Supply Bitcoin Kian Langka, Apakah BTC Siap Melesat ke US$65.000?

Pergerakan harga Bitcoin kembali mencuri perhatian. Kali ini bukan hanya peluang breakout ke US$65.000, tetapi juga sederet data on-chain yang menunjukkan pasar sedang memasuki fase menarik.

Di balik optimisme itu, ada cerita lain yang tak kalah penting. Supply Bitcoin terus menipis akibat akumulasi investor jangka panjang, sementara wallet yang tertidur lebih dari tujuh tahun mulai kembali bergerak.

Tekanan Mereda, Bitcoin Siap Menguji US$65.000

Bitcoin kembali membangkitkan optimisme pasar setelah berhasil bangkit dari area US$62.000. Kini, aset kripto terbesar itu bergerak stabil di kisaran US$63.000 hingga US$64.000, membuka peluang untuk melanjutkan kenaikan.

Di tengah pemulihan tersebut, analis kripto Michaël van de Poppe melihat struktur grafik Bitcoin mulai mengarah pada potensi breakout. Menurutnya, pasar telah menguji kekuatan tekanan jual, tetapi permintaan justru terlihat lebih dominan.

“Grafik BTC terlihat menjanjikan dan siap breakout. Pasar menguji tekanan jual masih kuat, tetapi permintaan lebih dominan. Saya memperkirakan Bitcoin akan menembus US$65.000 pada pekan depan,” ujarnya di X, Sabtu (18/07/2026).

Analisis Pergerakan Harga Bitcoin - Michael van de Poppe
Analisis Pergerakan Harga Bitcoin – Michaël van de Poppe

Secara teknikal, Bitcoin berhasil mempertahankan support di sekitar US$60.876 dan terus mendekati resistance utama di US$65.000. Level tersebut kini menjadi area krusial yang dipantau pelaku pasar dalam beberapa hari ke depan.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Belum Bullish? Data Ini Ungkap Jebakan Leverage yang Berulang Kali Memakan Korban

Selama tekanan beli mampu bertahan, peluang Bitcoin menguji bahkan menembus US$65.000 tetap terbuka. Namun, konfirmasi breakout baru akan semakin kuat apabila harga berhasil ditutup secara konsisten di atas level tersebut.

Supply Bitcoin Makin Tipis Berkat Akumulasi LTH

Di balik peluang kenaikan harga, data on-chain juga menunjukkan perubahan penting pada sisi pasokan. Investor jangka panjang (long-term holders/LTH) terus menambah kepemilikan dalam beberapa pekan terakhir.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Investor jangka panjang (long-term holders/LTH) tercatat mengakumulasi 371.000 BTC dalam 30 hari terakhir. Angka tersebut mencerminkan keyakinan yang masih sangat kuat terhadap prospek Bitcoin dalam jangka panjang.

Analis CryptoQuant Axel Adler Jr. mengungkapkan pada Jumat (17/07/2026) bahwa total kepemilikan kelompok LTH kini mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah. Artinya, semakin banyak Bitcoin berpindah ke tangan investor yang memilih menyimpannya.

“Dalam 30 hari terakhir, investor jangka panjang mengakumulasi 371.000 BTC. Pasokan yang dimiliki kelompok long-term holders kini menyentuh 16,34 juta BTC. Supply semakin langka, tetapi permintaan belum juga muncul. Apa artinya bagi pasar?” tuturnya.

BACA JUGA:  Bitcoin Terkoreksi, OI Turun 12 Persen, Analis Justru Soroti Sinyal Bullish
Bitcoin LTH Accumulation and Distribution Supply - Axel Adler Jr
Bitcoin LTH Accumulation and Distribution Supply – Axel Adler Jr

Fenomena tersebut membuat pasokan Bitcoin yang tersedia di pasar semakin terbatas. Dalam kondisi normal, berkurangnya supply kerap menjadi katalis positif, terutama apabila permintaan mulai meningkat secara signifikan.

Meski begitu, Adler mengingatkan bahwa permintaan pasar belum menunjukkan peningkatan yang kuat. Artinya, kelangkaan pasokan memang mulai terbentuk, tetapi reli harga BTC tetap membutuhkan dorongan dari sisi permintaan agar dapat berlanjut lebih agresif.

Wallet BTC Lama Kembali Aktif, Ancaman atau Peluang?

Meski akumulasi oleh LTH terus meningkat, muncul data lain yang memberikan perspektif berbeda terhadap kondisi pasar. Kali ini, perhatian tertuju pada wallet Bitcoin yang telah lama tidak aktif.

Menurut analis CryptoQuant, Maartunn, selama 365 hari terakhir, wallet yang menyimpan Bitcoin tanpa disentuh selama lebih dari bertahun-tahun tercatat memindahkan ratusan ribu BTC. Kondisi ini menunjukkan sebagian pemegang lama mulai kembali aktif.

“Mengira ini hanya peristiwa satu hari? Coba pikir lagi. Dalam 365 hari terakhir, wallet yang menyimpan Bitcoin tanpa tersentuh selama lebih dari tujuh tahun telah memindahkan 144.470 BTC,” tulisnya di X, Jumat (17/07/2026).

BACA JUGA:  Michael Saylor Ubah Haluan? Strategy Fokus Perkuat Cadangan Kas

Sekilas, data ini memang dapat memunculkan kekhawatiran. Perpindahan Bitcoin yang telah lama tidak aktif sering dikaitkan dengan potensi distribusi aset atau aksi ambil untung oleh investor lama.

Bitcoin Spent Output Age Bands - Maartunn
Bitcoin Spent Output Age Bands – Maartunn

Namun, perpindahan BTC tidak selalu berarti penjualan. Dalam banyak kasus, Bitcoin hanya dipindahkan ke dompet baru, layanan kustodian, atau sebagai bagian dari strategi pengelolaan aset.

Pada akhirnya, ketiga indikator tersebut saling melengkapi dalam menggambarkan kondisi pasar saat ini. Secara teknikal, harga Bitcoin semakin dekat ke US$65.000, sementara akumulasi LTH membuat pasokan di pasar terbatas.

Meski aktivitas wallet BTC lama berpotensi memicu volatilitas jangka pendek, tren utama belum banyak berubah. Selama permintaan terus menguat dan mampu mengejar kelangkaan pasokan, peluang Bitcoin melanjutkan reli masih tetap terbuka.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait