Minat terhadap stablecoin kian menguat. Bukan lagi sekadar penyimpan nilai saat pasar kripto bergejolak, token yang dipatok ke mata uang fiat itu kini semakin sering digunakan untuk transaksi harian, pembayaran lintas negara, hingga instrumen tabungan.
Stablecoin Makin Mengakar dalam Aktivitas Keuangan
Laporan The Stablecoin Utility Report 2026 yang dirilis BVNK bersama Coinbase dan Artemis mengonfirmasi peralihan tren. Survei yang dilakukan YouGov terhadap 4.658 responden di 15 negara memperlihatkan perubahan pola penggunaan stablecoin secara global.
Kapitalisasi pasar stablecoin yang melampaui US$307 miliar kini banyak dimanfaatkan untuk pembayaran, payroll, hingga penyimpanan nilai, tidak lagi terbatas sebagai alat trading di bursa kripto.

Stablecoin adalah aset kripto yang dirancang untuk menjaga nilai tetap stabil, umumnya dipatok 1:1 terhadap mata uang fiat seperti dolar AS dan didukung oleh cadangan tertentu. Dua pemain terbesar di sektor ini adalah Tether melalui USDT dan Circle lewat USDC.
Dalam 12 bulan terakhir, 54 persen responden mengaku pernah memegang mata uang digital. Angka ini menunjukkan bahwa kepemilikan stablecoin sudah masuk arus utama di kalangan pengguna kripto.
Lebih menarik lagi, 56 persen responden menyatakan berencana menambah kepemilikan pada 2026. Sementara itu, dari kelompok yang belum memiliki stablecoin, 13 persen mengatakan akan mulai membeli dalam setahun ke depan.

Separuh holder saat ini bahkan telah meningkatkan saldo mereka sepanjang 2025. Fakta ini mengindikasikan bahwa mata uang digital tak lagi sekadar pelengkap portofolio, melainkan mulai menjadi bagian inti dalam strategi keuangan pribadi.
Sepertiga Tabungan Mulai Dialihkan ke Kripto
Data juga menunjukkan pemegang stablecoin rata-rata mengalokasikan sekitar sepertiga dari total tabungan mereka ke kripto dan stablecoin secara gabungan. Angka ini mencerminkan perubahan pola pikir yang cukup signifikan.
Jika sebelumnya kripto identik dengan spekulasi jangka pendek, kini alokasinya mulai masuk ke dalam struktur perencanaan keuangan yang lebih matang. Stablecoin tidak lagi hanya menjadi aset pelengkap, tetapi bagian dari strategi penyimpanan nilai.
Tren tersebut terlihat lebih kuat di negara berpendapatan rendah dan menengah. Di kawasan dengan mata uang lokal yang volatil atau sistem pembayaran lintas negara yang mahal , mata uang digital menawarkan solusi yang lebih efisien dan mudah diakses.
Afrika tercatat memiliki tingkat kepemilikan serta niat pembelian lanjutan tertinggi dalam survei. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan praktis sering kali menjadi pendorong utama adopsi stablecoin, bukan sekadar dorongan investasi.
Stablecoin Tawarkan Efisiensi Biaya
Penggunaan stablecoin terlihat nyata dalam ekonomi riil. Sebanyak 27 persen holder mengaku membelanjakan stablecoin secara langsung untuk barang dan jasa. Sementara itu, 45 persen lainnya memilih menukarkannya ke mata uang lokal sebelum digunakan.
Lebih dari seperempat pengguna membelanjakan atau mengonversi stablecoin hanya dalam hitungan hari. Sekitar dua pertiga melakukannya dalam beberapa bulan. Ini menunjukkan bahwa stablecoin digunakan dalam aktivitas ekonomi utama.

Bagi freelancer, pekerja lepas, dan penjual marketplace yang menerima pembayaran dalam stablecoin, perannya bahkan lebih besar. Sekitar 35 persen pendapatan tahunan mereka kini berasal dari kripto berbasis mata uang fiat tersebut.
Hampir tiga perempat responden mengatakan stablecoin membantu mereka bekerja lebih mudah dengan klien internasional. Akses lintas negara menjadi lebih cepat dan praktis tanpa hambatan sistem perbankan tradisional.
Efisiensi biaya menjadi pendorong utama adopsinya. Pengguna yang menerima pembayaran dalam kripto melaporkan penghematan biaya dengan rata-rata 40 persen dibandingkan dengan metode konvensional.
Tantangan dan Arah Regulasi
Meski adopsi meningkat, sejumlah hambatan masih membayangi. Pengguna mengeluhkan transaksi yang tidak bisa dibatalkan, risiko kehilangan dana, proses yang rumit, hingga kebingungan memilih blockchain dan mengelola wallet crypto.
Banyak responden berharap sistem pembayaran stablecoin bisa sesederhana metode konvensional, dengan penerimaan luas, biaya transparan, dan perlindungan konsumen yang lebih kuat.
Stablecoin Jadi Andalan Transaksi Dunia Nyata di Banyak Negara
Di sisi regulasi, kejelasan aturan mulai berkembang, terutama di AS di bawah pemerintahan Trump. Setelah penandatanganan GENIUS Act, pembahasan kerangka hukum federal untuk aset kripto, termasuk stablecoin berbasis dolar, terus berjalan.
Jika regulasi dan infrastruktur ini matang, stablecoin berpotensi menjadi uang digital global yang programmable dan tanpa batas. Data 2026 menunjukkan arahnya kian jelas: bagi jutaan orang, stablecoin bukan lagi sekadar kripto, melainkan alat pembayaran sehari-hari.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



