Supply Shock Bitcoin Kian Dekat, Likuiditas Pasar Menyusut

Pasokan Bitcoin yang tersedia di pasar semakin menyempit seiring meningkatnya jumlah koin yang tidak lagi beredar secara aktif.

Data distribusi terbaru menunjukkan lebih dari 17 persen total pasokan Bitcoin diperkirakan telah hilang permanen, sementara sebagian lainnya terkunci dalam kepemilikan pemerintah, ETF dan kelolaan aset perusahaan.

Kondisi ini membuat jumlah koin yang benar-benar likuid untuk diperdagangkan terus berkurang, memicu potensi supply shock Bitcoin dalam waktu yang semakin dekat.

Supply shock Bitcoin merujuk pada kondisi ketika pasokan BTC yang tersedia di pasar menyusut secara signifikan, sementara permintaan tetap tinggi atau bahkan meningkat.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Situasi ini biasanya terjadi karena semakin banyak koin yang terkunci dalam kepemilikan jangka panjang, hilang secara permanen, atau disimpan oleh institusi dan perusahaan tanpa rencana untuk dijual dalam waktu dekat.

Ketika jumlah Bitcoin yang likuid semakin terbatas, tekanan beli cenderung berdampak lebih besar terhadap harga, sehingga memicu potensi lonjakan nilai aset tersebut.

Analis CryptoZ mencatat bahwa penyusutan pasokan likuid ini membentuk tekanan struktural dari sisi pasokan. Dengan semakin banyak Bitcoin yang tidak bergerak, keseimbangan antara pasokan dan permintaan berpotensi berubah signifikan, terutama di tengah meningkatnya minat institusi terhadap aset digital tersebut.

BACA JUGA:  Robert Kiyosaki Pilih Nunggu Bottom Bitcoin dan Emas, Ini Alasannya

“Tekanan dari sisi pasokan kini mulai terbentuk, seiring semakin menipisnya likuiditas Bitcoin di pasar,” ujar CryptoZ.

distribusi btc

Meski kepemilikan Bitcoin masih didominasi oleh investor individu, perilaku pemegang jangka panjang menunjukkan kecenderungan menahan aset mereka.

Koin yang tersimpan dalam dompet jangka panjang jarang dilepas ke pasar, sehingga memperkecil suplai yang tersedia untuk transaksi harian. Secara historis, pola seperti ini kerap muncul sebelum fase kenaikan harga yang signifikan.

Selain itu, terdapat batas alami terhadap pasokan Bitcoin di masa depan. Dompet Satoshi Nakamoto yang belum pernah digunakan, cadangan Bitcoin milik para penambang, serta sisa koin yang belum ditambang menciptakan plafon pasokan yang sulit ditembus.

Di sisi lain, permintaan dari produk ETF berbasis Bitcoin terus meningkat, memperkuat ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan.

Pasokan Mengencang, Likuiditas Pasar Menipis

CryptoZ menilai bahwa kombinasi antara koin yang hilang, kepemilikan institusional dan akumulasi oleh pemegang jangka panjang telah mengurangi liquid float Bitcoin secara signifikan. Semakin sedikit Bitcoin yang beredar aktif di pasar, semakin besar potensi terjadinya lonjakan volatilitas saat permintaan meningkat.

BACA JUGA:  VanEck Bilang Ada 13 Negara yang Kini Aktif Menambang Bitcoin

Penyusutan likuiditas ini juga dipicu oleh masuknya Bitcoin ke dalam neraca keuangan perusahaan dan produk investasi institusional.

Koin-koin tersebut cenderung disimpan dalam jangka panjang, bukan untuk diperdagangkan secara aktif. Akibatnya, pasokan yang tersedia bagi trader ritel dan pasar spot semakin terbatas.

CryptoZ menyebut bahwa kondisi ini menciptakan “zona tekanan pasokan” yang berpotensi memicu pergerakan harga besar berikutnya. Ketika likuiditas menipis, pergerakan harga bisa terjadi lebih cepat dan lebih tajam, karena jumlah koin yang tersedia untuk memenuhi permintaan menjadi semakin sedikit.

Secara historis, fase pengetatan suplai sering kali diikuti oleh periode ekspansi harga. Saat jumlah Bitcoin yang tersedia di pasar berkurang, setiap peningkatan permintaan cenderung berdampak lebih besar terhadap harga.

Fenomena inilah yang dikenal sebagai supply shock Bitcoin, di mana kelangkaan aset mendorong tekanan beli yang lebih kuat.

Sinyal Teknikal Dukung Potensi Kenaikan Harga Bitcoin

Dari sisi analisis teknikal, sejumlah indikator juga mengisyaratkan potensi fase kenaikan berikutnya. Analis pasar Javon Marks melihat bahwa Bitcoin kemungkinan telah menyelesaikan fase dasar atau bottom phase ketiga dalam siklus tren saat ini, dengan titik terendah berada di kisaran US$80.600.

BACA JUGA:  Citi Siap Hadirkan Kustodi Bitcoin Tingkat Institusional

analisis Bitcoin

Menurut Marks, setelah fase dasar seperti ini, harga Bitcoin cenderung memasuki gelombang kenaikan besar. Ia merujuk pada pola sebelumnya, di mana setelah titik terendah terakhir, harga Bitcoin sempat naik lebih dari 150 persen.

Marks juga menyampaikan bahwa target harga yang saat ini diamati sebagai potensi keluarnya Bitcoin dari fase bottom tersebut berada di sekitar US$165.745, atau bahkan lebih tinggi.

Kesamaan kondisi makro dengan periode sebelumnya dinilai mengarah pada kemungkinan fase parabolik, di mana harga bergerak naik dengan cepat dalam waktu relatif singkat.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait