Harga Bitcoin hari ini kembali menjadi sorotan setelah menembus area US$80.000 dan diperdagangkan di kisaran US$80.115, setara Rp1,39 miliar.
Kenaikan ini terjadi di tengah munculnya sinyal teknikal kuat yang dinilai berpotensi mendorong harga menuju US$100.000 dalam beberapa bulan ke depan.
Dalam 24 jam terakhir, harga BTC tercatat naik 2,19 persen dan naik 0,28 persen dalam 4 jam terakhir. Lonjakan ini turut didukung oleh peningkatan aktivitas pasar, di mana volume spot mencapai US$53,99 miliar atau melonjak 157,4 persen, sementara volume derivatif bahkan naik 158,83 persen menjadi US$99,46 miliar.
Sinyal Morning Star Dorong Optimisme
Analis kripto Ash Crypto menilai bahwa struktur teknikal Bitcoin saat ini berada dalam fase penting setelah terbentuknya pola Morning Star pada grafik bulanan. Pola ini dikenal sebagai sinyal pembalikan tren yang terdiri dari tiga candle dan secara historis memiliki tingkat keberhasilan tinggi.

Dari total delapan kemunculan pola tersebut sepanjang sejarah Bitcoin, tujuh di antaranya diikuti oleh reli kuat, dengan tingkat keberhasilan mencapai 87,5 persen.
Jika pola ini kembali mengikuti rekam jejak sebelumnya dan harga mampu menembus resistance US$81.000, maka target berikutnya diproyeksikan berada di area US$100.000 sekaligus membuka peluang mencetak rekor harga baru.
Namun demikian, skenario alternatif tetap terbuka. Jika pola ini gagal, maka harga Bitcoin hari ini berpotensi mengalami penolakan di sekitar US$80.000 dan kembali menguji area bawah sebagai bentuk koreksi sebelum menentukan arah berikutnya.
Aktivitas On-Chain dan Whale Tunjukkan Divergensi
Di sisi lain, data dari Santiment menunjukkan bahwa aktivitas on-chain Bitcoin justru berada di level terendah dalam dua tahun terakhir, meskipun harga telah kembali menembus US$80.000 untuk kali pertama dalam tiga bulan.

Saat ini, rata-rata terdapat sekitar 531 ribu wallet aktif yang melakukan transaksi setiap hari, dengan tambahan sekitar 203 ribu wallet baru.
Sementara itu, analis on-chain Carmelo Aleman di CryptoQuant mengungkap adanya perbedaan perilaku signifikan antara kelompok whale.

Dalam periode 3 April hingga 2 Mei 2026, harga Bitcoin memang naik sekitar 17,5 persen, tetapi pergerakan tersebut diiringi oleh peningkatan eksposur dari whale baru atau New Whales dan sikap bertahan dari whale lama atau Old Whales.
“Pembacaan ini jelas, New Whales meningkatkan eksposur sambil mengelola keuntungan secara taktis, sementara Old Whales menunjukkan pola holding struktural tanpa distribusi agresif,” ungkap Carmelo Aleman.
Ia menjelaskan bahwa New Whales, yakni pemegang lebih dari 1.000 BTC dengan usia kepemilikan di bawah 155 hari, telah menambah kepemilikan hingga hampir 150 ribu BTC. Sebaliknya, Old Whales dengan usia kepemilikan di atas 155 hari, hampir tidak melakukan perubahan signifikan dalam portofolio mereka.
Dari False Breakout ke Potensi Reli Besar Bitcoin
Dari sisi teknikal jangka pendek, analis Linda menyoroti area US$80.600 sebagai level krusial dalam pergerakan harga Bitcoin hari ini. Ia menilai bahwa retest yang terjadi saat ini berpotensi menghasilkan false breakout sebelum harga memasuki fase konsolidasi lanjutan.

Namun, jika tekanan beli mampu mempertahankan harga di atas level tersebut dan candle berhasil ditutup di atasnya, maka peluang kenaikan menuju kisaran US$87.000 hingga US$94.000 semakin terbuka. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan level ini dapat memicu koreksi jangka pendek.
Selain sinyal jangka pendek, analis teknikal Ali Martinez menyoroti indikator jangka panjang yang dinilai sangat krusial dalam membaca arah harga Bitcoin hari ini. Ia mengacu pada garis tren naik (ascending trendline) yang telah terbentuk selama hampir satu dekade dan secara historis menjadi titik awal reli besar.

Menurutnya, setiap kali harga Bitcoin menyentuh atau bertahan di atas garis tren tersebut, pasar cenderung memasuki fase ekspansi signifikan. Data historis menunjukkan bahwa setelah menyentuh garis ini, Bitcoin pernah mencatat kenaikan hingga 968 persen pada 2017, 259 persen pada 2018, 1.126 persen pada 2020 dan 660 persen pada 2022.
Dalam kondisi terbaru, harga Bitcoin sempat turun ke kisaran US$65.000, namun tetap bertahan di atas garis tren tersebut. Kondisi ini dinilai sebagai indikasi kuat bahwa struktur bullish jangka panjang masih terjaga dan membuka kemungkinan bahwa fase bottom telah terbentuk.
Dengan kata lain, jika pola historis kembali terulang, maka posisi harga Bitcoin hari ini tidak hanya sekadar rebound jangka pendek, tetapi berpotensi menjadi awal dari siklus kenaikan yang lebih besar.
Secara keseluruhan, harga Bitcoin hari ini berada di fase krusial dengan kombinasi sinyal teknikal kuat seperti pola Morning Star, dukungan struktur jangka panjang dari garis tren historis, serta lonjakan volume perdagangan yang didominasi derivatif.
Di sisi lain, aktivitas on-chain yang menurun dan divergensi perilaku whale menunjukkan bahwa reli belum sepenuhnya didorong oleh akumulasi organik.
Dengan sejumlah level kunci seperti US$80.600 hingga US$81.000 yang sedang diuji, arah selanjutnya akan sangat bergantung pada kemampuan pasar mempertahankan momentum dan mengonfirmasi breakout dalam waktu dekat.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


