TD Cowen: Aset On-Chain Berpotensi Capai US$100 Triliun pada 2030

Lembaga keuangan TD Cowen memperkirakan nilai total aset yang beroperasi di jaringan blockchain atau on-chain capital dapat menembus US$100 triliun pada tahun 2030, meningkat tajam dari sekitar US$4,6 triliun saat ini.

Prediksi tersebut disampaikan melalui laporan riset terbaru yang dikutip oleh The Block, di tengah pesatnya adopsi tokenisasi aset tradisional oleh lembaga keuangan global.

Menurut laporan itu, TD Cowen menilai bahwa pertumbuhan aset on-chain akan dipicu oleh kombinasi tiga faktor utama, yakni percepatan adopsi institusional, perkembangan regulasi yang lebih jelas dan perluasan tokenisasi terhadap instrumen keuangan tradisional seperti obligasi, deposito, saham dan properti.

Bank dan manajer aset besar di AS serta Eropa disebut mulai menjalankan uji coba sistem keuangan berbasis blockchain yang memungkinkan transaksi diselesaikan secara langsung dan otomatis melalui kontrak pintar.

IKLAN
Chat via WhatsApp

TD Cowen menyebut bahwa momentum adopsi kebijakan digital saat ini bahkan “berkembang lebih cepat dari ekspektasi dua tahun lalu.” Laporan itu menilai, tren global menuju tokenisasi aset nyata akan menjadi katalis utama bagi lonjakan nilai modal on-chain dalam lima tahun mendatang.

BACA JUGA:  Citi Siap Hadirkan Kustodi Bitcoin Tingkat Institusional

Adopsi Institusional dan Peran Tokenisasi Aset

Dalam laporan tersebut, Cowen mengungkap bahwa sejumlah institusi besar sudah mempersiapkan diri menghadapi gelombang digitalisasi keuangan.

BNY Mellon dikabarkan tengah mengembangkan proyek tokenisasi deposito perbankan, sementara BlackRock mengevaluasi tokenisasi dana investasi yang berbasis pada aset dunia nyata (RWA).

Langkah serupa juga terlihat di Inggris, di mana pemerintah berencana menunjuk “digital markets champion” untuk mengoordinasikan program tokenisasi di pasar keuangan wholesale.

Selain itu, survei internal yang dikutip Cowen menunjukkan bahwa lebih dari separuh lembaga keuangan global memperkirakan 10 hingga 24 persen portofolio mereka akan ditokenisasi pada tahun 2030, sedangkan eksposur terhadap aset digital diperkirakan akan berlipat ganda dalam tiga tahun ke depan.

Aset digital seperti Ether yang di-stake juga dinilai memainkan peran penting sebagai sumber yield baru dalam pembentukan modal on-chain.

Laporan tersebut menegaskan bahwa apabila para pelaku industri dapat menyepakati satu standar teknis bersama untuk tokenisasi, maka transisi dari proyek percontohan menuju penerapan komersial berskala besar dapat terjadi lebih cepat dari perkiraan.

BACA JUGA:  Bos CFX Soroti Rendahnya Literasi Kripto di Kalangan Generasi Muda

“Jika standar protokol bersama tercapai, titik infleksi menuju adopsi massal bisa datang lebih cepat dari yang dibayangkan,” tulis analis TD Cowen dalam laporan itu.

Tantangan Regulasi dan Realitas Pasar

Meski demikian, target US$100 triliun yang diproyeksikan TD Cowen dinilai sangat ambisius dan berpotensi sulit dicapai dalam jangka waktu lima tahun.

Lonjakan nilai dari US$4,6 triliun ke US$100 triliun membutuhkan pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) yang luar biasa tinggi, di tengah masih terbatasnya infrastruktur dan kepastian hukum untuk aset digital di berbagai negara.

Sejumlah analis independen menilai bahwa proyeksi tersebut bisa termasuk kategori “skenario optimistis ekstrem”. Beberapa lembaga riset, seperti Boston Consulting Group (BCG) dan ADDX, sebelumnya memperkirakan nilai tokenisasi aset global pada 2030 hanya berkisar US$16 triliun, jauh di bawah proyeksi Cowen. Sementara riset Cointelegraph Research memperkirakan nilai pasar RWA yang realistis di kisaran US$1,3 triliun, berdasarkan pertumbuhan tahunan sekitar 120 persen.

BACA JUGA:  Hacker Bobol Bank Jambi, Rp19 Miliar Dana Berakhir di Kripto

Selain faktor regulasi, tantangan lain mencakup keamanan smart contract, interoperabilitas antar-blockchain, dan kesiapan sistem keuangan tradisional dalam beradaptasi dengan model aset digital. Keberhasilan tokenisasi di tingkat global juga bergantung pada kepercayaan publik dan institusi terhadap sistem penyimpanan data terdistribusi yang masih relatif baru bagi sebagian besar pelaku pasar.

Kendati banyak pihak menilai prediksi TD Cowen terlalu ambisius, lembaga tersebut memandangnya sebagai representasi dari perubahan paradigma ekonomi global. Cowen menilai tokenisasi bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi fondasi baru yang akan memperluas akses terhadap pasar keuangan dunia, mempercepat penyelesaian transaksi, serta meningkatkan transparansi dan efisiensi sistem perbankan internasional.

Dengan semakin banyaknya lembaga keuangan yang mengadopsi teknologi blockchain dan meningkatnya dukungan kebijakan dari pemerintah di berbagai negara, visi US$100 triliun ini mungkin masih jauh, tetapi tidak sepenuhnya mustahil.

Dunia keuangan kini berada di titik perubahan besar di mana aset tradisional dan digital perlahan mulai menyatu di atas jaringan blockchain, menandai babak baru dalam sejarah transformasi sistem keuangan global. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait