6 Strategi Staking untuk Pemula Buat Kamu yang Masih Bingung!

Kalau kamu tertarik masuk ke dunia cryptocurrency dan ingin asetmu “bekerja” tanpa harus trading setiap hari, staking crypto bisa jadi pintu masuk yang menarik. Tapi tanpa strategi staking yang jelas, potensi cuan bisa berubah jadi risiko yang bikin panik. Yuk, simak strategi lengkapnya di bawah ini!

BACA JUGA: 10 Aset Kripto Untuk Staking Terbaik Pada Tahun 2026!

Strategi Staking Crypto Untuk Pemula

Strategi staking adalah cara cerdas untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset crypto dengan tetap mengelola risiko secara terukur sejak awal. Berikut ini adalah ulasan strateginya dari modal kecil hingga besar.

BACA JUGA:  Apa Itu Staking Crypto? Ini Cara Kerja dan Panduan Lengkapnya!

Strategi 1: Start Small, Think Big (Pemula)

Strategi staking ini cocok buat kamu yang baru mulai dan masih ingin memahami cara kerja staking crypto tanpa tekanan besar. Fokusnya bukan mengejar return tertinggi, tapi membangun pengalaman, memahami mekanisme reward, risiko harga, serta bagaimana platform bekerja selama 3–6 bulan pertama.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Dengan modal kecil, kamu bisa belajar tanpa takut panik saat market turun. Kombinasi aset yang relatif stabil dan fleksibel membantu kamu tetap aman sambil mengasah insting investasi.

Breakdown Aset:

  • 40 persen Cardano (ADA) – Stabil dan fleksibel untuk staking
  • 30 persen Solana (SOL) – Reward menarik dengan periode lock-up pendek
  • 30 persen Stablecoin (USDT/USDC) – Minim risiko volatilitas harga

Strategi 2: Balanced Portfolio (Intermediate)

Kalau kamu sudah paham dasar staking crypto, strategi staking ini membantu kamu naik level dengan diversifikasi yang lebih matang. Tujuannya adalah menyeimbangkan risiko dan potensi imbal hasil, bukan bergantung pada satu aset saja.

Kamu mulai menggabungkan staking tradisional dan liquid staking, serta membagi dana antara centralized exchange dan wallet pribadi. Ini memberi kamu fleksibilitas sekaligus kontrol lebih besar atas asetmu.

Breakdown Aset:

  • 30 persen Ethereum via Lido
  • 25 persen Solana
  • 20 persen Cardano
  • 15 persen Polkadot
  • 10 persen Cash reserve untuk averaging down atau peluang baru

Strategi 3: Advanced DeFi Staking (High Capital)

Strategi staking crypto ini ditujukan untuk kamu yang sudah nyaman dengan DeFi dan memahami risiko smart contract. Fokusnya adalah memaksimalkan yield dengan menggabungkan liquid staking, native staking, dan yield farming dalam satu ekosistem terintegrasi.

Kamu tidak hanya mengunci aset, tetapi juga memanfaatkannya kembali di berbagai protokol DeFi untuk menciptakan “layered yield”. Potensinya lebih besar, tapi risikonya juga meningkat, sehingga manajemen keamanan wajib jadi prioritas utama.

Breakdown Aset:

  • 40 persen Liquid staking (stETH dari Lido, rETH dari Rocket Pool)
  • 30 persen Native staking langsung ke validator
  • 20 persen Yield farming di Curve Finance atau Aave
  • 10 persen Reserve fund untuk peluang atau proteksi volatilitas

Dollar Cost Averaging (DCA) untuk Staking

Dalam strategi staking, DCA (Dollar Cost Averaging) membantu kamu mengurangi risiko masuk di harga yang salah. Daripada langsung staking dalam jumlah besar (lump sum), kamu membeli dan langsung staking secara bertahap dalam periode tertentu. Cara ini membuat harga beli rata-rata lebih stabil dan membantu kamu tetap disiplin saat market volatil.

Strategi ini sangat cocok untuk pemula karena menghindari FOMO saat harga naik tajam. Selain itu, reward staking tetap berjalan sambil kamu membangun posisi secara perlahan.

BACA JUGA: 10 Platform Staking Terbaik di Indonesia: Mana yang Paling Aman?

Contoh Breakdown DCA:

  • Total budget: Rp12 juta
  • Periode: 6 bulan
  • Setiap bulan: Rp2 juta beli crypto lalu langsung staking

Contoh Alokasi per bulan:

  • 50 persen Ethereum
  • 30 persen Solana
  • 20 persen Cardano

Dengan pendekatan ini, kamu tidak perlu menebak kapan harga terendah. Fokusnya adalah konsistensi, bukan timing sempurna.

Strategi Liquid Staking

Cara Kerja Liquid Staking
Cara Kerja Liquid Staking. Foto: X/okx

Liquid staking adalah versi lebih fleksibel dari staking tradisional. Biasanya saat kamu staking, aset akan terkunci dan tidak bisa digunakan. Tapi dengan liquid staking, kamu mendapatkan token turunan yang merepresentasikan aset yang sudah di-stake, sehingga tetap bisa digunakan di ekosistem DeFi.

Misalnya, kamu staking ETH melalui Lido dan mendapatkan stETH. Token ini bisa kamu simpan, diperdagangkan, atau bahkan digunakan di protokol seperti Aave atau Curve Finance untuk mendapatkan tambahan yield.

Contoh Breakdown Strategi Liquid Staking:

  • 70 persen Ethereum via Lido (stETH)
  • 20 persen stETH digunakan sebagai liquidity provider
  • 10 persen disimpan sebagai buffer likuiditas

Strategi staking crypto ini bisa meningkatkan total return karena kamu mendapatkan reward dari staking dasar + reward tambahan dari DeFi. Tapi perlu diingat, semakin kompleks strateginya, semakin tinggi pula risikonya.

BACA JUGA:  Pajak Kripto Indonesia 2026: Begini Cara Menghitungnya

Strategi Rebalancing dalam Staking Crypto

Dalam jangka panjang, strategi staking yang baik bukan cuma soal memilih aset yang tepat, tapi juga menjaga komposisinya tetap seimbang. Karena market crypto sangat volatil, alokasi awal kamu bisa berubah drastis hanya dalam beberapa bulan. Kalau tidak di-rebalance, portofolio bisa jadi terlalu berat di satu aset dan meningkatkan risiko tanpa kamu sadari.

Rebalancing membantu kamu mengembalikan komposisi aset sesuai target awal, sekaligus mengunci sebagian profit saat harga naik tinggi. Idealnya, kamu melakukan evaluasi setiap 3–6 bulan atau ketika ada perubahan signifikan pada harga maupun APY staking.

Kapan Perlu Rebalancing?

Beberapa kondisi yang jadi sinyal untuk Rebalancing:

  • Salah satu aset naik atau turun lebih dari 30 persen dari alokasi awal
  • APY staking turun signifikan
  • Ada protokol baru dengan risk-adjusted return lebih menarik
  • Market berubah dari bull cycle ke bear cycle (atau sebaliknya)

Strategi staking yang disiplin selalu berbasis data, bukan emosi.

Cara Melakukan Rebalancing yang Efisien

Rebalancing tidak harus berarti menjual semua lalu beli ulang karena itu bisa kena fee dan pajak besar. Kamu bisa melakukannya lebih cerdas dan bertahap.

Contoh Breakdown Rebalancing:

Misalnya target awal:

  • 30 persen Ethereum
  • 25 persen Solana
  • 20 persen Cardano
  • 15 persen Polkadot
  • 10 persen Cash

Jika Ethereum naik hingga menjadi 45 persen dari total portofolio:

Langkah yang bisa kamu lakukan:

  • Gunakan reward staking ETH untuk menambah aset lain
  • Unstake sebagian ETH secara bertahap
  • Arahkan DCA berikutnya ke aset yang under-allocated

Dengan cara ini, kamu menjaga keseimbangan tanpa transaksi berlebihan. Rebalancing membuat strategi staking crypto kamu tetap sehat dan terkendali dalam jangka panjang. Tanpa rebalancing, kamu sebenarnya sedang membiarkan market menentukan tingkat risiko investasi kamu, bukan kamu sendiri.

BACA JUGA:  Apa Itu Tokenized Stocks? Ini Cara Kerja dan Risikonya!

Jadi, Strategi Staking Mana yang Paling Cocok untuk Kamu?

Pada akhirnya, strategi staking yang tepat bukan soal siapa yang menawarkan APY tertinggi, tapi siapa yang paling sesuai dengan modal, pengalaman, dan toleransi risiko kamu.

Kamu bisa mulai dari pendekatan sederhana seperti start small dan DCA, lalu berkembang ke portofolio seimbang, hingga liquid staking dan DeFi jika sudah benar-benar paham mekanismenya. Kuncinya ada pada konsistensi, disiplin rebalancing, dan manajemen risiko yang matang.

Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia