Stablecoin Jadi Andalan Transaksi Dunia Nyata di Banyak Negara

Pasar kripto global masih bergerak dalam fase sideways dengan tekanan dari lemahnya permintaan jangka pendek. Namun, kondisi tersebut tidak berdampak signifikan terhadap aktivitas stablecoin.

Analisis terbaru dari XWIN Research Japan pada hari Minggu (11/1/2026) menunjukkan bahwa penggunaan dan total pasokan stablecoin justru terus meningkat, terlepas dari volatilitas harga aset kripto.

Alamat Stablecoin

Menurut analisis tersebut, metrik utama stablecoin berbasis ERC20, seperti jumlah alamat aktif dan total pasokan, saat ini berada di dekat level tertinggi sepanjang sejarah.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Bahkan selama periode koreksi pasar, tidak terlihat penurunan berarti pada kedua indikator tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa stablecoin semakin digunakan untuk aktivitas ekonomi riil, bukan hanya sebagai sarana spekulasi di pasar kripto.

pasokan Stablecoin

XWIN Research Japan menyatakan bahwa peningkatan ini mencerminkan pergeseran fungsi stablecoin dari instrumen perdagangan menjadi bagian dari infrastruktur keuangan yang digunakan secara luas dalam transaksi sehari-hari.

“Data on-chain menunjukkan bahwa stablecoin kini lebih banyak dimanfaatkan untuk aktivitas ekonomi nyata dibanding sekadar spekulasi pasar,” ungkap XWIN Research Japan.

Tren ini juga terlihat dalam struktur pasar kripto yang lebih luas. Modal investor cenderung terkonsentrasi pada Bitcoin dan stablecoin, sementara minat terhadap altcoin relatif melemah.

BACA JUGA:  Bos LPS Sentil Kripto, Sebut Belum Masuk Kategori Halal

Pola tersebut konsisten dengan temuan sebelumnya dari XWIN Research yang mencatat bahwa dalam fase koreksi, dana biasanya berputar ke aset dengan permintaan riil dan utilitas yang jelas.

Adopsi Stablecoin Menguat di Negara Berkembang

Pertumbuhan penggunaan stablecoin paling kuat terjadi di wilayah dengan tingkat inflasi tinggi dan keterbatasan akses perbankan. Di kawasan Asia, Amerika Latin, dan Afrika, stablecoin banyak digunakan untuk transfer lintas negara serta pembayaran antarbisnis atau B2B.

Kebutuhan akan sistem pembayaran yang cepat, murah dan stabil mendorong adopsi teknologi ini di sektor perdagangan dan jasa.

Di wilayah tersebut, stablecoin berfungsi sebagai alternatif terhadap mata uang lokal yang volatil serta sistem perbankan yang belum merata. Selain itu, efisiensi biaya dan kecepatan transaksi membuat stablecoin semakin diminati untuk pengiriman dana lintas batas, khususnya bagi pelaku usaha kecil dan menengah.

Sementara itu, di Amerika Utara dan Eropa, adopsi stablecoin didorong oleh kejelasan regulasi. Kepastian hukum telah membuka jalan bagi institusi keuangan untuk memanfaatkan stablecoin dalam layanan komersial, termasuk pembayaran, penyelesaian transaksi dan manajemen likuiditas.

BACA JUGA:  Revisi P2SK Disorot, Investor Kripto Terancam Hijrah ke Exchange Luar

XWIN Research Japan mencatat bahwa pertumbuhan struktural ini menunjukkan pergeseran mendasar dalam cara stablecoin digunakan. Dari yang sebelumnya identik dengan aktivitas trading kripto, kini stablecoin semakin berperan dalam mendukung transaksi ekonomi riil di berbagai sektor.

Tantangan Khusus di Jepang

Di Jepang, minat terhadap stablecoin berbasis yen, JPYC, menunjukkan peningkatan secara bertahap. Namun, penggunaan riilnya masih tergolong terbatas dibandingkan dengan wilayah lain. Salah satu hambatan utama adalah adanya batas penerbitan maksimal sebesar ¥1 juta per pengguna.

Batasan tersebut dinilai membatasi likuiditas dan memperlambat ekspansi penggunaan JPYC dalam skala yang lebih luas. Akibatnya, adopsi stablecoin di Jepang belum berkembang secepat kawasan Asia lainnya yang menghadapi tekanan inflasi lebih tinggi dan kebutuhan transaksi lintas negara yang lebih besar.

XWIN Research Japan memperingatkan bahwa tanpa perubahan struktural, Jepang berisiko tertinggal dalam pengembangan infrastruktur stablecoin global. Kendati minat publik mulai tumbuh, keterbatasan regulasi dan kapasitas penerbitan masih menjadi penghalang utama bagi adopsi massal.

BACA JUGA:  BIP 360: Fondasi Baru Bitcoin Menghadapi Ancaman Quantum Computing

Secara keseluruhan, laporan tersebut menyimpulkan bahwa stablecoin tengah bertransformasi menjadi bagian dari sistem keuangan berbasis permintaan nyata. Pergeseran ini terlihat dari meningkatnya penggunaan stablecoin untuk pembayaran, pengiriman dana dan aktivitas bisnis lintas wilayah.

Dalam konteks ini, stablecoin dan dunia nyata kini semakin terhubung melalui fungsi pembayaran dan transfer yang praktis, stabil, serta dapat diakses secara global. Peran stablecoin tidak lagi terbatas pada pasar kripto, melainkan telah merambah ke sektor ekonomi yang lebih luas.

XWIN Research Japan menegaskan bahwa masa depan stablecoin akan sangat bergantung pada kemampuan masing-masing negara dalam menyesuaikan regulasi dan infrastruktur pendukung.

Bagi Jepang, keberhasilan JPYC dalam beralih dari potensi ke implementasi nyata akan menjadi indikator penting dalam menentukan posisinya di ekosistem keuangan digital global.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia