Memahami Standar Basel untuk Eksposur Aset Kripto dan Dampaknya!

Standar Basel kripto adalah kerangka regulasi global yang mengatur bagaimana bank harus mengelola risiko, kebutuhan modal, dan batas eksposur terhadap aset kripto agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga di tengah pertumbuhan industri blockchain. Yuk, pahami lebih lanjut lewat penjelasan berikut ini!

BACA JUGA: Mengenal A16z Crypto: Apa Itu dan Bagaimana Pengaruhnya?

Apa Itu Standar Basel Kripto dan Mengapa Penting?

Standar Basel kripto lahir dari inisiatif Basel Committee on Banking Supervision yang pada Desember 2022 merilis standar prudensial final untuk eksposur aset kripto dan mulai berlaku per 1 Januari 2025. Prinsip utamanya sederhana namun krusial: same risk, same treatment.

Artinya, jika sebuah aset kripto memiliki risiko yang setara dengan aset keuangan lain, maka perlakuan modal dan pengawasannya juga harus setara. Bagi kamu yang tertarik dengan dunia kripto dan blockchain, standar ini penting karena menentukan seberapa jauh bank bisa terlibat di industri ini secara aman dan terukur.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Pembagian Kelompok Aset dalam Standar Basel Kripto

Dalam Standar Basel kripto, aset kripto dibagi ke dalam dua kelompok besar berdasarkan profil risikonya. Pembagian ini menjadi fondasi utama dalam menentukan bobot risiko dan kebutuhan modal bank. Melansir dokumen resmi “Prudential treatment of cryptoasset exposures”, berikut adalah penjelasannya:

Diagram Kelompok Aset Kripto Standar Basel
Diagram Kelompok Aset Kripto Standar Basel. Foto: BIS/Prudential treatment of cryptoasset exposures.

Kelompok 1: Aset Kripto yang Relatif Lebih Stabil

Kelompok 1 mencakup aset kripto yang dianggap lebih “aman”, seperti tokenisasi aset tradisional dan stablecoin yang memenuhi kriteria ketat. Agar bisa masuk kelompok ini, aset kripto harus memiliki mekanisme stabilisasi nilai yang efektif, kepastian hukum atas hak dan kewajibannya, infrastruktur blockchain yang andal, serta dikelola oleh entitas yang berada di bawah pengawasan regulator.

Jika seluruh syarat ini terpenuhi, aset kripto tersebut diperlakukan hampir setara dengan aset keuangan konvensional.

Kelompok 2: Aset Kripto Berisiko Tinggi

Sebagian besar aset kripto populer seperti Bitcoin dan banyak altcoin masuk ke Kelompok 2 karena tidak memiliki jaminan nilai atau mekanisme stabilisasi yang kuat.

Dalam Standar Basel kripto, kelompok ini dipandang memiliki volatilitas dan risiko tambahan yang jauh lebih tinggi, sehingga pendekatan pengelolaannya jauh lebih konservatif.

BACA JUGA:  Begini Cara Tether Untung Rp160 Triliun dari "Mencetak" USDT!

Kebutuhan Modal dan Bobot Risiko dalam Standar Basel Kripto

Perbedaan paling mencolok dari Standar Basel kripto terlihat pada kebutuhan modal yang harus disiapkan bank. Untuk Kelompok 1, bobot risiko mengikuti aset tradisional yang menjadi dasarnya.

Misalnya, stablecoin yang sepenuhnya didukung dolar AS akan diperlakukan seperti eksposur kas dalam dolar, meski regulator masih bisa menambahkan modal ekstra jika infrastruktur teknologinya dinilai lemah.

Sebaliknya, Kelompok 2 dikenakan bobot risiko ekstrem sebesar 1.250 persen. Ini berarti setiap eksposur Rp100 juta ke aset kripto berisiko tinggi harus ditopang modal hingga Rp1,25 miliar.

Beberapa aset di Kelompok 2 memang boleh dihitung secara net dengan lindung nilai terbatas (subkelompok 2a), tetapi sisanya masuk subkelompok 2b yang sama sekali tidak mendapat keringanan.

BACA JUGA: 7 Jenis Konsensus Blockchain dan Fungsinya

Batas Maksimum Eksposur Bank terhadap Aset Kripto

Standar Basel kripto tidak hanya bicara soal modal, tetapi juga membatasi seberapa besar porsi aset kripto yang boleh dimiliki bank. Total eksposur terhadap aset kripto Kelompok 2 dibatasi maksimal 1 persen dari modal inti (Tier-1).

Jika batas ini terlampaui, perlakuan modal menjadi semakin berat, bahkan seluruh eksposur bisa langsung diklasifikasikan sebagai kelompok paling berisiko. Tujuannya jelas, yaitu untuk mencegah bank mengambil risiko kripto secara berlebihan.

Kewajiban Pengungkapan dan Transparansi

Melansir publikasi resmi BIS, mulai 1 Januari 2026, Standar Basel kripto juga mewajibkan bank untuk mengungkapkan secara terbuka detail eksposur aset kripto mereka. Bank harus melaporkan jenis aset kripto, besaran eksposur, hingga kebutuhan modal yang terkait.

Transparansi ini diharapkan meningkatkan disiplin pasar dan memudahkan investor maupun regulator membandingkan risiko antar lembaga keuangan.

Dampak Standar Basel Kripto bagi Industri dan Masyarakat

Bagi industri keuangan, Standar Basel kripto membuat bank jauh lebih berhati-hati dalam berinvestasi atau menyediakan layanan berbasis kripto. Inovasi tetap berjalan, tetapi dalam koridor yang lebih aman.

Bagi masyarakat umum dan investor pemula, standar ini memberi sinyal bahwa adopsi kripto oleh perbankan dilakukan secara terukur, sehingga dana nasabah tidak langsung terpapar volatilitas ekstrem pasar kripto.

BACA JUGA:  Mengenal Fenomena Liquidity Squeeze di Pasar Kripto

Apa yang Bisa Kamu Pelajari dari Standar Basel Kripto ke Depannya?

Singkatnya, Standar Basel kripto menetapkan batasan yang jelas bagi perbankan dalam berinteraksi dengan aset kripto: aset yang dinilai lebih stabil bisa diperlakukan mendekati aset tradisional, sementara aset berisiko tinggi dikenai bobot risiko sangat besar, dibatasi eksposurnya, dan wajib dilaporkan secara transparan.

Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia