Pertumbuhan pasar stablecoin kembali menjadi sorotan setelah proyeksi terbaru menyebutkan bahwa nilai pasar aset digital berdenominasi dolar AS itu dapat melonjak hingga US$3 triliun dalam beberapa tahun mendatang.
Berdasarkan laporan Bloomberg, pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang menilai stablecoin berpotensi tumbuh sepuluh kali lipat dari posisinya saat ini. Proyeksi optimistis itu memicu kembali perdebatan di kalangan pelaku keuangan tradisional karena dianggap terlalu jauh dari realitas adopsi saat ini.
Pernyataan Bessent muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap peran stablecoin dalam ekosistem keuangan global.
Meski pasar stablecoin yang beredar saat ini berada di kisaran US$300 miliar, Bessent menyebut bahwa perkembangan teknologi serta peningkatan penggunaan dapat menjadikan stablecoin sebuah mesin baru untuk permintaan dolar AS di era digital.
“Stablecoin berpotensi menjadi fondasi likuiditas baru jika adopsinya terus meningkat,” ujar Bessen.
Namun, di sisi lain, bank-bank besar dan analis pasar Wall Street menyatakan keraguan kuat terhadap prediksi tersebut. Lembaga seperti JPMorgan, Deutsche Bank dan Goldman Sachs menilai bahwa proyeksi multi-triliun dolar tersebut belum didukung oleh bukti penggunaan nyata di lapangan.
Banyak di antara mereka yang menilai bahwa stablecoin masih dominan digunakan untuk aktivitas terkait kripto dan belum memasuki ranah pembayaran massal secara luas. Kondisi ini membuat klaim mengenai potensi pasar US$3 triliun dianggap terlalu ambisius.
Wall Street Mengurangi Ekspektasi Pertumbuhan Stablecoin
Keraguan paling signifikan datang dari JPMorgan, yang secara resmi memangkas perkiraan pertumbuhan stablecoin untuk beberapa tahun mendatang. Dalam laporan terbaru mereka, analis memproyeksikan kapitalisasi pasar stablecoin hanya akan mencapai sekitar US$500 miliar pada 2028, jauh lebih rendah dari prediksi pemerintah.
Penilaian tersebut didasarkan pada observasi bahwa penggunaan stablecoin belum berkembang sebagai alat transaksi utama, baik di sektor ritel maupun pembayaran lintas negara.
JPMorgan juga menekankan bahwa sebagian besar perputaran stablecoin masih terpusat pada bursa kripto, aktivitas trading, serta kebutuhan likuiditas dalam ekosistem aset digital.
Minimnya penggunaan di sektor komersial, ekonomi riil, atau transaksi konsumen membuat stabilitas pertumbuhan masa depan dipertanyakan.
Selain itu, para analis menilai bahwa adopsi stablecoin untuk pembayaran masih terhambat oleh kebiasaan konsumen, kurangnya integrasi dengan penyedia pembayaran global, serta persaingan dengan sistem pembayaran tradisional.
Temuan tersebut menjadi dasar mengapa banyak institusi keuangan besar memandang masa depan stablecoin tidak akan berkembang secepat yang dibayangkan.
Meski volume transaksi on-chain terus meningkat, Wall Street menilai kenaikan itu belum cukup untuk mendukung lonjakan kapitalisasi pasar hingga berlipat-lipat dalam waktu singkat.
Perdebatan Terus Berjalan di Tengah Adopsi yang Masih Terbatas
Perbedaan pandangan antara pemerintah AS dan institusi keuangan mencerminkan ketidakpastian mengenai arah stablecoin ke depan.
Di satu sisi, proyeksi optimistis menunjukkan keyakinan bahwa stablecoin akan mengambil peran sentral dalam ekosistem uang digital. Di sisi lain, data penggunaan menunjukkan bahwa adopsi stablecoin masih lebih banyak terjadi dalam konteks kripto dibandingkan kebutuhan finansial sehari-hari.
Hingga awal Desember 2025, stablecoin seperti USDT dan USDC mendominasi pasar dan menjadi sarana utama dalam perdagangan kripto di seluruh dunia. Namun, penetrasi mereka ke sektor non-kripto dinilai belum signifikan.
Pemanfaatan stablecoin untuk remitansi, pembayaran merchant, atau transaksi konsumen masih jauh di bawah ekspektasi para pendukungnya.
Selain itu, banyak analis Wall Street mempertanyakan bagaimana stablecoin dapat mencapai nilai pasar US$3 triliun tanpa perubahan struktural pada perilaku pasar global.
Mereka menilai bahwa meskipun potensi teknologi besar, pertumbuhan pasar tetap membutuhkan dorongan dari adopsi massal, integrasi ke sistem pembayaran komersial dan penggunaan jangka panjang oleh konsumen di luar ekosistem aset digital.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



