Perusahaan di balik stablecoin USDT, Tether, tengah mempercepat ekspansi bisnisnya untuk bertransformasi dari penyedia infrastruktur kripto menjadi grup usaha terdiversifikasi.
Berdasarkan laporan Financial Times, Tether kini mengelola sekitar 140 investasi di berbagai sektor, memiliki sekitar 300 karyawan dan berencana merekrut pegawai baru dalam waktu dekat.
Transformasi ini dilakukan sejak 2024 dan semakin intensif pada awal 2026, seiring meningkatnya laba perusahaan dari penerbitan USDT dan pengelolaan cadangan aset. Langkah ekspansi tersebut mencakup sektor teknologi, media digital, pertanian, kecerdasan buatan (AI), penambangan Bitcoin, hingga komoditas emas.
Operasional keuangan dan manajemen perusahaan juga mulai dipusatkan di London, Inggris, untuk memperkuat koordinasi bisnis global.
“Kami ingin membangun ekosistem bisnis yang tidak hanya bergantung pada stablecoin, tetapi juga mendukung pengembangan teknologi dan aset dunia nyata secara berkelanjutan,” ujar Chief Executive Officer Tether, Paolo Ardoino.
Langkah ini menandai perubahan besar dalam strategi Tether, yang selama bertahun-tahun dikenal hampir semata-mata sebagai penerbit USDT, stablecoin dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia.
Kini, perusahaan tersebut berupaya memperluas pengaruhnya ke berbagai lini usaha, dengan memanfaatkan arus kas besar yang dihasilkan dari operasional stablecoin.
Ekspansi Investasi Tether dan Diversifikasi Portofolio
Dalam beberapa tahun terakhir, Tether secara agresif membangun portofolio investasi lintas sektor. Perusahaan tercatat menanamkan modal pada platform media digital, perusahaan teknologi AI, proyek penambangan Bitcoin, hingga bisnis pertanian di Amerika Latin.
Selain itu, Tether juga memperkuat eksposur pada aset fisik melalui produk Tether Gold (XAUT) yang didukung emas batangan.
Ekspansi ini bertujuan menciptakan sumber pendapatan jangka panjang di luar bisnis stablecoin. Dengan semakin ketatnya persaingan di industri kripto global, Tether menilai diversifikasi sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas bisnis.
Perusahaan juga meningkatkan kapasitas sumber daya manusia untuk mendukung ekspansi tersebut. Rencana perekrutan 150 pegawai baru difokuskan pada bidang teknologi, pengembangan produk, analisis data, dan manajemen risiko.
Langkah ini diharapkan memperkuat daya saing Tether di tengah pertumbuhan bisnis yang semakin kompleks.
Penguatan Manajemen dan Sentralisasi Operasi
Seiring ekspansi bisnis, Tether juga melakukan pembenahan internal. Perusahaan menunjuk Simon McWilliams sebagai Chief Financial Officer (CFO) untuk memperkuat tata kelola dan sistem keuangan. Di bawah kepemimpinannya, fungsi keuangan dan operasional mulai disentralisasi di London.
Sentralisasi ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan dana, koordinasi antarunit bisnis, serta pengawasan terhadap portofolio investasi yang semakin luas. Dengan struktur baru tersebut, manajemen berharap dapat mempercepat pengambilan keputusan strategis dan memperkuat posisi perusahaan di pasar global.
Selain restrukturisasi manajemen, Tether juga membangun sistem pelaporan internal yang lebih terintegrasi. Langkah ini dinilai penting mengingat skala bisnis perusahaan yang terus membesar dan mencakup berbagai sektor non-kripto.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



