Harga Bitcoin mulai menunjukkan tekanan korektif setelah data on-chain terbaru mengindikasikan aktivitas ambil untung oleh pelaku pasar besar.
Analisis dari GugaOnChain di CryptoQuant mengungkap bahwa pergerakan dana dari kelompok “Smart Money” ke bursa kripto meningkat pesat, memperbesar potensi koreksi harga dalam waktu dekat.
Pada saat artikel ini disusun, harga BTC tercatat berada di kisaran US$75.519, setara Rp1,29 miliar, dengan penurunan 2,19 persen dalam 24 jam terakhir.
Volume spot juga mengalami penurunan tajam hingga 51,36 persen menjadi sekitar US$25,91 miliar, yang mencerminkan melemahnya aktivitas transaksi di tengah meningkatnya tekanan jual.
Menurut GugaOnChain, fenomena ini terjadi ketika sebagian pelaku pasar memanfaatkan reli harga sebelumnya untuk mengamankan keuntungan.
“Sebagian pasar saat ini memilih mengambil keuntungan cepat, bukan melanjutkan akumulasi,” ujarnya.
Arus Keluar Meningkat, Smart Money Mulai Realisasi Keuntungan
Indikator Active Supply vs. Net Inflow menunjukkan bahwa aliran dana dari wallet aktif ke bursa meningkat tajam, menandakan adanya distribusi aset dalam skala besar.

Data on-chain menunjukkan sekitar 134.100 alamat masuk dalam kategori active supply, yaitu wallet dengan aktivitas tinggi yang merepresentasikan smart money. Jumlah ini melampaui moving average (MA) jangka pendek, termasuk SMA-7 dan SMA-14, yang mengindikasikan lonjakan aktivitas tidak biasa.
Dari total tersebut, sekitar 58.000 alamat terpantau mengirimkan dana ke OKX dan 28.100 lainnya ke Binance.
Secara keseluruhan, lebih dari 64 persen aktivitas smart money, setara sekitar US$6,5 miliar, terkonsentrasi pada dua bursa tersebut. Pola ini menunjukkan bahwa pelaku besar sedang memanfaatkan likuiditas tinggi di pasar untuk merealisasikan keuntungan.

Meski demikian, arus masuk dana institusional tidak sepenuhnya melemah. Dalam satu hari terakhir, Bitcoin ETF spot justru mencatat inflow sebesar 8.840 BTC atau sekitar US$663 juta, menjadi yang terbesar sejak Januari.
Data ini mengindikasikan bahwa minat institusional masih ada, meskipun berhadapan dengan tekanan jual dari pelaku pasar lainnya.
Risiko Koreksi di Tengah Fase Lanjutan Siklus
Di sisi lain, analis Cryptonian melihat pergerakan harga Bitcoin saat ini mengikuti pola empat fase klasik dalam siklus pasar. Setelah melalui fase awal atau ignition dan koreksi sementara, Bitcoin kini dinilai memasuki fase second ignition, yaitu tahap lanjutan dengan momentum yang lebih kuat.

Namun, fase ini juga dikenal rentan terhadap koreksi tajam, terutama ketika momentum mulai melemah. Fokus utama BTC saat ini berada pada area sekitar US$77.000, yang menjadi level kunci untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh analis Ted yang menyebut bahwa harga Bitcoin telah kembali ke atas level US$76.000. Ia menilai zona US$78.000 hingga US$80.000 sebagai area penting yang berpotensi menjadi titik akhir dari pergerakan naik dalam siklus saat ini.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



