Bitcoin kembali menghadapi fase penuh kehati-hatian, di mana analis on-chain XWIN Research Japan di CryptoQuant menilai bahwa aset kripto terbesar tersebut berada dalam kondisi pasca-penurunan dengan pergerakan cenderung sideways dalam tekanan kebijakan keuangan yang ketat.
Laporan ini diterbitkan sebagai peringatan terhadap potensi risiko pasar menjelang dinamika ekonomi dan politik yang berkaitan dengan tahun pemilu paruh waktu AS di periode menengah, terutama ketika tren historis menunjukkan adanya pelemahan pada pasar saham dan Bitcoin dalam siklus serupa sebelumnya.
Laporan tersebut menegaskan bahwa Bitcoin saat ini bergerak di bawah kondisi finansial yang restriktif, sementara arah pasar dinilai masih bersifat bearish secara bersyarat.
Mengacu pada catatan historis, tahun pemilu paruh waktu AS seperti 2014, 2018 dan 2022 memperlihatkan pola penurunan pasar ekuitas disertai volatilitas yang meningkat.
Pada periode yang sama, Bitcoin juga beberapa kali menunjukkan pelemahan dengan reaksi harga yang lebih tajam dibandingkan aset tradisional karena faktor leverage di pasar kripto.
Tekanan Struktural Pemilu dan Dampak ke Bitcoin
Menurut laporan XWIN Research Japan, tekanan tersebut bukan disebabkan secara langsung oleh pelaksanaan pemilu, melainkan oleh sejumlah faktor struktural yang sering saling bertumpuk.
Ketidakpastian kebijakan mendorong pelaku pasar melakukan pengurangan risiko, ketidakjelasan arah fiskal serta regulasi menunda keputusan investasi, kebijakan moneter yang ketat mengurangi likuiditas, dan proses deleveraging di pasar derivatif memperbesar tekanan penurunan. Seluruh faktor ini berdampak pada pasar saham sekaligus Bitcoin, dengan respons Bitcoin cenderung lebih sensitif.
Dalam analisisnya, XWIN Research Japan merujuk pada indikator on-chain MVRV (Market Value to Realized Value), di mana pada tahun-tahun pemilu paruh waktu sebelumnya, indikator ini tercatat turun hingga mendekati atau di bawah level 1, yang menunjukkan harga Bitcoin bergerak menuju titik rata-rata biaya pasar dan menandakan adanya tekanan jual yang berkelanjutan.

MVRV dinilai tidak menjadi pemicu kejatuhan, tetapi berfungsi sebagai alat konfirmasi kondisi pasar yang sedang mengalami likuidasi dan distribusi kuat.
“MVRV dalam tahun-tahun midterm sebelumnya turun ke sekitar atau di bawah 1, mengonfirmasi tekanan jual yang berlangsung lama,” ungkap XWIN Research Japan.
Proyeksi Menjelang 2026 dan Skenario Alternatif
Ke depan, tahun 2026 disebut sebagai periode penting berikutnya karena kembali memasuki siklus pemilu paruh waktu AS.
Sejumlah faktor diperkirakan menjadi penentu arah pasar, antara lain kebijakan The Fed, dinamika negosiasi fiskal di Kongres, perkembangan regulasi kripto, serta perubahan lanskap politik yang dapat memengaruhi kepercayaan investor. Dengan kondisi tersebut, Bitcoin dinilai masih berisiko menghadapi tekanan jika ketidakpastian meningkat.
Meski demikian, laporan tersebut juga menyebutkan kemungkinan skenario alternatif. Jika ketidakpastian kebijakan menurun, aliran dana membaik, dan leverage pasar kembali stabil, sentimen negatif dapat berkurang.
Namun untuk saat ini, XWIN Research Japan menilai bahwa kondisi pasar Bitcoin masih berada pada fase bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan kehati-hatian.
Jika indikator MVRV kembali menembus jelas di bawah level 1 disertai memburuknya arus dana, maka pandangan terhadap Bitcoin berpotensi kembali diarahkan pada skenario penurunan yang lebih dalam.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



