Tekanan jual terhadap Bitcoin mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan setelah sebelumnya mencapai fase agresif pada awal Februari.
Analis on-chain Crazzyblockk di CryptoQuant melaporkan pada Kamis (12/2/2026) bahwa indikator 7-day Net Taker Flow di Binance berangsur pulih dari posisi ekstrem negatif dan kini berbalik ke wilayah positif.

Pergeseran ini terjadi ketika harga BTC bergerak stabil di kisaran pertengahan US$60.000, memicu spekulasi bahwa fase distribusi mungkin mulai mereda.
Dalam analisisnya, Crazzyblockk menjelaskan bahwa dinamika tersebut perlu dipahami dalam konteks siklus pasar kripto yang lebih luas. Pada awal Februari, Binance mencatat akumulasi net selling hampir minus US$4,9 miliar, mencerminkan dominasi order jual agresif.

Namun dalam beberapa pekan terakhir, arus tersebut pulih hingga sekitar positif US$0,32 miliar, disertai pergeseran rasio sentimen dari minus 3 persen ke wilayah positif.
“Sentimen pasar Bitcoin mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi awal jika dilihat dalam konteks makro siklus kripto,” ungkap Crazzyblockk.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa dalam fase bearish, net taker flow yang terus berada di zona negatif biasanya selaras dengan tahap distribusi akhir dalam siklus Bitcoin. Ketika tekanan jual mulai terkompresi dan arus kembali positif, kondisi tersebut kerap menjadi indikasi awal stabilisasi tren sebelum pasar memasuki fase berikutnya.
Sinyal Stabilisasi di Tengah Extreme Fear
Pemulihan arus beli ini berlangsung di tengah kondisi psikologis pasar yang masih tertekan. Indeks Fear and Greed kripto dilaporkan menyentuh 5 poin, yang menempatkan sentimen pada level Extreme Fear.

Situasi tersebut mencerminkan kehati-hatian tinggi pelaku pasar, meski dalam sejumlah siklus sebelumnya fase extreme fear kerap bertepatan dengan periode konsolidasi atau awal pembalikan arah.
Di sisi lain, analisis teknikal dari Bitcoinsensus menunjukkan Bitcoin tengah membentuk pola hidden bullish divergence pada time frame mingguan.

Harga Bitcoin tercatat mencetak higher low, sementara indikator RSI membentuk lower low, yang secara teknis diartikan sebagai sinyal bullish tersembunyi. Pola ini dinilai mengindikasikan potensi penguatan harga apabila tekanan jual terus berkurang dan permintaan spot meningkat secara bertahap.
Di sisi lain, analis Cobra Vanguard mengungkapkan bahwa pergerakan Bitcoin saat ini masih berada di dalam descending channel sekaligus membentuk pola descending wedge.

Ia menilai bahwa jika pola wedge tersebut ditembus ke bawah, harga berpotensi turun menuju area US$65.000, yang diperkirakan dapat menjadi zona support sebelum kemungkinan terjadi pemulihan.
Sebaliknya, apabila BTC berhasil menembus batas atas channel, momentum bullish dapat terbuka dengan peluang kenaikan harga melampaui level US$70.000.
Bitcoin dan Ujian Statusnya di Portofolio Global
QCP Group turut menyoroti dinamika terkini pasar setelah Bitcoin menyentuh kisaran US$67.000.
Dalam laporan terbarunya, mereka menyoroti pertanyaan utama pelaku pasar yang kembali mengemuka, yakni apakah BTC semakin berevolusi menjadi penyimpan nilai jangka panjang, atau justru masih diperdagangkan layaknya aset berisiko tinggi (high-beta) dalam portofolio global.
Dalam program Wealth Tracker di MONEY FM 89.3, Hongbin Jeong mewawancarai Head of Client Coverage QCP, Elbert Iswara, untuk membahas faktor yang mendorong volatilitas serta implikasinya bagi investor.
Dari pembahasan tersebut, disimpulkan bahwa arah pergerakan saat ini sangat dipengaruhi oleh kondisi makro global, sementara arus spesifik kripto dan penggunaan leverage cenderung memperbesar pergerakan harga.
QCP juga mencatat bahwa korelasi Bitcoin dengan pasar saham biasanya meningkat dalam fase risk-off dan cenderung mereda ketika kondisi mulai stabil.
Tidak hanya itu, sejumlah institusi keuangan global mulai menyesuaikan proyeksi mereka terhadap Bitcoin seiring meningkatnya ketidakpastian makroekonomi.
Menurut laporan Bloomberg, Standard Chartered telah menurunkan target harga Bitcoin untuk tahun 2026 menjadi US$100.000. Penyesuaian ini didasarkan pada meningkatnya risiko ekonomi global serta melambatnya permintaan dari perusahaan yang sebelumnya aktif menempatkan Bitcoin sebagai bagian dari cadangan aset kelolaan mereka.
Meski demikian, bank tersebut tetap mempertahankan pandangan jangka panjang yang optimistis, dengan proyeksi Bitcoin berpotensi mencapai US$500.000 pada tahun 2030.
Namun, Standard Chartered menekankan bahwa momentum pasar saat ini semakin bergantung pada dukungan arus dana ETF, bukan semata-mata permintaan organik dari sektor korporasi.
Kondisi ini mendorong pandangan yang lebih hati-hati terhadap potensi pertumbuhan Bitcoin dalam dua tahun ke depan, terutama jika dukungan likuiditas institusional melemah atau kondisi makro global memburuk.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



