Stablecoin Besutan Bank of America? Ini Bisa Jadi Gebrakan Baru!

Bank of America (BofA), bank terbesar kedua di AS, tampaknya tengah bersiap memasuki dunia stablecoin. Berdasarkan laporan dari Fortune, CEO BofA, Brian Moynihan, mengisyaratkan bahwa stablecoin berbasis dolar AS mungkin akan segera hadir, mengubah cara nasabah menyimpan dan menggunakan uang mereka.

“BofA menawarkan aplikasi perbankan selular untuk iPhone sebelum bank lain. Dulu, memiliki aplikasi adalah hal yang tidak biasa, dan kini semua orang membuka situs web. Sekarang, kami memiliki 40 juta konsumen yang melakukan transaksi perbankan digital dengan kami sepanjang waktu. Sekitar 90 persen interaksi bank dengan nasabah tahun lalu bersifat digital,” ujar Moynihan.

Lebih dari sekadar tren kripto, langkah ini bisa menjadi sinyal bahwa keuangan tradisional semakin membuka diri terhadap teknologi blockchain.

Stablecoin yang Didukung Bank: Apa yang Berbeda?

Jika dibandingkan dengan stablecoin lain seperti USDT atau USDC, stablecoin yang diterbitkan langsung oleh bank besar seperti BofA memiliki keunggulan tersendiri. Bank memiliki regulasi ketat, jaminan dari deposito riil dan infrastruktur yang lebih stabil.

Dalam skenario ini, token besutan BofA nantinya akan dipatok terhadap saldo rekening nasabah, memberikan rasa aman yang lebih besar dibandingkan stablecoin yang hanya didukung oleh aset kripto atau surat berharga.

Di sisi lain, tantangan besar masih ada, terutama dalam hal regulasi. Ketua The Fed, Jerome Powell, sebelumnya telah menegaskan bahwa stablecoin yang digunakan secara luas harus tunduk pada aturan perbankan yang ketat.

Ini berarti sebelum benar-benar meluncurkan produk digitalnya, Bank of America perlu mendapatkan persetujuan dari regulator keuangan AS.

Bukan yang Pertama Terjun ke Stablecoin

BofA bukanlah yang pertama dalam hal stablecoin berbasis bank. JPMorgan sudah lebih dulu merilis JPM Coin, yang kini digunakan dalam transaksi antar institusi. Namun, pendekatan Bank of America tampaknya lebih berorientasi ke pelanggan ritel dan korporasi.

Jika nantinya stablecoin ini tersedia untuk nasabah umum, maka pengguna bisa melakukan transaksi dengan lebih cepat dan biaya lebih rendah dibandingkan sistem perbankan tradisional saat ini.

Lebih lanjut lagi, kehadiran stablecoin berbasis bank bisa mempercepat adopsi mata uang digital oleh masyarakat luas. Dengan kepercayaan yang sudah melekat pada institusi perbankan, nasabah yang selama ini ragu terhadap kripto bisa lebih nyaman menggunakan aset digital yang dikeluarkan langsung oleh bank.

Tantangan Regulasi dan Masa Depan Stablecoin Besutan Bank

Meski memiliki potensi besar, proyek stablecoin besutan Bank of America tetap harus melewati berbagai rintangan. Peraturan terkait pencucian uang (AML) dan verifikasi pelanggan (KYC) menjadi syarat utama yang harus dipenuhi.

Selain itu, dampak terhadap stabilitas keuangan juga menjadi perhatian utama regulator, mengingat stablecoin berbasis bank dapat memengaruhi likuiditas pasar dalam skala besar.

Namun demikian, jika BofA berhasil mendapatkan lampu hijau, hal ini bisa membuka jalan bagi bank-bank lain untuk mengadopsi model serupa. Stablecoin berbasis bank bisa menjadi jembatan yang menghubungkan keuangan tradisional dan ekosistem kripto yang berkembang pesat.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah nasabah siap untuk beralih ke stablecoin besutan bank? Atau mereka masih lebih percaya dengan uang tunai dan saldo rekening tradisional? Jika stablecoin ini benar-benar dirilis, bisa jadi ini akan menjadi awal dari perubahan besar dalam dunia perbankan. [st]

Terkini

Warta Korporat

Terkait