Nilai tukar rupiah kembali disorot setelah stablecoin berbasis dolar AS, USDT, diperdagangkan di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.050. Angka tersebut naik cukup tajam dibandingkan sepekan lalu yang masih berada di sekitar Rp17.800.
Kenaikan harga USDT ini mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset berbasis dolar AS. Di tengah ketidakpastian global dan sentimen pasar yang memburuk, investor terlihat semakin mencari instrumen yang dianggap lebih aman.
Dolar AS Menguat, Stablecoin Ikut Melonjak
Dikutip dari laporan BBC pada Kamis (04/06/2026), serangan Iran ke Kuwait serta respons militer Amerika Serikat di sekitar Selat Hormuz membuat investor global berbondong-bondong mencari aset yang dianggap aman.
Dalam situasi seperti ini, dolar AS kembali memainkan perannya sebagai safe haven. Ketika ketidakpastian meningkat, arus modal cenderung mengalir ke aset yang dianggap lebih aman, sementara mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan.

Ketegangan geopolitik juga mendorong lonjakan harga minyak dunia. Harga Brent crude oil kini telah menyentuh US$96 per barel. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, kenaikan harga energi berpotensi memperbesar tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar domestik.
Tidak heran jika di tengah kondisi ini, permintaan terhadap stablecoin berbasis dolar seperti USDT ikut meningkat. Banyak pelaku pasar memilih memindahkan dana mereka ke aset yang nilainya mengikuti dolar AS untuk mengurangi risiko volatilitas.
Akibatnya, harga stablecoin USDT di pasar domestik terus bergerak naik dan berhasil menembus level psikologis di angka Rp18.000, mencerminkan kuatnya permintaan terhadap eksposur dolar AS.
Strategi Pemerintah untuk Menjaga Nilai Rupiah
Tekanan terhadap rupiah juga mendapat perhatian pemerintah. Dikutip dari Tempo pada Kamis (04/06/2026), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui bahwa pelemahan rupiah meningkatkan beban utang pemerintah yang berdenominasi dolar AS.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut berada dalam skenario yang telah diperhitungkan. Pemerintah telah menyiapkan berbagai simulasi untuk mengantisipasi gejolak nilai tukar dan kenaikan harga minyak dunia.
“Penyesuaiannya cukup tinggi, tetapi saya tidak akan menyebutkannya karena bisa memicu pelemahan rupiah lebih lanjut. Secara fundamental, nilai rupiah sebenarnya berada di bawah level saat ini, lebih kuat daripada yang terlihat sekarang,” kata Purbaya.
Sebagai antisipasi, Kemenkeu telah menyiapkan dana Rp8 triliun untuk menjaga stabilitas pasar. Dana tersebut digunakan untuk melakukan pembelian kembali Surat Berharga Negara (SBN) yang dilepas investor guna meredam gejolak di pasar keuangan.
Tekanan pasar juga terlihat di bursa saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,70 persen atau turun 101,28 poin ke level 5.839,78. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Jika ketegangan geopolitik dan penguatan dolar AS berlanjut, tekanan terhadap rupiah dan aset berisiko berpotensi bertahan. Kondisi ini membuat pergerakan stablecoin berbasis dolar seperti USDT semakin menarik untuk dipantau.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


