itu dinilai kerap dibajak oleh perilaku manusia. Praktik flexing, klaim aset tanpa bukti, hingga penjualan kelas berkedok edukasi disebut sebagai bentuk manipulasi psikologis. 

“Mereka melakukan manipulasi psikologis, di mana lewat flexing atau pamer kekayaan, mereka menampilkan citra tertentu yang membuat orang seolah-olah ingin mengubah nasibnya secara instan. Hal ini jelas merusak daya pikir masyarakat,” tegas perwakilan Skyholic.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Terjawab! Aksi Flexing Timothy Ronald Jadi Alasan Korban Ikut Akademi Crypto

Dalam konteks ini, kripto tidak rusak karena sistemnya gagal, melainkan karena aktor-aktor di dalamnya menyalahgunakan kepercayaan. Banyak orang, menurut Skyholic, bukan tertipu oleh teknologi, melainkan oleh figur atau influencer yang tampil meyakinkan di media sosial.

BACA JUGA:  Permintaan Emas Tembus 5.000 Ton di 2025, Harga Makin Gila

Budaya Flexing dan Ilusi Kaya Instan

Skyholic secara terbuka mengkritik budaya flexing yang semakin masif sejak 2020. Pamer mobil mewah, jam mahal, hingga saldo akun kerap dijadikan alat untuk membangun otoritas palsu, sementara sumber kekayaan tersebut sering kali tidak dijelaskan secara transparan.

“Mereka seolah-olah kaya dari kripto atau trading, padahal sumbernya bisa dari member atau hal lain yang tidak pernah dibuka ke publik,” ujar Skyholic. Pola ini dinilai berbahaya karena menciptakan ilusi kekayaan bisa diraih tanpa proses dan tanpa risiko.

Dampak terbesarnya dirasakan investor pemula. Skyholic menilai FOMO yang dipicu influencer membuat banyak orang masuk ke pasar kripto hanya bermodal sinyal, tanpa riset, dan tanpa pemahaman dasar.

Pola tersebut terlihat dalam kasus dugaan penipuan Timothy Ronald, di mana mayoritas korban masuk pasar hanya bermodal sinyal. Keputusan investasi pun diambil dalam kondisi FOMO, bukan berdasarkan pemahaman fundamental.

BACA JUGA:  Jeffrey Epstein: Analogi Kripto Mirip Ciuman Rahasia di Pesta Topeng

Kripto sebagai Cermin Literasi Finansial

Bagi Skyholic, kripto justru berfungsi sebagai cermin literasi finansial masyarakat. Ketika edukasi rendah dan logika dikalahkan oleh emosi, maka teknologi secanggih apa pun akan tampak berbahaya.

Karena itu, mereka menolak menjual kelas atau membuka identitas. Skyholic menegaskan diri sebagai gerakan, bukan figur. Fokusnya adalah mendorong publik untuk mandiri, memverifikasi klaim sendiri, dan tidak menyerahkan keputusan finansial pada satu suara di media sosial.

Co-Founder Reku: Influencer Bukan Sumber Kerugian, Literasi dan Regulasi Jadi Kunci

Dalam pandangan Skyholic, kripto tetaplah alat. Ia bisa menjadi sarana investasi jangka panjang yang rasional, atau justru ladang kerugian. Perbedaannya tidak ditentukan oleh blockchain, melainkan oleh manusia yang menggunakannya.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia