Aksi borong Bitcoin kembali dilakukan secara besar-besaran oleh Strategy. Perusahaan yang dipimpin oleh Michael Saylor ini terus menunjukkan keyakinannya terhadap kripto terbesar tersebut, bahkan di tengah tekanan pasar dan kerugian belum terealisasi yang cukup besar.
Strategy Tambah 13.927 BTC, Dekati 800.000 BTC
Berdasarkan laporan ke SEC pada Senin (13/04/2026), Strategy mengakumulasi 13.927 Bitcoin dalam periode 6–12 April. Nilai pembelian ini mencapai sekitar US$1 miliar atau setara Rp17 triliun.
Pembelian dilakukan pada harga rata-rata US$71.902 per koin, lebih rendah dari rata-rata akumulasi perusahaan di kisaran US$75.577 per BTC. Ini menunjukkan Strategy tetap konsisten membeli saat harga lebih rendah.

Dengan tambahan tersebut, total kepemilikan Strategy kini mencapai 780.897 BTC. Secara keseluruhan, perusahaan telah menggelontorkan sekitar US$59,02 miliar untuk membangun portofolio investasi Bitcoin sejak awal akumulasi.
Langkah ini membawa Strategy semakin dekat dengan tonggak 800.000 BTC. Saat ini, mereka hanya membutuhkan sekitar 19.103 BTC lagi, setelah sebelumnya membeli lebih dari 107.000 BTC sepanjang tahun ini.
Pembelian Bitcoin Didanai Penjualan Saham
Pembelian Bitcoin oleh Strategy sendiri didanai dari penjualan saham preferen perpetual mereka, yakni STRC. Dalam sepekan terakhir, perusahaan menjual sekitar 10 juta saham STRC dan menghimpun dana sekitar US$1 miliar.

Menariknya, Strategy tidak melepas saham lain seperti STRF, STRK, STRD, maupun MSTR dalam periode ini. Hal ini menunjukkan fokus perusahaan pada instrumen tertentu untuk mendukung strategi akumulasi Bitcoin.
Data juga menunjukkan bahwa penerbitan STRC pada pekan lalu menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah perusahaan. Lonjakan ini menandakan adanya aktivitas pendanaan yang sangat aktif dalam periode tersebut.
Bahkan, volumenya hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan rata-rata empat minggu sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya agresivitas Strategy sejak perubahan aturan penjualan pada awal Maret.
Sebelum pembelian diumumkan, Michael Saylor sempat memberikan sinyal melalui unggahan di X pada Minggu (12/04/2026).
“Berpikir lebih besar,” tulisnya sambil membagikan grafik riwayat pembelian Bitcoin Strategy sejak 2020.

Strategy Tetap Agresif Meski Merugi
Meski terus menambah kepemilikan, Strategy sebenarnya masih menghadapi tekanan dari sisi kinerja. Perusahaan melaporkan kerugian belum terealisasi sebesar US$14,46 miliar pada kuartal pertama 2026 dari aset digital yang dimiliki.
Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan langkah agresifnya. Justru sebaliknya, Strategy tampak semakin yakin dengan prospek jangka panjang Bitcoin sebagai aset lindung nilai dan penyimpan nilai.
Di sisi lain, pasar kripto juga sempat mendapat dorongan positif dari faktor makro. Gencatan senjata antara AS dan Iran memicu reli pasar, membuat harga Bitcoin kembali menembus US$70.000 dan sempat menyentuh US$73.000.
Dengan kombinasi akumulasi agresif dan sentimen pasar yang membaik, langkah Strategy ini semakin memperkuat narasi bahwa pemain institusi masih melihat BTC sebagai aset strategis untuk jangka panjang.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



