Ternyata, 16 Blockchain Ini Bisa Bekukan Uang Kamu Tanpa Kamu Sadar!

Tim riset Lazarus Security Lab dari Bybit merilis laporan terbaru yang mengungkap bahwa 16 dari 166 jaringan blockchain yang diteliti memiliki fitur pembekuan dana yang tertanam di dalam sistemnya.

Selain itu, 19 jaringan lainnya disebut dapat menambahkan fitur serupa hanya dengan perubahan kecil pada protokol, menimbulkan pertanyaan baru tentang sejauh mana desentralisasi benar-benar diterapkan dalam ekosistem blockchain global.

Laporan tersebut menyoroti adanya mekanisme internal yang memungkinkan pengembang, validator, atau otoritas tertentu untuk menghentikan pergerakan aset di jaringan.

Temuan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan komunitas kripto karena bertentangan dengan prinsip dasar blockchain yang seharusnya bersifat trustless dan bebas dari intervensi pihak ketiga.

IKLAN
Chat via WhatsApp

“Blockchain dibangun berdasarkan prinsip desentralisasi, namun penelitian kami menunjukkan bahwa banyak jaringan sedang mengembangkan mekanisme keamanan pragmatis untuk merespons ancaman dengan cepat,” ujar Kepala Pengendalian Risiko dan Keamanan Grup di Bybit, David Zong, dalam siaran pers.

Tiga Mekanisme Pembekuan Dana di Blockchain

Dalam laporannya, Lazarus Security Lab menjelaskan tiga kategori utama mekanisme pembekuan yang ditemukan di sejumlah jaringan blockchain besar.

BACA JUGA:  Tether Gaspol ke Ekonomi Kreator dengan Investasi Terbarunya

Pertama adalah hard-coded freezing, yaitu logika pembekuan yang dimasukkan langsung ke dalam kode dasar blockchain. Contohnya, BNB Chain dan VeChain diketahui memiliki sistem bawaan yang memungkinkan otoritas tertentu untuk memblokir transaksi atau alamat tertentu.

Kedua adalah configuration-based freezing, di mana pembekuan dilakukan melalui pengaturan pada file konfigurasi atau oleh validator.

Mekanisme ini ditemukan di Sui dan Aptos, yang memberikan kendali kepada entitas terpilih untuk mengatur ulang atau menghentikan aktivitas akun tertentu bila terdeteksi aktivitas mencurigakan.

Kategori ketiga adalah on-chain contract freezing, yaitu eksekusi pembekuan dana melalui kontrak pintar yang dijalankan langsung di jaringan. HECO Chain menjadi salah satu contoh jaringan yang memiliki kemampuan ini melalui skrip on-chain yang dapat dipanggil oleh otoritas jaringan.

Beberapa insiden nyata juga disebutkan dalam laporan. Pada jaringan Sui, misalnya, otoritas berhasil membekukan aset senilai sekitar US$162 juta setelah peretasan terhadap bursa terdesentralisasi Cetus.

BACA JUGA:  Keren! Blockchain Bawa Mahasiswa RI Raih Penghargaan Internasional

Di sisi lain, BNB Chain menggunakan daftar hitam (blacklist) yang tertanam dalam kode setelah serangan besar terhadap bridge lintas jaringan senilai US$570 juta. VeChain pun pernah mengambil langkah serupa pada 2019 dengan membekukan token senilai US$6,6 juta untuk mencegah distribusi hasil peretasan.

Desentralisasi Dipertanyakan

Temuan Bybit ini membuka kembali perdebatan tentang makna sejati dari desentralisasi dalam blockchain.

Meskipun fitur pembekuan dana dianggap berguna untuk mitigasi risiko dan perlindungan pengguna, mekanisme tersebut juga menunjukkan adanya kontrol terpusat di tangan pengembang atau validator tertentu.

Bagi sebagian kalangan, hal ini dianggap sebagai bentuk kompromi terhadap prinsip dasar blockchain yang seharusnya tidak memerlukan otoritas tunggal.

Di sisi lain, pengembang berpendapat bahwa langkah tersebut penting sebagai tindakan darurat untuk melindungi jaringan dari ancaman kejahatan siber yang semakin kompleks.

BACA JUGA:  Konflik Memanas, Kripto Jadi Pelarian Baru Warga Iran?

Lazarus Security Lab menegaskan bahwa banyak jaringan kini tengah mencari keseimbangan antara keamanan dan kebebasan pengguna.

Dengan adanya kemampuan pembekuan, ekosistem blockchain bisa merespons insiden dengan cepat, namun transparansi tentang siapa yang memiliki wewenang untuk mengaktifkan fitur tersebut menjadi hal yang mutlak diperlukan.

Bagi pengguna dan investor, laporan ini menjadi pengingat penting bahwa tidak semua blockchain benar-benar bebas dari campur tangan pihak tertentu.

Saat memilih jaringan untuk berinvestasi atau bertransaksi, aspek seperti biaya rendah dan kecepatan transaksi kini perlu dilengkapi dengan pertimbangan mengenai governance, otoritas jaringan dan hak kendali atas aset digital.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait